
Kami menginap di rumah Arka karena ternyata kamarku dipakai oleh Lisna, sepupuku yang sehari-hari menemani ibu. Dibantu oleh Pakde Marto dan Bude Rini, ibu mengurus semua peninggalan bapak. Hasil panen juga melimpah dan yang paling penting ibu terlihat sehat dan bahagia.
"Kalian nggak pulang? ini sudah malam," kata ibu saat kami masih di rumah.
"Ibu kok ngusir sih?" kataku ketus.
"Bukan ngusir, nduk. Apa kalian nggak capek? Pulang istirahat dulu, besok ke sini lagi. Kan dekat," kata ibu membujukku.
Dengan berat hati ku ikuti perintah ibu, padahal saat ini aku masih kangen sama ibu. Tapi aku selalu senang dengan suasana rumah ini. Suara malam yang sangat menenangkan dan suasana sejuk yang mendamaikan. Ku lihat ke luar jendela, berharap memandang hamparan sawah, tapi ini kan malam, hanya gelap yang tampak dan langit bertabur bintang serta kerlip lampu dari rumah penduduk yang tampak dari kejauhan. Terasa pelukan hangat menjalari punggungku dan nafas yang juga hangat menyentuh leherku.
"Yank, aku ke tempat Rinto bentar ya," pamit Arka sambil mendaratkan ciuman di pipiku.
"Iya," kataku sambil mengusap punggung tangannya.
"Kamu sendirian di rumah nggak apa-apa kan?" tanya Arka yang membuat detak jantungku melonjak.
"Lho? Nggak ada siapa-siapa di sini?" aku mulai panik.
"Ya cuma kita, biasanya mama yang selalu di rumah, tapi ini kan mama baru ikut papa," kata Arka yang membuatku semakin panik.
__ADS_1
Masak iya aku di rumah sebesar ini sendirian? Mana lokasinya di tengah sawah dan jauh dari tetangga pula. Aku meminta untuk diperbolehkan ikut namun Arka menolak. Arka malah berniat membatalkan untuk pergi jika aku ikut, katanya nggak enak sama Rinto karena ini urusan lelaki malah dia datang membawa istri. Akhirnya aku mengalah dan memberanikan diri. Aku hanya menunggu di kamar sambil melihat sketsa wajah hasil karya Arka yang ditempelkan di dinding dan mataku terfokus pada satu wajah imut yang tampak tidak asing. Ku picingkan mata supaya bisa melihat lebih detail dan seketika jantungku berdetak kencang, sketsa gadis kecil yang lucu dengan poni menutup alis dan rambut dikucir dua itu adalah Lovely. Di bawahnya ada tulisan the loveliest Lovely. Namun lukisan itu menunjukkan gadis kecil berusia sekitar sebelas sampai dua belas tahun. Sebenarnya sudah berapa lama mereka saling kenal? Kalau Lovely tidak berarti dalam hidup Arka, kenapa ada sketsa wajahnya di sini? Ku beranikan diri untuk mengambilnya dan ada tulisan di belakangnya. Kata-kata yang membuatku seolah susah bernafas 'Rasa sayang ini tidak akan berhenti mengalir untuknya, seperti darah yang mengalir di tubuhku, aku akan mati jika berhenti menyayanginya'. Mungkin Arka mencintai Lovely, tapi karena perjodohan ini dia menyimpan semua perasaannya. Jujur aku sangat sedih dan terluka, tapi bagaimana dengan rasa sakit yang disimpan Arka? Aku juga pernah merasakan sakitnya menyimpan cinta yang tidak bisa bersatu. Pedihnya itu luar biasa. Dia bersifat acuh pada Lovely karena tidak ingin Lovely berharap lebih jauh padanya, sama seperti yang pernah aku lakukan pada Awan dulu.
Ku kembalikan sketsa itu ke tempat semula lalu mengambil sketsa wajahku. Ku balik dan terdapat juga tulisan di belakangnya 'Tugasku hanya menjaga dan membuatmu bahagia bukan tentang cinta yang bisa kumiliki atau tidak'. Aku menarik napas dalam-dalam, cinta untuk siapa yang dimaksud Arka di sini? Cinta siapa yang ingin dimilikinya? Apa Arka juga sedang berjuang untuk membahagiakan diri sendiri dalam pernikahan ini? Rahasia apa yang disimpan Arka?
Ku ambil lagi sketsa wajah Awan dan membaca tulisan di belakangnya 'Keluarga itu bukan tentang garis keturunan dan hubungan darah, tapi lebih kepada rasa sayang yang tulus_bromance_'. Sekali lagi rasa bersalah menyelimuti perasaanku. Semua karena aku sehingga persahabatan antara mereka rusak dan rasa sayang itu menghilang, menguap bagai embun yang hilang saat matahari mulai meninggi.
Saat terdengar suara motor Arka, segera ku rapikan semuanya dan aku berpura-pura membuat desain baju. Arka masuk ke kamar saat aku baru menggambar bagian bahu dan kerah yang ku gambar asal-asalan.
"Lama ya?" Kata Arka sambil menepuk puncak kepalaku dan mencium keningku.
"Nggak kok mas," jawabku dengan senyum yang ku usahakan semanis mungkin.
"Nggak ada ide mas, habisnya pikiran ku ke mana-mana," jawabku berbohong.
"Mungkin kamu capek, kita tidur yuk," ajak Arka.
Aku mengusulkan untuk tidur terpisah dengan alasan tempat tidurnya kurang luas. Padahal tempat tidur itu pasti cukup karena kami selalu tidur berpelukan dan berdesakan. Hanya saja aku merasa tidak nyaman. Rasa bersalah meliputi diriku. Bagaimana tidak, Arka selalu berusaha membahagiakanku sedangkan dalam diam dia menyimpan sakit dan kecewa. Aku merasa tidak pantas berada di sisinya karena aku sangat jahat dan baru menyadarinya.
"Aku sudah terbiasa tidur memelukmu yank," kata Arka menolak sambil memelukku dari belakang.
__ADS_1
Aku hanya diam tidak tahu harus berkata apa, berpura-pura tidur mungkin lebih baik sambil memikirkan rencana yang sempurna untuk menguak siapa Lovely sebenarnya daripada aku menebak-nebak. Mungkin Arka membutuhkan sedikit privasi sehingga dia lebih memilih menyimpan semua masalahnya sendiri dan mungkin ini juga yang dimaksud Lovely kalau ada yang ditutupi Arka dariku.
...****************...
Suara burung berkicau dan hangat matahari menerpa wajahku saat aku terbangun. Arka sudah tidak ada di tempat tidur. Aku beranjak dan mencarinya dan menemukan Arka di dapur sedang memasak nasi goreng untuk sarapan. Dua gelas susu sudah tersedia di meja. Aku kaget saat mendengar suara ibu yang mengomel karena Arka bangun lebih dulu dariku bahkan sampai membuatkan sarapan untukku.
"Itu kerjaan istri, Ka!" tegur ibu dengan tangan kiri di pinggang dan tangan kanan menunjuk-nunjuk.
"Nggak apa-apa bu, Kasih itu capek," bela Arka sambil mempersilahkan ibu sarapan bersama kami.
"Kakean alesan," kata ibu sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
Setelah suapan itu ibu tampak diam dan menikmati nasi goreng buatan Arka yang memang standar restoran. Selesai sarapan dan membereskan peralatan makan, ibu mulai membahas mengenai cucu yang mereka idam-idamkan. Memang dulu ibu butuh waktu sampai hampir lima belas tahun sampai aku lahir, namun menurut ibu sekarang zaman sudah modern, pasti ada cara untuk bisa segera memiliki momongan. Di sini kepalaku tambah pusing, urusan Arka dan Lovely saja belum selesai malah ibu menagih cucu.
"Aku takut mau bikin anak sama kamu," kata Arka saat ibu sudah pergi.
"Kenapa?" tanyaku mulai penasaran.
"Nggak apa-apa sih, udah ah. Ayo kita jalan-jalan. Semalam Pakde Marto ngajak benerin traktor," kata Arka sambil menarik tanganku dan terpaksa aku mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Aku teringat, setelah kami berhubungan, kemudian Lovely menelpon di malam buta dan sejak saat itu. Arka tidak pernah meminta lagi. Apa karena kehadiran Lovely membuatnya takut karena perasaannya pada Lovely mengusiknya?