MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 32


__ADS_3

Aku memaksa untuk mengajak Arka ke klinik untuk memeriksakan hidungnya walaupun dia berusaha keras menolak. Untung saja tidak terjadi apa-apa hanya benturan biasa tapi tidak ada keretakan ataupun patahan. Dia hanya diberikan obat untuk menghilangkan nyeri. Aku bernafas lega. Tidak ku sangka prosesnya seperti ini, Arka terlalu berterus-terang. Tapi anehnya sampai saat ini dia tetap tenang. Seolah semua itu bukan masalah besar baginya. Padahal baru saja dia kehilangan sahabatnya yang mulai membencinya dan menganggapnya tidak baik.


"Hubunganmu sama Awan gimana?" tanyaku berusaha membuka pembicaraan


"Suatu saat, entah kapan dia pasti akan memaafkan ku, dia hanya emosi dan belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya," kata Arka sangat yakin.


"Tadi kamu bilang kalau kamu sudah tahu aku sebelum kita bertemu?" tanyaku sudah tidak bisa menahan rasa penasaran.


Arka tertawa dan mulai bercerita. Lebih kurang tiga tahu yang lalu, Bu Gendis, ibu Arka pusing karena Arka tidak pernah mau menentukan jalan hidupnya. Arka melakukan semua sesuka hatinya. Walaupun sering membantu Pak Surya di perusahaan namun tidak jarang Arka menyanyi di cafe, kadang ngamen, kadang jadi driver online, kadang jadi pelayan cafe, kadang jadi cleaning service, pernah suatu ketika Arka jadi OB di perusahaannya sendiri. Bu Gendis berpendapat jika Arka menikah dia bisa menjadi lebih bertanggungjawab dan mempunyai tujuan hidup dan lebih mapan. Pak Surya sangat setuju dengan pendapat istrinya dan memilih untuk mencari menantu dari desa tempat Pak Surya berasal.


Kemudian Pak Surya bertemu bapak, teman lamanya yang sudah pensiun dan tinggal di desa yang menghadapi masalah perebutan warisan. Pak Surya membantu bapak sampai bapak berhasil merebut kembali haknya. Mereka lalu bercerita tentang kehidupan mereka mulai dari pengalaman selama mereka terpisah, pekerjaan sampai ke anak. Mereka lalu sepakat untuk menikahkan anak-anak mereka demi untuk mempererat persahabatan mereka.


Kurang lebih dua tahun setelah pembicaraan itu, Arka diajak Pak Surya dan Bu Gendis kembali ke desa. Arka sangat senang berada di sana pergi ke sawah, ke kebun durian, kebun rambutan dan memelihara ternak dan ke manapun Arka pergi dia selalu ditemani oleh Rinto. Kemudian Arka dikenalkan dengan bapak dan diberitahu tentang rencana perjodohan. Sebelumnya bapak menunjukkan fotoku dan memberi alamat rumahku pada Arka dengan harapan Arka bisa berkenalan dan mendekatiku.


Arka mulai mematai-mataiku. Awalnya Arka ditemani Rinto yang kebetulan menemani Pakde Marto ke kota dan saat itu Arka mendapati aku sering bersama Awan dan Awan sering bercerita tentangku kepadanya sehingga Arka merasa tidak perlu untuk meneruskan perjodohan ini karena dia tahu Awan sangat menyukaiku. Awan selalu menceritakan apapun yang dialaminya pada Arka. Termasuk saat Awan berniat mempertemukan aku dengan keluarganya, namun Awan tahu kalau aku sebenarnya belum siap.


Beberapa minggu sebelum Awan memberitahukan pada Arka kalau dia berniat melamarku, Pak Surya memberitahukan Arka kalau keluarga mereka akan melamar tahun ini. Arka mulai mencoba menghubungiku untuk memastikan apakah Aku sudah tahu mengenai perjodohan ini.

__ADS_1


Sampai saat Awan membawa kabar kalau lamarannya ditolak karena aku sudah dijodohkan dan Rinto juga menceritakan pada Arka kalau aku bertengkar hebat dengan bapak karena menolak perjodohan dan memilih Awan. Tapi satu hal yang tidak aku ketahui, sejak saat itu bapak sering sakit karena merasa bersalah sudah merebut kebahagiaanku. Sampai saat sakit bapak mulai parah dan kebetulan aku kembali ke desa.


"Aku merasa punya tanggungjawab untuk memperbaiki hubunganmu dengan bapakmu," kata Arka.


"Kenapa kok malah kamu yang merasa bersalah?" tanyaku.


"Andai dari setahun yang lalu aku bertemu denganmu dan memberitahu bahwa kita dijodohkan, mungkin kamu dan Awan sudah bersiap-siap untuk menghadapi masalah ini. Mungkin kamu bisa membicarakan baik-baik dengan bapakmu" kata Arka dengan pandangan menerawang.


Aku hanya diam memandanginya. Tidak mungkin bagiku untuk menyalahkannya seperti itu. Arka juga mengatakan kalau dia berharap aku membatalkan perjodohan itu dan berjuang bersama Awan, namun dia juga tidak bisa menolak kalau aku akhirnya menyetujui semuanya.


"Kenapa kamu nggak nolak?" tanyaku masih ingin memuaskan rasa penasaranku.


"Sebentar, maksudnya gimana ni?" aku coba menggali lagi jalan pikiran Arka yang agak sulit ku mengerti.


"Saat-saat seperti ini harusnya dia menemani kamu, bukan malah sibuk dengan bisnisnya. Dia memang sangat mencintaimu tapi dia tidak tahu bagaimana cara menjaga dan melindungi mu," hatiku membenarkan setiap kata-kata Arka.


"Tapi kan bisnisnya juga penting," aku mencoba membela Awan

__ADS_1


"Dia itu CEO, dia bisa mendelegasikan tugas sama bawahannya, dia bisa pantau dari jauh. Kamu juga penting," kata Arka yang menurutku masuk akal


Aku mulai bertanya, di mana Awan saat aku berjuang melawan pertentangan batinku. Awan bahkan tidak pernah menanyakan apa dan bagaimana selanjutnya mengenai hubungan ini. Dia hanya memintaku bersabar dan bersabar. Mungkin juga dia tidak tahu kalau bapak sakit karena aku memperjuangkan dia. Dia malah dengan entengnya 'menitipkan' aku pada Arka tanpa mau tahu aku nyaman atau tidak. Jadinya aku malah mencari-cari kesalahan Awan untuk membenarkan kata-kata Arka. Lagi-lagi ku acak-acak rambutku. Aku mulai pusing lagi memikirkan semuanya. Tapi sudahlah, aku dan Awan sudah usai, aku harus fokus dengan apa yang akan aku lakukan setelah menikah dengan Arka.


"Terus kamu merasa kalau kamu yang paling bisa menjaga dan melindungiku?" tanyaku sambil tersenyum menggodanya.


"Nggak aku hanya merasa harus menebus salahku dan mengembalikan kebahagiaanmu," kata Arka yang membuat aku lagi-lagi terdiam.


Aku tersenyum pada diriku sendiri. Arka ini sejenis Rayi dalam wujud lelaki. Dia tampak santai, suka bercanda, seolah tidak punya masalah namun jika digali lebih dalam lagi mereka punya jalan pikiran yang sangat dewasa dan selalu punya solusi untuk setiap masalah. Rayi dan Arka sangat bisa mengimbangi ku yang mudah panik dan sulit berpikir jernih.


"Kalau menurutmu Rayi gimana?" tanyaku pada Arka.


"Dia baik. Itu juga permainanku. Aku mau order seragam di pabrik tempatmu bekerja asal Rayi yang menangani orderan dariku. Mana mau mereka menolak ,kebutuhan perusahaanku banyak dan bersikap kontinyu," satu lagi fakta mencengangkan yang aku ketahui, pantas saja Rayi mendadak pindah departemen dan diberi proyek besar.


"Kenapa kamu harus berhubungan dengan Rayi," tanyaku tidak sabar


"Dia orang yang sangat dekat denganmu. Dari dia aku bisa tahu banyak cerita tentangmu," kata Arka sambil tertawa

__ADS_1


Arka lalu mengajakku pulang karena dia ingin istirahat. Namun baru saja kami melangkah ke dalam mobil ada telepon dari Rinto yang membawa kabar buruk dari desa. Lama Arka menatapku dan perlahan butir air mata jatuh membasahi pipinya. Ada apa ini?


__ADS_2