MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 100


__ADS_3

"Terus? Harus disambut seperti raja?" tanya Arka dengan nada yang dalam penuh emosi saat aku menceritakan isi pembicaraan ku dengan Pak Surya semalam dan ini membuatku semakin yakin bahwa hubungan Arka dengan kakaknya tidak baik-baik saja.


Sesuai permintaan Pak Surya, kami kemudian mengantar Mbok Welas dan Lovely ke stasiun supaya mereka bisa segera pulang dan mengurus keperluan Mas Aditya dan keluarganya di rumah. Di samping itu, Lovely juga harus meneruskan tour teaternya dan dalam dua atau tiga hari lagi Lovely harus kembali ke luar negeri sehingga tidak mungkin dia berlama-lama di sini. Sepanjang perjalanan, Arka lebih banyak diam dan hanya sesekali menepuk pipiku dan memberiku senyum tipis yang nyatanya menambah gundah hatiku. Kenapa sejak tadi seolah keceriaan Arka menghilang.


"Kita stay di sini aja dulu ya, kan kamu masih kangen ibu," kata Arka saat kami sudah kembali ke rumah.


Aku tahu pasti itu hanya alasan Arka untuk menghindari pertemuan dengan kakaknya. Walaupun aku belum tahu pasti apa yang terjadi di antara mereka. Rencanakan untuk menanyakan perihal itu pada Mbok Welas juga gagal karena Mbok Welas harus pergi. Pasti ada sesuatu yang terjadi, tidak mungkin orang sebaik Arka bisa begitu saja mengabaikan saudara kandungnya.


"Apa nggak sebaiknya kita menyusul Mbok Welas dan Lovely?" tanyaku berusaha merayunya.


"Nggak perlu,, kita di sini aja dulu ya yank," jawab Arka sangat lembut dan dengan senyum yang menawan.


"Mas nggak pingin cerita gitu, sebenarnya ada apa antara mas sama Mas Adit?" rasa penasaran akhirnya menuntunku untuk memberanikan diri. bertanya.

__ADS_1


"Panjang ceritanya yank," kata Arka sambil mengusap wajahnya.


"Aku siap menyimak sepanjang apapun," kataku


Arka hanya memandangku sambil menepuk puncak kepalaku kemudian duduk di teras dengan pandangan mata menerawang jauh. Perlahan Arka memejamkan mata sambil menikmati sepoi angin yang membelai wajahnya. Dia menarik napas sangat dalam dan menghembuskan perlahan seperti sedang berusaha menenangkan diri. Aku lalu duduk di sampingnya menunggu perkataan yang akan keluar dari mulutnya untuk memuaskan rasa penasaran yang semakin sesak memenuhi kepalaku.


...****************...


Aditya Praja Pratama tidak lahir dari rahim Bu Gendis. Ibu kandungnya bernama Bu Alleya meninggal saat melahirkannya dan sebelum menghembuskan napas terakhir, Bu Alleya meminta sahabat baiknya yaitu Bu Gendis untuk merawat dan membesarkan anaknya seperti anak kandungnya sendiri serta meminta Pak Surya untuk menikahi Bu Gendis. Bu Gendis memenuhi permintaan terakhir dari Bu Alleya serta merawat Aditya dengan sangat baik, penuh kasih sayang seperti menjaga anaknya sendiri sampai saat Aditya berusia delapan tahun kemudian Bu Gendis hamil anak pertamanya yang merupakan anak kedua Pak Surya yang lahir saat Aditya berusia sembilan tahun. Jarak yang lumayan jauh, namun bagi Aditya kelahiran Arka dianggap sebagai ancaman dan saingan untuk mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Aditya beranggapan bahwa Arka akan merampas semua miliknya. Justru karena Aditya tahu kalau Bu Gendis bukan ibu kandungnya membuat dia khawatir kalau Bu Gendis akan pilih kasih dan lebih mengutamakan Arka daripada dirinya walaupun menurut Arka, Bu Gendis jauh lebih menyayangi Aditya daripada Arka. Entah itu hanya perasaan Arka saja atau memang itu kenyatannya.


Itulah kenapa Arka seolah enggan bekerja di kantor pusat dan lebih memilih membuka rumah makan nusantara dan beberapa cafe lainnya dengan hutang modal dari perusahaan Pak Surya dan bahkan untuk Villa di pegunungan, Arka lebih memilih modal dengan pinjaman bank daripada menerima bantuan dari papanya. Bukan hanya itu, Arka lebih memilih menyewa apartemen daripada tinggal di penthouse milik papanya padahal berada di gedung yang sama. Arka juga lebih memilih membeli perumahan sederhana di pinggiran kota hanya untuk menghindari konflik dengan Aditya.


Bahkan awalnya Aditya lah yang ingin dijodohkan denganku tapi dia menolak dan menikah dengan wanita pilihannya. Dan tindakan Arka yang mengajukan diri untuk perjodohan ini dianggap sebagai sebagai tindakan seorang penjilat oleh Aditya. Itulah kenapa Aditya tidak hadir dalam pernikahan kami dan sekarang dia datang untuk menguasai semua milik Pak Surya.

__ADS_1


"Ku kira kisah seperti ini hanya ada di kisah dongeng Cinderella," kataku setelah Arka menyelesaikan ceritanya.


"Aku harus menata hati sebelum bertemu dengannya," kata Arka sambil tertawa kecil.


"Tapi kalian kan sudah dewasa, sudah punya kehidupan masing-masing, kitakan juga bisa hidup mandiri masa," aku mengutarakan apa yang ada di kepalaku.


"Menurutku tidak segampang itu yank, semua akan sulit karena bagi Mas Adit aku hanyalah remah-remahan momogi yang dibuang sayang tapi mengotori tangannya," kata Arka yang membuatku tidak merasa iba namun malah tertawa


Dan yang lebih di luar nalar, rumah yang saat ini kami tinggali juga ingin dikuasai Aditya padahal rumah itu merupakan warisan dari keluarga Bu Gendis. Bu Gendis juga bukan orang sembarangan, beliau juga berasal dari keluarga orang berada dan terpandang di kota kecil itu. Tapi ya sudahlah, bagi Arka lebih baik mengalah daripada menimbulkan keributan yang menyebabkan kedua orangtuanya bersedih.


"Kamu nggak apa-apa kan punya suami nggak sekaya itu?" tanya Arka.


"Aku terbiasa hidup sederhana mas, aku bahagia kok sama kamu," kataku tulus.

__ADS_1


"Beruntung Mas Adit menolak perjodohan ini, kalau tidak meruginya aku karena tidak beristri seorang Kasih Dinanti," kata Arka mulai merayuku yang membuatku sedikit tersipu


Arka kemudian mengganti topik pembicaraan dan memintaku agar lebih fokus pada program kehamilan yang kami rencanakan. Kami kemudian bercanda dan membayangkan masa depan rumah tangga kami yang menjadi meriah karena kehadiran anak yang lucu. Aku menginginkan anak perempuan yang kelak bisa menjadi bestiku tapi Ark menginginkan anak laki-laki yang ingin diajaknya bermain layang-layang dan kelereng di samping sawah. Perdebatan kami terhenti karena mobil yang biasa dipakai oleh Bu Gendis memasuki halaman. Aku menahan napas penasaran siapa yang akan keluar dari dalam mobil dan semua terjawab dengan turunnya Bu Gendis namun dengan wajah tampak tegang. Kenapa Bu Gendis malah ke sini dan tidak menemani Aditya dan keluarganya? Aku dan Arka saling tatap, mata kami seolah menanyakan pertanyaan yang sama. Ada apa dengan kedatangan Bu Gendis?


__ADS_2