MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 70


__ADS_3

Akhirnya aku bangun dan minum jamu. Tampak tubuh Arka berguncang seperti menahan tawa. Aku mendekat dan melemparinya dengan bantal dan tawa Arka malah pecah.


"Kenapa mas ngerjain aku?" tanyaku gemes sambil memukulinya dengan bantal.


"Habisnya kamu nggak berbakat tipu-tipu. Mana ada orang memata-matai terus lari gedebukan kayak tadi?" kata Arka terus tertawa


Aku lalu merebahkan tubuhku di sampingnya dan memunggunginya. Malu kalau harus berhadapan dengannya. Tangan Arka kemudian memeluk pinggangku dan dagunya ditempelkan di puncak kepalaku. Punggungku terasa hangat dan nyaman.


"Yank, besok aku sama papa mau ke kantor pusat. kamu ikut ya," bisik Arka.


"Aku di rumah aja ya sama Mbok Welas, capek ku belum hilang ini," tolakku halus.


"Kalau aku kangen gimana?" tanya Arka merengek manja.


"Biar tahu kalau rindu itu berat, seperti kata Dilan." kataku sambil cekikikan.


Arka semakin erat memelukku dan terdengar dengkuran halusnya. Aku iri dengannya yang sangat gampang untuk tidur. Bukannya aku tidak mau menemaninya hanya saja aku takut kalau di sana akan bertemu lagi dengan Awan dan memicu masalah lagi di antara kami. Selama ini tiap ada pertengkaran di antara kami pasti karena Awan pemicunya. Sebaiknya aku hindari dulu supaya hidupku baik-baik saja. Aku juga tidak harus mengikuti kemanapun Arka pergi. Aku sudah berusaha berdamai dengan diriku sendiri dan berharap rumah tanggaku dan Arka akan baik-baik saja.


...****************...


Aku tidak mempersiapkan apa-apa untuk dibawa Mas Arka karena semua kebutuhannya ada di apartemen. Ibu dan Bu Gendis akan pulang ke desa dengan menaiki kereta sedangkan Pak Surya dan Arka langsung ke kantor. Rumah menjadi sepi, hanya ada aku dan Mbok Welas yang suka menonton FTV dan sinetron. Untung saja selama ini aku aku terbiasa menemani ibu atau Rayi jadi sedikit sebanyak tahu seluk beluk dunia mereka yang menurutkan sangat membosankan dan tidak masuk akal.


"Gimana nduk ? Masak belum jatuh cinta juga sama dik Arka?" pertanyaan Bu Welas saat iklan ditayangkan membuatku bingung harus menjawab apa


"Mas Arka baik mbok," hanya itu yang keluar dari mulutku.

__ADS_1


"Terus kamu mau menolak Dik Arka dengan alasan dia terlalu baik untukmu, persis seperti di FTV tadi?" kata Mbok Welas yang membuat mataku terbelalak.


"Nggak gitu mbok, kalau aku nolak Mas Arka yang nggak mungkin aku menikah sama dia" potongku dan spontan ku acak-acak poniku.


"Oh, mbok tau, kamu mau pisah sama Arka karena akhirnya kamu sadar kalau Arka bukan tipemu," tebak Mbok Welas lagi salah kaprah.


Aku memilih diam dan mencakar-cakar lantai tanpa sepengetahuan Mbok Welas. Susah juga kadang untuk menjadi satu frekuensi dengan si mbok yang jadi korban sinetron dan FTV. Kita bahasnya apa, dia nyambungnya ke mana. Selalu disangkut pautkan dengan kisah di televisi. Kata-katanya itu lho, kurang orisinil.


"Mungkin lelaki itu nggak sehebat dik Arka, tapi hanya karena kamu lebih dulu mencintainya. Dik Arka datang tak tepat waktu aja," kata Mbok Welas kali ini sangat mengena di hati.


"Lelaki siapa Mbok?" tanyaku pura-pura goblok


"Ya, anak londo itu. Si Awan. Mbok pernah ketemu, kan dia dulu sering main ke rumah Dik Arka. Seumur hidup baru kali ini Dik Arka punya teman akrab yang bisa mbok hapalin," kata Mbok Welas yang membuatku tidak bisa menghindar lagi.


"Dia itu masa laluku mbok, takdir masa depanku sama Mas Arka," kataku sambil berusaha menenangkan diri sendiri.


Kalau ku tarik mundur, Awan memang sering bercerita tentang Arka. Mereka berdua pergi bersama, wisata kuliner berdua, karaokean, hang out bahkan Awan sering mengantar Arka pulang dan menginap di rumah Arka. Dan Arka yang pasti berusaha maksimal tidur sebelum jam sepuluh malam dan ke mana-mana membawa botol air mineral. Awan juga bercerita tentang ibunya Arka yang maha cerewet serta emosian saat menonton sinetron. Aku tersenyum kecil, mungkin yang dianggap ibunya adalah Mbok Welas yang memang memperlakukan Arka seperti anaknya sendiri. Namun Awan enggan mempertemukan aku dengan Arka dengan alasan takut kalau aku kepincut dengan pesona Arka.


"Mbok kan tinggal di rumah Mas Arka, kenapa pas aku ke sana Mbok nggak ada di sana?" tanyaku seperti menyusun puzzle.


"Pas Dik Arka udah mulai dekat sama kamu, mbok disuruh pensiun. Katanya udah ada yang mau ngurusin dia. Tapi mbok nggak yakin sama kamu, akhirnya mbok disuruh ngurusin patemen," kata Mbok Welas jelas namun ujungnya membuatku bingung


"Ngurus apa Mbok?" tanyaku minta penjelasan.


"Patemen," ulang Mbok Welas

__ADS_1


"Oh... Apartemen?" ulangku sambil tersenyum


"Ilat jowo, nduk. Susah bilang itu. Yang penting kamu ngertilah," kata Mbok Welas sambil tertawa ngakak.


Kemudian Mbok Welas mulai fokus lagi dengan televisi yang ternyata sudah berganti dengan acara gosip. Ada kertas dan pulpen di meja, lalu aku mulai membuat sketsa baju yang cantik, terkesan casual namun girly. Daripada bingung mau berbuat apa. Sejak menikah dan tidak bekerja lagi aku sering merasa jenuh dan bosan, tidak ada yang bisa ku kerjakan selain duduk menemani Mbok Welas.


"Makanya, kamu harus berusaha secepatnya punya anak, biar nggak bosan," celetuk Mbok Welas tiba-tiba.


"Mbok ini kayak nggak paham aja," kataku berharap Mbok Welas tahu apa yang sedang ku alami.


"Orang zaman dulu nikahnya juga dijodohin, sebagai perempuan kita harus bisa pasrah dan ikhlas. Nanti lama-lama juga akan saling mencintai. Witing tresno jalaran soko kulino," kata Mbok Welas yang kemudian berdiri dan meninggalkanku.


Memang Mbok Welas terkesan kolot, tapi setiap tutur yang keluar dari mulutnya mengandung makna dan nasehat yang sangat bermanfaat.


Aku kemudian ke kamar dan mengambil ponselku, dan menelepon Arka. Aku berharap aku bisa segera terjerumus dalam pusaran cinta Arka.


"Yank, aku kangen," kata Arka begitu menjawab teleponku.


"Baru aja pergi, masak udah kangen?" tanyaku menggodanya.


"Nanti aku kirim sopir buat jemput kamu ya," kata Arka.


"Ya terserah mas mau gimana," kataku pasrah dan berusaha ikhlas untuk seperti nasehat Mbok Welas .


"Gimana Ka? Bisa dimulai meeting nya?" suara seorang laki-laki yang tidak asing masuk di saluran telepon.

__ADS_1


"Udah dulu ya yank, aku harus meeting. Kamu siap-siap. Besok pagi jemputan datang. Miss you," kata Arka kemudian mengakhiri panggilan.


Apa aku nggak salah dengar? Apa mungkin itu benar-benar Awan? Kalau Awan berada di sana, kenapa Arka memintaku untuk menyusulnya? Semoga saja aku salah dengar dan itu bukan Awan


__ADS_2