
"Maafin Lovely kak," kata Lovely dengan air mata berlinang.
"Apa yang harus aku maafin?" tanyaku pelan saat aku sudah mulai bisa menguasai diri.
Arka kemudian tertawa. Memang benar dialah penjahat sekaligus dalang dari semua ini. Lovely memang ke sini untuk magang tapi bukan urusan bisnis. Lovely sejatinya adalah mahasiswa urusan performing arts dan dia berusaha menjiwai peran antagonis sebagai pelakor. Arka yang entah kenapa memberi ide untuk berperan di dunia nyata. Awalnya Lovely menolak karena merasa sungkan padaku tapi Arka dengan segala kemampuannya mampu meyakinkan Lovely bahwa semua akan baik-baik saja.
Arka mengatur semuanya mulai dari kedatangan Lovely ke sini, akses CCTV ruang kerjanya sampai dengan isu yang beredar tentang rentaknya hubungan rumah tangga kami karena sang mantan. Tentu saja Arka punya kontak ponsel semua karyawan sehingga dengan mudah dia menyebarkan hoax itu dan dengan cepat menjadi buah bibir. Arka juga meminta Lovely bersikap sok berkuasa di kantor dan genit padanya. Arka kemudian meminta Lovely untuk datang ke rumah ini. Namun Lovely yang baik meminta untuk menempati kamar terkecil di rumah ini dan menolak untuk dilayani oleh Mbok Welas. Yang paling mencengangkan, Mbok Welas juga ternyata terlibat dalam drama karya Arka ini dan berpura-pura membenci Lovely tapi nyatanya mereka sangat kompak dalam segala hal. Lovely juga yang menggunakan ruang jahitku, dia membuat sendiri busana untuk tampil dia acara teater yang akan diikutinya dua bulan lagi. Arka sang sutradara meminta Lovely untuk terus memanasiku namun Lovely mulai tidak tega saat melihatku yang tampak gelisah dan seperti tertekan. Itulah yang mereka bahas tadi di ruang kerja.
"Maafin aku ya yank," kata Arka yang masih mendekapku.
"Kenapa nggak pasang candid camera aja mas, dijadiin konten YouTube biar viral di media sosial," kataku ketus sambil berusaha merenggangkan dekapan Arka.
"Yank, kok jawabnya gitu," kata Arka dengan nada penuh penyesalan.
"Kamu yang aneh, ngapain coba?" aku mulai kesal dan berdiri untuk kembali ke kamar.
Arka menyusulku, kali ini aku benar-benar marah padanya. Aku bahkan tidak ingin menatapnya dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Aku tahu Arka duduk di ujung tempat tidur dan sedikit menjaga jarak dariku. Entah mengapa aku menangis seperti anak kecil yang berharap bisa ikut ibunya pergi ke pasar namun ibunya tetap melarang. Perlahan Arka membuka selimut dan menampakkan senyumnya padaku. Dia mendaratkan kecupan lembut di dahiku. Aku tidak habis pikir kenapa Arka bisa bersikap seperti itu.
"Aku hanya ingin tahu, apa kamu sudah mulai mencintaiku tapi kalau aku bertanya pasti kamu bingung menjawabnya," kata Arka sambil membelai pipiku.
"Dengan cara menyakitiku?" balas ku sambil terisak.
__ADS_1
"Nggak gitu yank, kalau kamu cemburu berarti kamu takut kehilangan aku," suara Arka yang lembut nyatanya tidak mampu menenangkanku.
"Terus mas merasa sukses? Rencana mas berhasil?" tanyaku sambil menutup kembali diriku dengan selimut.
Hening, tidak terdengar suara apapun, hanya napasku dan lama kelamaan aku merasa gerah di dalam selimut. Ku buka selimut untuk mengambil napas dan Arka tidak terlihat di sana. Sedikit timbul kekecewaan di dalam diriku. Lama kelamaan aku merasa aneh dengan kemauanku sendiri, saat Arka ada di sini aku sebel dan tidak ingin melihatnya, tapi saat dia tidak terlihat aku malah bingung mencarinya. Aku kemudian duduk, menghapus air mata yang tersisa. Aku ke kamar mandi, menguyur kepalaku dengan air biar terasa dingin dan biar air menghapus air mataku.
...****************...
"Kak Kasih nyari Kak Arka?" tanya Lovely saat aku berpapasan dengannya ketika menuju ke ruang jahit.
"Nggak, aku mau ke ruang jahit," jawabku sambil berusaha tersenyum.
"Aku ikut ya kak," pinta Lovely dan ku jawab dengan anggukan.
"Kak,mau dong dibuatin desain baju untukku nggak? Model princess tapi yang basic nya kebaya. Kalau pakai kebaya kesannya anggun gitu kan?" kata Lovely sambil melihat-lihat hasil desain yang akan ku kirim ke Keysha.
"Yang ini aja, nanti kebayanya pakai payet motif salur supaya terkesan kurus, tinggi dan langsing, terus dada dibelek supaya leher terkesan panjang dan jenjang. Nanti ditambahi rok A line ngembang berekor pasti bagus dan cocok dan bisa di lepas pasang," kataku sambil menunjukkan kebaya dengan model rok duyung.
Aku kemudian menggambarkan desain yang ku maksud. Sebenarnya ini adalah baju pengantin pilihanku, yang bisa dua model dengan konsep rok lepas pasang. Tapi walaupun akhirnya berjalan dengan baik, pernikahan ini memang bukan pernikahan impianku. Bersanding dengan lelaki yang walaupun baik namun tidak aku cintai. Namun saat benih cinta mulai tumbuh, dia malah berulah berusaha melakukan pembuktian yang menurutku ini gila dan sekarang dia menghilang entah ke mana
"Iih..cute banget, kesannya kayak wedding dress gitu?" kata Lovely sambil menopang dagu dengan kedua tangannya setelah aku selesai menggambar.
__ADS_1
"Iya, tapi aku nggak bisa bikin polanya," kataku sambil menggaruk kepala.
"Aku bisa kak, nanti pas akhir bisa direvisi," kata Lovely penuh semangat
Kami sepakat untuk belanja bahan besok dan mulai eksekusi. Aku juga meminta bantuan pada Mbak Maura untuk karena menurutku Mbak Maura lebih lihai dalam hal ini.
...****************...
Arka baru pulang saat hampir jam sembilan malam, aku pura-pura jual mahal dan tidak mau menyapanya dan seperti biasa duduk di depan TV menemani Mbok Welas namun kali ini bersama Lovely.
"Mbok ada yang masih ngambek ya?" tanya Arka di depan wajahku.
Sebenarnya aku ingin tertawa melihat ekspresi Arka yang lucu, namun aku berpura-pura tidak peduli dengan fokus melihat TV. Arka menanyakan hal yang sama pada Lovely. Mereka berdua tertawa melihat Arka yang pura-pura bingung dan sialnya aku terpancing dan ikut tertawa juga.
"Love, sepertinya udah capek ngambeknya," kata Arka sambil berlari dan melakukan selebrasi seperti striker yang berhasil mengeksekusi gol ke gawang lawan.
Kami semua semakin tertawa melihat tingkah Arka yang terkesan kekanak-kanakan. Astaga Arka, bagaimana mungkin aku bisa ngambek dalam waktu lama kalau kamu seperti itu. Arka menatapku dengan senyum lega penuh arti. Dia kemudian memelukku dan meminta maaf. Lovely dan Mbok Welas bersorak kegirangan.
"Aku ini lelaki baik-baik, hanya berharap kamu hidup baik-baik dan selalu bahagia," kata Arka yang sudah sering dia ucapkan.
Aku juga berharap bisa bahagia bersama Arka dengan perasaan cinta yang perlahan hadir di dalam hatiku. Dia lelaki baik, bapak tidak mungkin asal-asalan memilihkan pendamping hidup untukku dan ibu juga... ... ...
__ADS_1
Aduh, ibu menginginkan cucu tapi Arka seolah takut berhubungan intim denganku. Kalau bukan karena kehadiran Lovely, lalu kenapa?