MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 39


__ADS_3

Aku memberitahu Rayi untuk berpura-pura tidak melihat Awan. Tapi Awan malah berjalan mendekati kami dan malah berdiri tepat di sampingku.


"Kebetulan sekali, boleh aku duduk di sini?" katanya dan langsung duduk walaupun aku belum mengizinkannya.


"Beneran kebetulan ni, atau kamu diam-diam mengikuti kami?" tanya Rayi dengan wajah santai.


"Kamu keberatan?" tanya Awan sambil tersenyum pada Rayi.


"Aku sih nggak masalah, apapun yang terjadi diantara kalian, aku nggak pernah terlibat, aku kan tetap temanmu, Wan." kata Rayi seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi ada benarnya juga kata-kata Rayi, dia sama sekali tidak terlibat dengan urusanku dengan Awan.


"Mosok?" kata Awan yang menirukan kebiasaan Rayi dan membuatku ingin tertawa.


Sama halnya seperti aku, Awan dan Rayi memang banyak berdebat. Walau masalah kecil sekalipun bisa menjadi perdebatan panjang di antara mereka. Ingin aku ikut bercanda bersama. Andai tidak ada masalah di antara aku dan Awan, pasti sore ini jadi acara makan yang menyenangkan. Tapi semua terasa canggung bagiku.


"Kenapa makan di sini?" tanya Rayi benar-benar tanpa basa-basi


"Kan ayam penyetnya enak, sambalnya juga mantap," kata Awan sambil mengacungkan kedua jarinya.


"Bener ni bukan modus, aku kok curiga berat?" tanya Rayi lagi mendesak Awan yang hanya tersenyum dan matanya tidak pernah lepas menatapku.


Ingin aku ikut menyela pembicaraan mereka, namun kata-kata terhenti di tenggorokan. Cepat-cepat ku selesaikan makanku supaya bisa segera pulang dan menghindari Awan.


"Boleh kan kalau aku kangen sama tempat ini, dan kangen sama yang sering ngajak aku makan di sini," kata Awan mulai menyindirku.


"Mosok? ngaku juga dia akhirnya" kata Rayi sambil memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


"Iya, aku minta tolong banget, kalian temani aku makan sampai selesai ya karena tiga hari lagi aku kembali ke Skotlandia," kata Awan meminta.


Aku tidak berdaya untuk menolak permintaan dan mengurungkan niatku untuk buru-buru pulang. Lalu diikutkan hati kecilku yang paling dalam, sebenarnya aku juga ingin menahan Awan supaya tidak pergi jauh dariku, Aku ingin lebih lama lagi di sampingnya, jika takdir memungkinkan ingin ku habiskan waktuku bersamanya sampai tua dan hingga ajak menjemput tapi siapa aku saat ini? Semua tinggal impian, semua yang aku jalani bersamanya tinggal kenangan.


Lama kami berbicara tentang kenangan di warung ini dan hari-hari yang pernah kami lewati bersama. Awan bahkan mengantar aku dan Rayi pulang ke rumah karena Rayi terus menerus mengeluh dengan banyaknya belanjaan yang harus dibawanya dengan berjalan kaki. Lama aku berdiri di depan rumah dan menatap lambaian tangan dan senyumnya yang perlahan menghilang. Entah kapan lagi aku bisa memandanginya atau bahkan merasakan hangat peluknya dan lembut belainya. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi lagi.


"Ayo Kas, jangan goyah, eling Arka," kata Rayi menepuk pundakku dan membawa belanjaan kami masuk ke dalam rumah dan aku mengikutinya dengan berat hati.


"Baguslah Awan mau ke luar negeri, jadi kamu nggak terlalu terganggu dengan kehadirannya," kata Rayi yang menurutku sangat masuk akal.


Kami lalu merapikan semua barang belanjaan dan memasukkan ke dalam lemari. Kemudian aku membuat dua cangkir kopi instan dan berencana bersantai sambil membahas mengenai rencana pernikahan yang tidak pernah aku impikan.


Kami mulai dengan kebaya yang akan aku pakai. Dengan menghadap laptop, kami mengumpulkan banyak referensi dari internet. Rayi menyarankan aku memakai kebaya yang berekor panjang namun aku menolaknya.


"Oh, pakai basahan, dodotan. Arka kan tinggi, bodynya juga lumayan kekar juga, uuhhh...seksi abis" kata Rayi sambil membayangkan entah apa.


"Nggak ah, kasihan Arka, nanti masuk angin. Kan terbuka banget tuh," tolakku lagi, sejujurnya aku tidak punya bayangan mau pakai kebaya seperti apa. Kami lanjut namun sampai hari menjelang senja, kami belum juga berhasil menemukan kebaya yang sesuai.


"Yawis, Kowe dasteran, Arka sarungan. Biar kayak lagu yang sempat viral itu," kata Rayi mulai gemas saat semua idenya ku tolak.


"Yakk sipp, pakai itu aja. Idemu sangat luar biasa," kataku spontan dan mendapat jambakan dari Rayi.


"Aku ingin berkemah di bawah bintang-bintang dan bernyanyi," kataku tiba-tiba keluar dari topik pernikahan.


Rayi akhirnya pasrah karena menurutnya aku tidak bisa diajak bekerjasama. Akhirnya kami putuskan untuk menemui Keysha, teman kami waktu SMA yang sekarang bekerja sebagai seorang desainer baju pengantin dan punya butik sederhana.

__ADS_1


...****************...


Aku tertarik dengan baju pengantin berbahan beludru dan berwarna dasar hitam, baik untuk pria maupun wanita. Untuk memperindah penampilan, terdapat sulaman benang emas mulai dari bagian leher, hingga ke dada, dan menyambung ke seluruh bagian pinggir, termasuk ujung lengan. Akaesoris yang dikenakan antara lain odheng, bunga melati, kain selempang, tongkat, dan lain-lain.


"Ini pakaian mantenan cenderung ke arah Jawa Timur, nanti dandannya pakai paes sanggulnya dikasih cunduk mentul" kata Keysha.


"Kuno?!" kata Rayi sambil mencibir.


"Bukan kuno Rayi, ini namanya pakaian adat. Bagus kok, warna hitam artinya supaya rumah tangganya mengalami kebijaksanaan dan keluhuran," kata Keysha menjelaskan."Kalau yang sesuai adat nenek moyang ada makna yang tersirat ada doa di dalamnya tapi, kalau yang sudah modern cenderung lebih ke estetika," tambah Keysha.


Aku sudah terpana dengan baju itu. Dia terkesan sederhana namun kaya makna. Rayi sibuk menawarkan ku model yang lain tapi aku sudah jatuh cinta dengan baju hitam ini.


"Kenapa milih yang itu sih, Kas?" tanya Rayi setengah berbisik takut Keysha tersinggung.


"Foto nikah bapak dan ibu pakaiannya seperti ini. Pernikahan ini keinginan bapak, jadi biarlah seperti mengulang pernikahan mereka dulu," kata sambil merasakan lembutnya bahan kain itu.


"Sebaiknya kamu ajak calon suamimu, Kas. Biar kalian sepakat mau pakai model yang mana," saran Keysha.


Aku setuju dengan saran Keysha, walau bagaimanapun Arka juga harus terlibat. Lantas ku telepon Arka dan memintanya datang ke butik Keysha. Kebetulan dia berada di sekitar sini sehingga di bisa datang secepatnya. Sambil menunggu Arka, kami bercerita banyak hal apalagi tentang bisnis yang dijalani Keysha. Dia sangat beruntung karena hobi dan kesukaannya bisa menjadi uang. Di tengah maraknya model baju pengantin modern, Keysha lebih memilih baju adat Nusantara walaupun ada beberapa yang sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman atau cenderung disebut dengan kebaya modern. Dari segi bisnis, pakaian adat banyak peminatnya namun tidak banyak saingannya.


Pintu terbuka dan Arka masuk dengan senyumnya yang tidak pernah gagal membuatku terpesona.


"Arka?!" teriak Keysha histeris dan terdengar sangat senang.


Heran, Arka dan Keysha saling kenal?

__ADS_1


__ADS_2