MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 15


__ADS_3

"Ojo ngawur, jaga bicaramu, Kasih! Kamu kalau tidak tahu apa-apa jangan asal bicara," kata bapak penuh emosi sambil menunjuk-nunjuk ke arahku sambil berdiri


"Pak, eling pak." kata ibu sambil menahan bapak dan meminta bapak untuk duduk kembali.


"Jelas Kasih nggak tahu apa-apa kalau bapak nggak pernah cerita apapun ke Kasih. Kalau bapak nggak salah, kenapa bapak harus marah?" hilang sudah akal sehatku berani menantang bapak seperti itu.


"Nduk, sudah. Kamu jangan menjawab bapak terus. Nanti bapakmu tambah marah," ibu berusaha mendamaikan kami dan memintaku untuk mengalah.


Aku lalu duduk dan membuang muka. Berulang kali ku lihat bapak menghela napasnya. Ibu mulai berderaian air mata memohon agar aku dan bapak tenang dan membicarakan semua baik-baik. Namun, amarahku terlanjur meledak dan rasanya sulit untuk ku kendalikan. Hatiku mulai lelah dengan semua ini. Kepalaku juga rasanya terlalu penuh dan sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku lalu pamit untuk kembali ke kamar, aku tahu jika diteruskan tidak akan ada titik temunya.


"Nduk, kamu belum kenal dengan calon suamimu, jadi ndak adil jika kamu sudah menghakimi seperti itu," kata ibu masih mencoba meyakinkanku untuk menerima perjodohan ini.


"Bapak ibu juga belum kenal dengan Awan, jadi sama nggak adilnya kan, Bu?" kataku merasa posisiku sebagai korban yang dizalimi.


Aku nekad kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk kembali ke kota. Bukan mencoba lari dari masalah, tapi aku hanya butuh waktu untuk mengambil keputusan yang tepat dan terbaik untuk semua.


"Maaf pak, bu. Aku pamit mau kembali ke kota. Besok aku harus kerja. Dan aku butuh waktu dan ruang untuk sendiri dulu," kataku sambil mengulurkan tangan untuk menyalami bapak dan ibu.


"Maaf kalau bapak terlalu keras ,"kata bapak tak sanggup menatapku.


"Saat ini keputusanku tetap menolak perjodohan ini," kataku tegas dan berusaha tegar.


...****************...


Aku baru turun dari taksi dan Rayi terlihat berlari menyambutku dengan senyum. Dia mengikutiku yang masih diam memasuki rumah. Senyumnya musnah saat aku membuka kaca mata hitam ku dan memperlihatkan mata sembabku.


"Kas?kok kowe nangis? Pakde ndak setuju to?" tanya Rayi sambil bengong menatapku.

__ADS_1


"Kalau cuma nggak setuju, aku nggak sesedih ini," kataku sambil menghela napas yang terasa sangat berat.


"Terus?" tanya Rayi tampak tidak sabar.


"Nanti ya Ra, aku masih capek," kataku sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


"Ya wis," masih terdengar suara Rayi menjawab.


Ku rebahkan badanku yang sebenarnya tidak terlalu lelah. Ku pandangi langit-langit kamar dan terbayang wajah bapak yang terlihat marah dan kecewa serta wajah sedih ibu. Rasa bersalah menyelimuti hatiku. Kenapa bisa sampai seperti ini?


Ponselku berdering dan itu dari si penelepon gelap. Orang yang cukup tidak tahu diri dan tidak tahu situasi. Untuk apa dia menghubungiku di saat seperti ini? Apa dia tidak tahu kalau aku selalu mengabaikannya karena merasa terganggu? Aku sendiri bingung harus berbuat apa, dalam kebosanan dan merasa hidupku sedang banyak tekanan, ku jawab teleponnya. Anggap saja sebagai pelampiasan untuk mencari hiburan yang tidak biasa.


"Kas, kamu sedang sedih ya?" tanyanya dengan nada penuh simpati.


Bagaimana dia bisa tahu suasana hatiku padahal aku belum berbicara sepatah katapun. Siapa dia sebenarnya, dia sejak awal dia menelepon sepertinya dia sangat memperhatikanku. Aku lalu duduk, mencari earphone dan memakainya lalu berusaha mendengarkan dengan seksama.


"Siapa kamu?" tanyaku dengan nada galak.


"Jika semesta memihak, aku lah masa depanmu," katanya mungkin saja sambil tersenyum lebar."Kamu tetap tenang dan tidur yang nyenyak ya, yakinlah kalau besok semua akan baik-baik saja," lanjutnya dan kemudian mengakhiri panggilan.


Aku yakin setelah ini pasti nomernya tidak aktif dan tidak bisa dihubungi. Sepertinya dia ingin terus menjadi penelpon gelap yang misterius. Masalah apa lagi yang akan ku hadapi dengannya. Sudah dua kali dia mengatakan kalau dia adalah masa depanku.


Jantungku langsung berdetak kencang. Apa mungkin dia adalah lelaki yang dijodohkan denganku? Bisa saja dia mendapat nomerku dari bapak. Tapi kenapa dia tidak menghubungiku sejak setahun yang lalu saat pertama dia mendapatkan nomerku? Apakah dia diam-diam memata-mataiku sehingga dia bisa tahu apa saja yang ku alami?


Tapi kenapa dia seolah sangat mendukung hubunganku dengan Awan? Bertambah lagi persoalan yang harus aku jawab. Kenapa semua bertumpuk seperti ini?


...****************...

__ADS_1


Seperti biasa suara Rayi heboh membangun ku. Hari ini aku harus bekerja, ada tagihan KPR yang menantiku dan kebutuhan hidupku yang lainnya. Serumit apapun masalah yang aku hadapi, aku harus tetap bekerja secara profesional.


Dengan semangat pantang mlempem aku bersiap-siap berangkat kerja. Ku sambut Rayi dengan senyum ceria walaupun masih ada sisa sembab di mataku. Namun, saat sampai di depan rumah, bukan Rayi yang ada, namun Awan yang datang dengan senyumnya.


"Sayang, hari ini berangkat kerja aku anterin ya. Rayi tadi sudah aku minta berangkat duluan," kata Awan sambil menepuk puncak kepalaku.


Tanpa banyak kata, aku langsung masuk ke dalam mobil. Awan terlihat santai seperti tidak ada masalah yang terjadi. Sesekali dia menggenggam dan mengecup tanganku. Aku merasa nyaman dan tenang saat bersama Awan. Tapi akankah semua ini berakhir?


Tanpa terasa kami sudah sampai di tempat kerjaku. Sebelum turun dari mobil, Awan menyelipkan rambutku di balik telinga dan mengecup keningku. Aku tersenyum bahagia, tapi sampai kapan kebahagiaan ini selalu ada untukku?


"Jangan khawatir sayang, aku akan berjuang demi kita," kata Awan berusaha membuat aku tidak terlalu khawatir.


"Iya, aku juga akan berjuang bersamamu," kataku sambil mencium pipi Awan.


Aku lalu turun dan dengan mantap melangkah untuk bekerja. Rasanya semangatku sudah kembali lagi. 


"Ngapain aja kok lama banget turun dari mobil?" Suara Rayi tiba-tiba mengagetkanku dari belakang.


"Astaga, bisa tidak jangan mengagetkanku?" kataku sambil mendorongnya menjauh.


"Kamu masih hutang cerita sama aku lho," kata Rayi mengingatkanku.


"Iya, nanti yang penting sekarang kerja dulu," kataku sambil cepat-cepat berlalu dari hadapan Rayi.


Walaupun aku berusaha tegar, tapi tetap saja masalah itu menggangguku. Hari ini aku merasa sangat sulit untuk konsentrasi dengan pekerjaan. Akhirnya aku izin pulang awal dengan alasan kurang enak badan daripada semua pekerjaan jadi berantakan.


Aku memesan taksi online untuk pulang ke rumah dan sangat mengagetkan saat dengan driver yang tidak asing di mataku

__ADS_1


"Jam segini udah pulang, Non? Bolos ya?" katanya sambil tersenyum.


__ADS_2