
Ku coba menelepon Awan, namun tidak seperti biasanya nomernya tidak aktif. Apa dia sudah kembali dari luar kota, mencariku dan Rayi namun kami tidak ada di sana? Ku letakkan ponselku di atas bantal. Kalaupun aku bisa menghubunginya malam ini, apa yang akan kukatakan padanya? Sejenak teringat lagu Koes Plus yang dilantunkan ulang oleh Andmesh.
"Andaikan kau datang kembali, jawaban apa yang kan kuberi, adakah jalan yang kau temui, untuk kita kembali lagi," nyanyiku dengan nada yang menurutkan on tone namun nyatanya sumbang.
"Kas, sudah malam kok konser bengok-bengok. Bapakmu tidur, nanti terganggu," suara ibu dari ruang sebelah menyadarkan ku.
"Iya, Bu" jawabku sambil menutup seluruh tubuhku dengan selimut.
Aku terbangun oleh suara ibu. Masih jam setengah lima tapi kenapa ibu sudah semangat sekali. Terdengar juga suara Rayi yang tertawa sangat keras. Kenapa aku tidak pernah diizinkan untuk bangun tidur dalam keadaan tenang dan damai, tanpa suara ibu ataupun Rayi. Ku buka pintu kamar dan memasang muka marah ke arah mereka berdua.
"Bangun juga akhirnya, mandi dulu sana udah ditunggu Arka di depan. Tadi ibu mau bangunin kamu tapi nggak dibolehin sama Arka," kata ibu.
Untuk apa Arka sepagi ini sudah mencariku? Sambil mengucek mata, aku berjalan ke depan untuk menemuinya, tapi ibu menarikku dan mengomeli ku supaya aku mandi dan berdandan dulu sebelum menemuinya.
"Kalau udah nikah, bangun tidur juga langsung lihat penampakan asli kan, Bu?" Kataku dengan malas tapi tetap kuturuti perintah ibu. Lumayan lama aku mandi, biar saja Arka menunggu lama. Tidak ku temui dia di depan rumah, mungkin dia sudah pergi karena bosan. Baru saja aku ingin melangkahkan kaki untuk masuk lagi ke dalam rumah, terdengar suaranya tertawa dan seorang tetangga yang mengikutinya dengan perasaan tidak nyaman.
"Nanti kalau Mas Arka gatel-gatel gimana?" kata bapak itu sambil membantu Arka menurunkan pakan ternak dari pundaknya.
"Gatal ya digaruk," jawabnya sambil tersenyum memamerkan lesung pipi yang indah.
Aku berusaha menyadarkan diriku dengan menepuk keningku Kalau mau jujur aku selalu terpesona dengan penampilan Arka, walaupun menurutku tidak masuk kategori ganteng namun cenderung manis dan nggak ngebosenin.
Dengan berlari kecil Arka mendekatiku. Ternyata dia memiliki postur yang tinggi, aku hanya setinggi bahunya. Biasanya kami sering duduk sehingga aku tidak menyadari tubuh jangkungnya. Baru kali ini aku berdiri sangat dekat dengannya.
__ADS_1
"Jalan-jalan ke sawah bentar yuk, nanti agak siang sekitar jam sepuluhan baru kita kembali ke kota." Katanya sambil berjalan mendahuluiku.
"Kenapa kita?" tanyaku sambil mengekor Arka. Entah mengapa aku begitu saja mengikuti langkahnya.
"Kamu nggak mau balik ke kota? Cuti kan paling dua hari, besok kamu harus kerjakan?" katanya sambil menyapa orang-orang yang berpapasan dengan kami di sepanjang jalan.
"Aku sama Rayi mau naik kereta seperti biasa," jawabku.
"Udah sama aku aja, temeni aku biar aku nggak ngantuk. Tadi Rayi sudah setuju, kalau ada Rayi kan seru, banyak cerita dia," kata Arka.
Astaga Rayi, kenapa menyetujui sesuatu tanpa bertanya padaku terlebih dahulu? Lagi-lagi begini, semua orang selalu mengambil keputusan tanpa meminta pendapatku. Kenapa aku jadi sesensitif ini ya?
Kami lalu bertemu dengan Bapak Ibu Petani yang telah berjasa menanam padi tanpa lelah. Arka menyapa bapak ibu petani yang sedang bekerja di sawah, meski hanya sekedar bicara “Ndherek langkung” tapi semua terlihat senang dengan kehadirannya. Kebetulan, saat di sawah ada sepedanya pak Tani. Arka meminjam dan memakai sepeda itu dan memboncengku di jalan setapak di sawah. Aku begitu antusias melihat hal-hal yang baru seperti melihat keong yang ada di sawah. Setidaknya, aku bisa refreshing, menghalau kebosanan dengan segala rutinitas di dalam ruangan. Menghirup udara segar itu menyehatkan. Tak apa jika aku kotor sebentar saat berada di sawah. Setelah itu aku bisa mandi yang bersih ketika sampai di rumah.
"Saya kotor begini Bu," kata Arka menolak.
"Ya wisuh, cuci kaki tangan, cuci muka di padasan depan situ," ibu masih berusaha membujuk Arka.
"Aku mau mandi lagi, Bu" kataku sambil masuk melalui pintu belakang.
Selesai sarapan Arka langsung pamit pulang untuk mengambil mobil, Rayi sudah menyiapkan barang bawaan kami di teras rumah. Aku menjenguk bapak yang mencoba tersenyum dan masih sempat menyuapi bapak sarapan. Ibu sudah mulai sibuk di dapur berasa Bude Rini memasak untuk makan siang petani.
Setelah melambaikan tangan penuh semangat, kami berangkat dengan MPV putih milik Arka. Rayi yang terus memaksaku duduk di depan dengan alasan dia butuh ruang yang luas untuk tiduran. Sepanjang perjalanan Rayi dan Arka malah berbicara tentang orderan dan aku yang tidak tahu apa-apa memilih diam. Ku ambil ponselku dari dalam tas. Belum ada kabar dari Awan, nomornya masih belum aktif dan WA juga masih centang satu.
__ADS_1
"Awan baru di pesawat dia ke luar negeri antara 17-18 jam pulang kampung juga dia, nggak kayak kita, mudiknya nggak pakai lama," kata Arka yang membuatku kaget bercampur heran.
"Ke mana?" tanyaku penasaran
"Skotlandia. Kemarin dia telepon aku pamitan. Dia juga mengeluh kamu susah dihubungi," kata Arka sangat santai.
"Kasih memang nggak terlalu peduli dengan ponselnya. Kadang kita WA sekarang tahun depan baru di balas," kata Rayi mulai mengompori.
Itu memang kebiasaan ku yang menurut orang di sekeliling ku sangat menyebalkan. Aku lebih suka bertemu langsung dan mengobrol, kecuali memang ada jarak yang tidak memungkinkan.
Kenapa Arka bisa sesantai ini berbicara tentang Awan? Apa dia tidak merasa bersalah karena perjodohan ini? Seandainya itu terjadi, apa yang akan dia katakan pada Awan padahal dia jelas tahu kalau aku dan Awan saling mencintai.
"Awan sudah tahu tentang kita?" aku memberanikan diri bertanya.
"Belum," katanya sangat santai seolah ini bukanlah masalah yang rumit.
"Kamu nggak pernah cerita ke dia?" tanyaku lagi dengan nada mendesak.
"Untuk apa? Iya kalau kamu setuju, kalau kamu tidak setuju kan nggak perlu dibicarakan. Semua ada waktu yang tepat. Hadapi satu per satu supaya kepala tidak terlalu penuh," kata Arka yang lumayan masuk akal.
Lama-lama aku salut juga dengan jalan pikiran Arka. Dia terlihat begitu santai namun semua tertata rapi. Aku selalu menumpuk masalah di kepalaku sehingga kadang semua seperti benang ruwet yang susah diuraikan. Akhirnya aku sendiri menjadi bingung karena tidak tahu harus mulai dari mana dan bagaimana cara mengakhirinya.
"Kalian jadi nikah kan, Kas?" kata Rayi yang membuatku langsung menoleh dan melotot ke arahnya. Bagaimana mungkin Rayi bisa menyimpulkan seperti itu.
__ADS_1