
"Mas belum selesai?" tanyaku sambil menggenggam tangan Arka.
"Sebenarnya sudah, kamu sudah mau pulang?" Arka balik bertanya dan ku jawab dengan anggukan namun ekor mataku masih melirik ke arah Awan.
"Beneran sudah selesai?" tanyaku sekali lagi memastikan.
"Kamu benar-benar pengkhianat Ka, kamu bilang kamu nggak akan pernah jatuh cinta pada perempuan yang sama denganku," akhirnya Awan bersuara.
"Perasaan kan nggak bisa diatur-atur kayak gitu," kataku berusaha membela Arka.
Tanpa kata Awan meninggalkan ruangan dan tinggallah aku, Arka dan hening. Arka kemudian menggandengku dan mengajakku pulang. Di mobil hanya ada suara musik yang mengalun.
"Hanya alibi saat kamu bilang kamu menerimaku," kata Arka sambil tetap fokus mengemudi.
"Maafkan aku mas, aku memang bodoh," kataku tanpa berani menatap wajah Arka.
Arka lalu bercerita kalau dulu Arka sering mengenalkannya dengan banyak teman-teman wanitanya, ada beberapa yang memang sempat masuk di hari Awan namun sayangnya gadis itu malah lebih memilih Arka. Ku akui selain wajahnya yang mempesona, Arka juga jauh lebih ramah dan bersahabat jika dibandingkan dengan Awan. Sejak saat itu mereka membuat semacam perjanjian kalau mereka tidak akan jatuh cinta pada perempuan yang sama. Nyatanya sekarang, hal yang mereka khawatirkan terjadi.
"Tapi dalam hal ini tetap aja aku kalah karena hatimu selalu untuk Awan," kata Arka
"Bisa nggak kalau kita nggak perlu membahas tentang Awan lagi? Aku capek dengan masalah Awan terus menerus," kataku dengan nada ketus.
"Nggak bisa dipungkiri, memang Awan itu ada di antara kita," jawab Arka yang membuatku lebih memilih diam.
Sudahlah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kalau tahu seperti ini jadinya, mending tadi aku bersama Rayi, mana aku masih kangen juga sama dia. Ku buka ponselku dan ada WA dari Rayi
[udah selesai Kas] chat dari Rayi beberapa jam lalu
[Udah, ini udah OTW pulang] balasku cepat
[Kamu baik-baik sama Arka] balas Rayi sangat cepat
__ADS_1
[Ini juga baik-baik, kita selalu baik-baik] jawabku ditambahi emoticon senyum
[Andai ada yang jual laki seperti Arka di olshop]
Spontan aku tertawa membaca chat terakhir dari Rayi.
[Kalaupun ada kamu pasti nyari yang dapat cashback 30% dan gratis ongkir pula,.susah] ketikku sambil menahan tawa.
"Bahagia banget?" tanya Arka.
"Ini Rayi, masih kangen," jawabku sambil memasukkan ponsel ke dalam tas.
"Ku anterin kamu ke Rayi ya?" tawaran Arka yang sebenarnya menarik.
"Mas nggak mau ku temani?" tolakku halus.
Padahal aku masih saja khawatir kalau ku biarkan Arka sendirian, dia akan bertemu dengan Awan lagi dan terjadi pertengkaran antara mereka. Aku harus memikirkan berbagai cara supaya aku bisa bersama Arka selama ada di sini.
"Katanya nggak mau bahasa Awan," balasan Arka yang membuat aku tidak bisa berkutik sudahlah, pasti aku bisa menemukan jawabnya.
...****************...
"Hai, Sophie." kataku pagi ini saat ikut lagi ke kantor Arka.
Sengaja ku ikuti Sophie saat dia sedang sendirian. Aku harus mencari sendiri jawaban kenapa dia dan Awan ada di sini. Yang pasti soal pekerjaan tapi bukankah beberapa hari yang lalu Arka sudah menolak mereka. Dan ternyata sangat mudah untuk memancing Sophie berbicara.
Setelah pelelangan di Villa, Sophie kembali lagi ke perusahaan ini untuk menawarkan kerjasama dan saat itu Sophie menawarkan ke Pak Surya langsung dan Pak Surya tertarik dengan proposal yang diajukan oleh Sophie dan mengenai Awan? Ya, karena sudah lama perusahaannya merger dengan perusahaan Sophie, jadi dia ambil bagian dalam proyek kali ini. Pada dasarnya semua memang murni karena pekerjaan hanya saja kehadiranku di kantor ini membuat Awan mencari kesempatan untuk mulai mendekatiku. Segera setelah Sophie pergi, aku lantas menemui Arka di ruang kerjanya.
"Mas, aku pergi ya." pamitku saat ku pastikan hanya ada aku dan Arka di ruangan ini.
"Mau ke mana?" tanya Arka sambil sejenak berhenti dari semua aktivitasnya.
__ADS_1
"Ya, jalan-jalan aja, aku bosan di sini nggak ada kerjaan," kataku mencari alasan.
"Tapi aku aku masih banyak kerjaan yank," kata Arka seolah tidak membiarkanku pergi.
"Ya aku pergi sendiri, aku kan hapal seluk-beluk kota ini. Nanti pasti pulang kok. Nggak akan tersesat dan tak tahu arah jalan pulang," candaku dengan lirik lagu.
Arka lalu mengulurkan tangannya berarti aku sudah diizinkan pergi. Ku cium tangannya dan Arka mengecup keningku. Aku kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah, kebetulan semalam Rayi memberiku kunci supaya sewaktu-waktu aku bisa masuk tanpa harus menunggunya pulang. Aku mampir ke minimarket untuk membeli bahan-bahan membuat brownies. Nggak ada salahnya membuatkan brownies kesukaan Arka untuk mengisi waktu karena jam segini Rayi pasti sedang berada di pabrik sehingga aku pasti akan sendirian di sana.
Bersusah payah turun dari taksi online karena belanjaanku sangat banyak hampir semua diluar list bahan-bahan brownies. Ku buka pintu dan ku tata semua belanjaanku serapi mungkin. Bisa-bisa Rayi mengamuk saat pulang kalau rumah yang sudah sangat rapi ini aku biarkan berantakan. Dalam keasyikan, terdengar langkah kaki di ruang. Sepertinya ini menjelang jam istirahat, mungkin saja Rayi pulang karena dia selesai bertemu buyer.
"Maaf Ra, aku ke sini nggak bilang-bilang," teriakku sambil berjalan ke ruang tamu.
"Maaf sayang, sebenarnya aku dari tadi ngikutin kamu," suara itu menghentikan langkahku saat mata kami saling beradu.
"Awan, kamu ngapain di sini? Kamu nggak kerja?" protesku
Seharusnya aku lari saja tapi entah kenapa kakiku terasa sangat berat. Awan sudah duduk di sofa, tempat dulu kami biasa bersama. Aku kemudian duduk di depan Awan.
"Kita harus bicara empat mata, sayang. Ku mohon kamu jangan lari lagi," kata Awan yang membuat perasaanku sangat tidak nyaman.
"Aku tahu kita selesai saat kamu sudah menikah, tapi aku merasa ada yang belum tuntas diantara kita," lanjut Awan karena lumayan lama aku diam.
"Apa?" hanya kata itu yang mampu ku keluarkan dari mulutku.
"Kamu masih mencintaiku, kan?" kata Awan yang semakin membuatku tak berdaya.
Seketika aku merasa berada tengah kursi persidangan. Suasana teras hening karena semua menunggu kesaksian dariku. Suara hatiku yang ku belenggu memberontak ingin berteriak tapi nalarku menahannya karena tidak semua harus menuruti kata hati. Pergumulan batin yang walau hanya sebentar terasa sengat menekankan. Akhirnya semua tumpah menjadi air mata yang hangat mengalir di pipi.
Awan tetap diam di tempat menatapku teduh. Mungkin sebenarnya dia tahu jawaban dari pertanyaannya tadi tapi dia hanya ingin memastikan semua keluar dari bibirku yang rasanya terkunci rapat.
Saat mulutku terbuka, jawaban apa yang harus ku utarakan?
__ADS_1