MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 88


__ADS_3

Sudah dua Minggu lebih Lovely tinggal di sini. Sepertinya dia tidak bersungguh-sungguh untuk belajar. Nyatanya dia sering menyelinap saat Arka melakukan zoom meeting atau saat seharusnya dia mengerjakan sesuatu hanya untuk nyinyir.


"Memang saat ini sepertinya Arka mengabaikan ku. Tapi you jangan merasa di atas angin," kata Lovely siang itu saat hanya ada kami berdua di ruang tengah.


"Atas dasar apa aku harus merasa di atas angin? Sepertinya malah masuk angin rasanya mual lihat kamu di sini," kataku tanpa memikirkan perasaannya lagi.


"Iya, kalau you segalanya nggak mungkin ada yang ditutupi dari you," kata Lovely meremehkan ku.


Di saat bersamaan Arka datang dan mengajakku pergi. Tentu saja aku mengikuti Arka yang ternyata mengajak meninjau salah satu lokasi tempat pengrajin batik tulis. Aku sangat antusias dengan semua ini. Mereka tidak hanya membuat motif batik kontemporer tetapi juga motif sesuai pesanan pelanggan. Kami sekaligus menyatakan keinginan kami untuk bekerjasama dimana mereka akan menjadi subcon dari produksi butikku nantinya. Lumayan lama kami di sana, setelah sepakat untuk pertemuan berikutnya, kamipun bergegas pulang karena aku harus kursus dengan Mbak Maura.


Saat perjalanan pulang, aku menceritakan pada Arka obrolan singkat ku dengan Lovely tadi sebelum kami oergi. Aku menanyakan pada Arka mengenai maksud perkataan Lovely, dia hanya menyimpulkan kalau itu hanya usaha Lovely untuk memperkeruh suasana.


"Kalau menurutku perlu, pasti aku bilang ke kamu. Walaupun kita berawal dari perjodohan tapi dari awal aku hanya ingin menjagamu dan memastikan kamu baik-baik saja dan bahagia selalu" kata Arka sambil tersenyum dan menepuk puncak kepalaku.


"Mosok?" Godaku dengan gaya Rayi.


"Ya, nggak perlu dijelaskan, kamu sendiri bisa merasakannya kok yank," kata Arka dengan nada bicara yang tidak pernah gagal membuatku terpesona


"Sweet banget," pujiku tulis


"Jadi? Nggak mau di kiss atau dipeluk gitu?" tanya Arka mulai menggodaku.


"Paan sih, mas? Jadi genit nggak jelas gitu," kataku tersipu sambil melihat keluar jendela, nggak kuat kalau terus menatapnya.

__ADS_1


...****************...


Saat Mbak Maura sudah pulang dan aku mencoba kembali semua yang sudah aku pelajari. Lovely masuk ke ruang jahit dan tidak berhenti menghujat dan mencela kegiatanku. Katanya aku ini memang level rendahan, nggak berkelas, memang layak hidup dengan standar UMK karena aku mengejar ketrampilan dasar layaknya anak SMA yang baru lulus dan tidak punya skill apapun. Nggak ada pantes-pantesnya aku menjadi bagian dari keluarga Pak Surya. Beda dengan dia yang saat ini belajar menjadi atasan, belajar bisnis dengan CEO dan menurutnya jarakku dengan dia bagai langit dan dasar laut terdalam. Mulutnya Lovely kadang bikin panas telinga. Padahal kalau aku perhatikan lebih lanjut, beberapa hari dia berada di rumah ini, tidak terlihat dia belajar apapun selain berkeliling dan mencari-cari kesempatan untuk merendahkan ku. Sebenarnya, kalau aku mau aku bisa saja meminta Arka untuk mengusirnya, tapi untuk apa berbuat seperti itu, sama saja menunjukkan kalau aku takut untuk bersaing dengannya. Anak kemarin sore yang belum mengenal hidup. Tahu apa dia tentang dunia pekerjaan? Dia hanya beruntung lahir dari keluarga berada tapi aku jauhlebih beruntung karena terlatih untuk menjadi wanita tangguh.


"You dengerin I nggak sih?" teriak Lovely tiba-tiba dan itu sangat dekat denganku.


"Nggak, ada apa sih?" tanyaku yang memang dari tadi bergumul dengan otakku sendiri.


"I said, I nggak yakin Arka mencintai you. Why? Karena kalian itu menikah bukan karena Arka mau, but papanya yang mau," kata Lovely mulai memanasi ku lagi.


"Oh iya, kan papa yang mau. Kenapa nggak papa aja yang nikah sama aku ya? Kasian Arka," kataku sekenanya sambil membuat pola daster untuk Arka.


"Are you crazy? Om Surya dan Tante Gendis itu harmonis. Level you jauh di bawah Tante Gendis," kata Lovely dengan nada sangat merendahkan.


Semenjak Lovely datang, rumah ini rasanya seperti tanpa jendela, tanpa ventilasi udara, tanpa AC dan entahlah tanpa apapun yang membuat suasana menjadi panas. Dia itu seolah membawa hawa siluman yang harus segera dibasmi karena sungguh sangat meresahkan. Aku kembali ke kamar, tempat ternyaman ku di rumah ini karena sekalipun, Lovely tidak pernah menginjakkan kaki di kamar ini. Ku hempaskan tubuhku ke atas tempat tidur dan ku pejamkan mataku. Moodku untuk berkarya rasanya benar-benar rusak oleh Lovely.


Dengan cepat aku membuka mataku dan bergegas duduk saat aku merasakan kehadiran seseorang di dalam kamar ini. Aku bernafas lega saat tahu ternyata Arka yang masuk dan langsung duduk.


"Ku kira tadi kamu kebelet pup, jalannya cepat banget," kata Arka sambil tersenyum.


"Aku takut dikejar siluman kadal," kataku sekenanya namun mampu membuat Arka tersenyum.


"Kamu sabar ya, dua tiga hari lagi kerjaan bisa aku tinggal, jadi kita bisa heeling," kata Arka menghiburku.

__ADS_1


"Oh ya? Mau ke mana mas?" tanyaku bersemangat.


"Kamu mau ke mana?" Arka malah balik bertanya padaku.


"Baru nggak pingin ke mana-mana. Aku cuma kangen ibu," kataku sambil tertunduk sedih.


"Ya udah, kita pulang ke desa ke rumah ibu. Aku juga udah kangen pingin ngarit sama jalan-jalan di sawah," kata Arka sambil mengacak-acak poniku.


"Bener mas?" aku memastikan dengan penuh semangat. "Tapi, Lovely?" tanyaku dengan nada menggantung.


"Ya, biar dia di sini sama Mbok Welas. Diakan cuma minta diizinin tinggal di rumah ini. Jadi nggak boleh ikut dong," kata Arka sambil tertawa.


"Syukurlah," spontan kata-kata itu keluar dari mulutku.


"Lumayanlah, untuk beberapa hari kita nggak perlu bahas Lovely. Kasian kamu, pasti pusing dan makan hati terus," kata Arka sambil memainkan ujung rambutku.


Lega rasanya, walaupun aku tidak tahu apalagi kesepakatan antara Arka dan Lovely, aku yakin pasti Arka sudah memperhitungkan agar Lovely tidak terlalu menggangu aku dan Mbok Welas. Nyatanya Lovely tidak bisa protes saat Mbok Welas selalu berada di ruang kerja Arka saat Lovely juga berada di sana. Mbok Welas tidak pernah memberi kesempatan untuk mereka berduaan. Menurutku Mbok Welas pahlawan sejati karena demi menyingkirkan Lovely, Mbok Welas rela mengorbankan acara infotainment, sinetron dan FTV kesayangannya. Arka juga tidak pernah mengizinkan Mbok Welas melayani Lovely selain untuk urusan makan. Urusan pakaian, tempat tidur, alat makan semua harus dibereskan sendiri apalagi kalau Lovely sampai berani menyuruh Mbok Welas melakukan sesuatu untuknya, maka jawabnya adalah bye-bye Lovely.


"Nggak mau di peluk gitu sebagai tanda terima kasih. Malah ditinggal ngelamun," kata Arka sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Paan sih mas? Mas dari tadi genit," kataku sambil iseng mendorong kepalanya.


"Aku candu dipeluk dan memelukmu," kata Arka berusaha namun ku sambut dengan tawa.

__ADS_1


Akhirnya dia melingkarkan tangan di pinggangku dan meletakkan kepalanya di bahuku. Pelan ku usap pipinya. Ada sedikit penyesalan, kenapa dulu aku tidak langsung saja bertemu dengannya dan jatuh cinta dengannya? Kenapa pernikahan kami harus karena perjodohan bukan karena dari awal ada cinta seperti ini? Ah, tidak ada yang perlu disesali karena akhirnya kami selalu bersama. Dan aku sudah tidak sabar menunggu saat kami pulang ke rumah ibu.


__ADS_2