MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 84


__ADS_3

Arka selalu tidur dengan nyenyak walaupun ada masalah yang menurutku serius melanda hidupnya. Aku terus memperhatikannya kalau-kalau dia terlihat tertekan dan butuh dukungan. Aku tahu bagaimana tidak enaknya berseteru dengan bapak sendiri. Sangat sulit menyatukan dua isi kepala supaya bisa salingengerti. Tapi, sejak bangun tadi Arka tetap seperti biasa, memulai hari dengan segelas air putih hangat dan memelukku lama sebelum beranjak dari tempat tidur. Arka juga melontarkan candaan yang membuatku tertawa sampai sakit perut dan mengeluarkan air mata. Ingin ku bahas peristiwa semalam tapi aku takut malah mengganggu moodnya. Ponselnya juga belum diaktifkan. Semua benar-benar berjalan seperti biasa, selesai mandi, sarapan kemudian Arka bersiap-siap ke kantor. Semua ini membuatku merasa sangat heran. Bisa-bisanya dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa padahal semalam dia ribut dengan Pak Surya. Apa ini hanya cara Arka menyimpan semuanya supaya aku tidak merasa khawatir?


"Mas, kita pulang yuk, mana hari ini aku ada kursus lagi," kataku.


Siapa tahu kalau kami pulang, Pak Surya menyusul ke rumah dan mereka bisa bicara baik-baik. Harusnya aku juga tidak perlu menghindari Lovely karena Arka tidak pernah menanggapinya. Harusnya aku bisa berbesar hati menghadapi ini seperti saat Arka menghadapi Awan yang terus mengejarku. Kenapa aku tidak bisa melakukan hal itu?


"Ya, nanti aku hubungi Mbak Maura tanya kalau bisa jadwalnya diganti besok," kata Arka sambil tersenyum.


"Terus kapan kita pulang?" tanyaku manja pada Arka.


"Ya segera, tapi aku ke kantor dulu ya," kata Arka sambil mencium keningku dan pergi.


Setelah Arka pergi, Keysha meneleponku dan mengajak bertemu untuk membahas masalah kerjasama yang akan kami lakukan. Aduh, aku sampai lupa menyampaikan urusan penting ini pada Arka. Tapi, daripada gabut sebaiknya aku menemui Keysha untuk membahas lebih lanjut konsep seperti apa yang akan kami rencanakan supaya akan lebih mudah untuk membicarakannya dengan Arka nanti.


...****************...


"Bukannya butikmu khusus untuk wedding ?" tanyaku sambil menyedot jus jeruk yang terasa sangat segar.


"Biar lebih bervariasi aja, Kas." kata Keysha dengan mimik wajah yang terkesan serius.


"Tapi nanti proses produksinya gimana?" tanyaku mulai tertarik.


"Kalau aku kerjasama dengan UMKM, yang itung-itung ikut membantu perekonomian mereka. Ya sama konveksi rumahan gitu, tapi dengan beberapa UMKM," kata Keysha yang membuatku semakin tertarik.

__ADS_1


"Mulia banget ya," kataku terkagum-kagum.


Aku lalu menjabarkan tentang keinginanku membuat model baju yang limited edition. Dan menurut Keysha sebaiknya dengan model yang sama, aku terapkan pada warna maupun motif kain yang berbeda. Keysha menyarankan untuk mulai dengan dua atau tiga model terlebih dahulu untuk langkah awal. Bisa dicoba dengan penjualan online terlebih dahulu. Keysha juga bersedia menghubungkan aku dengan UMKM terkait.


"Kalau kamu percaya sama aku, titipin aja dulu di butikku," Keysha menawarkan bantuan.


"OK lah, mungkin bisa mulai Minggu depan ya, nanti aku email untuk desainnya," jawabku bersemangat.


Ternyata Arka datang menjemputku dan sekalian saja kami membahasnya bertiga. Arka setuju saja dengan semua rencana kami termasuk untuk bekerjasama dengan UMKM. Namun ada yang aneh, kalau diamati dengan seksama ada bekas lipstick di lehernya. Aku diamkan saja dulu, bisa ku tanyakan nanti.


"Kamu tuh nggak pernah bilang ya, kalau kamu ternyata orang hebat, kenapa?" perkataan Keysha yang membuatku ikut bangga memiliki Arka.


"Orang hebat nggak perlu mengakui tapi diakui. Lagipula semua itu punya orangtuaku, bukan punyaku," kata Arka merendah diri.


"Iya deh," kataku sambil menghapus noda lipstick itu dan melirik ke Arka yang terlihat salah tingkah.


Keysha lalu pamit karena ada urusan lain yang harus diselesaikannya. Aku dan Arka juga beranjak pergi dari tempat itu. Di dalam mobil kami hanya diam dan Arka tampak sibuk memastikan bekas lipstik di lehernya sudah terhapus sempurna dia juga bergumam mengomel sendiri tidak jelas.


"Yang jelas bukan aku, aku kan sopan, paling cium tangan," kataku sambil melihat keluar jendela.


"Iya, tadi aku nggak siap, mana Lovely nyosornya pas meeting di depan banyak orang. Gila dia, aku langsung pergi, jadi males di sana," kata Arka yang membuatku menoleh ke arahnya.


Aku ingin ngambek berlebihan tapi aku pernah berada di posisi Arka tapi Lovely nampaknya sungguh-sungguh mengibarkan bendera perang denganku. Tapi jelas aku akan menghadapinya dengan anggun. Untuk apa berteriak memaki padanya, itu hanya menurunkan harkat dan martabatku.

__ADS_1


...****************...


"Aku tunggu di sini aja ya," kataku pada Arka di lobi.


Arka lalu naik ke lantai atas. Kami harus mampir ke kantor untuk mengambil beberapa berkas sebelum kami pulang ke rumah. Tapi entah kenapa, seolah semua mata yang memandangku tidak seperti biasanya. Seperti ada yang aneh dengan diriku. Perasaan, pakaianku tidaklah norak dan make up ku juga sepert biasa.


"Kasih, kamu kenapa di sini? Nggak naik?" tanya Pak Surya yang baru saja datang.


"Cuma mampir sebentar, pa." kataku sambil menyalaminya.


"Arka mana?" tanya Pak Surya sambil mencari-cari


"Ke ruangannya pa," jawabku.


Terlihat Lovely di belakang Pak Surya berjalan dengan gaya yang centil. Astaga, anak itu bisa-bisanya ke kantor dengan pakaian seperti itu. Dengan rok mini dan baju sabrina kerut dan bahu terbuka. Tenang, dia bukan sainganku, dia hanya sebatas seseorang yang mampir sebentar di hidup kami. Untuk menguji seberapa besar aku mencintai Arka. Wow, tiba-tiba pemikiran yang luar biasa ini mengisi kepalaku.


"Nggak malu ya ke sini?" tanya Lovely dengan nada mengejek.


Aku pura-pura tidak mendengarkannya. Kenapa aku harus malu? Aku ke sini tidak membuat onar, memakai pakaian pantas pakai dan menurutku aku datang dengan baik-baik. Ya walaupun sejenak merasa seisi ruangan menatapku aneh.


"Ya udah, kamu di sini aja, memang di situ tempat yang layak buat kamu," kata Lovely yang sekali lagi mencoba menyinggung perasaanku dan berlalu pergi bak peragawati.


Seketika sopir kantor yang biasa mengantar dan menjemputku mendekatiku dengan tertunduk dan mengatakan sesuatu yang membuat mukaku merah. Dan semua info itu datang dari Lovely, baru seharian dia berada di sini dia sudah menyebarkan hoax dan membuat seisi kantor menggunjingkan rumah tanggaku dengan Arka. Ini sudah keterlaluan. Bagaimana aku bisa menghadapi semua dengan anggun sedangkan nama baikku dipertaruhkan.

__ADS_1


Aku lalu mengajak sopir itu ke cafe di seberang jalan untuk menanyakan semuanya secara detail. Tidak bisa ku biarkan ini terjadi.


__ADS_2