
Arka masuk ke kamar dan melihat ponselnya berdering di tanganku. Segera ku berikan ponsel itu kepadanya. Dia hanya tersenyum sinis saat melihat nama yang muncul di situ. Diambilnya ponsel itu dari tanganku dan kemudian menjawabnya. Anehnya Arka menjauh dariku seolah tidak ingin aku mengetahui isi pembicaraan mereka. Pasti rasa penasaran menyelimutiku, pikiranku rasanya buntu karena harus menebak-nebak. Ku rebahkan lagi tubuhku di atas kasur. Punggungku terasa nyaman walau namun kepalaku terasa penuh dengan pertanyaan dan teka-teki.
"Sebenarnya Lovely itu siapa sih mas? Kalian kenal dari mana? Dia juga bisa kenal mama papa dan mereka peduli sama dia," kataku saat Arka sudah selesai menelepon dan rebahan di sampingku.
"Dia bukan siapa-siapa," kata Arka sambil merapat padaku dan tangannya mulai memelukku.
"Aku merasa terganggu dengan kehadirannya," kataku sambil tetap memejamkan mata.
"Yank, seumur hidup aku pertama kali jatuh cinta ya sama kamu, aku pinginnya sampai matipun ya cuma kamu," kata Arka.
"Aku percaya sama kamu, mas. Tapi nggak dengan perempuan-perempuan yang mengejar-ngejar kamu," kataku dan tidak terasa air mata membasahi pipiku.
"Apa kamu mencintaiku? Kamu mulai cemburu dan takut kalau aku bersama yang lain?"
Hanya hening, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutku untuk mengakui perasaanku padanya. Arka memelukku dengan erat. Terasa tangannya mengusap air mata di pipiku dengan lembut. Kenapa bisa begini? Saat benih-benih cinta mulai tumbuh untuk Arka, ada saja godaan yang datang mengganggu, tidak bisakah aku tenang walau sejenak? Terasa hembusan napas Arka dipunggung ku dan mulai terdengar dengkuran halus yang menandakan kalau Arka sudah lelap. Ku letakkan kepalaku di dadanya setelah mengecup bibirnya sejenak berharap kami bisa melewati ini semua.
...****************...
Pagi-pagi terdengar suara riuh Mbok Welas. Arka masih terlelap, pelan-pelan aku bangun supaya tidak menggangu tidurnya. Aku bergegas ke sumber suara dan ada Mbok Welas yang sedang ribut dengan Lovely. Lovely datang ke sini dengan membawa koper besar. Sepertinya dia ingin menginap di sini. atas izin siapa dia melakukan itu?
"Ada apa Mbok?" tanyaku sambil setengah menguap.
"Dia pikir dia siapa melarang aku untuk tinggal di sini?" malah Lovely yang menjawab sambil menunjuk-nunjuk ke arah Mbok Welas.
"Dia ibu di rumah ini," jawabku tegas sambil merangkul Mbok Welas
__ADS_1
"Kamu juga bukan siapa-siapa di sini. Kalian berdua cuma numpang sama Pak Surya," kata Lovely yang benar-benar memancing amarahku.
exhale inhale...exhale inhale.. aku harus tetap anggun dan tidak berteriak apalagi memakinya. Itu hanya akan memperlihatkan sisi buruk ku. Aku meminta Mbok Welas untuk meninggalkan kami berdua di sini karena ini adalah masalah di antara kami. Untung saja Mbok Welas dan menuruti kami.
"Terus mau kamu apa?" tanyaku setengah malas.
"Aku mau tinggal di sini," kata Lovely dengan jarak wajah hanya sejengkal dariku. Aroma parfumnya terhirup olehku.
"Ya, silahkan aja kalau Mas Arka mengizinkan," kataku sambil menggaruk-garuk kepala dan berniat pergi meninggalkannya.
Malas aku harus meladeni orang nekad seperti dia. Bukan levelku juga, lagipula jelas Arka tidak akan mempedulikannya. Namun tiba-tiba dia menarik tanganku sampai aku nyaris terjatuh dan untuk mempertahankan keseimbangan, aku tidak sengaja mendorongnya sehingga dia tersungkur. Minta maaf? Malas! Bukan salahku jika dia sampai terjatuh seperti itu.
"Arka, lihat! Dia mendorongku sampai aku jatuh," rengek Lovely dan saat aku menoleh ternyata Arka ada di belakangku.
"Mas?!" hanya itu yang keluar dari mulutku.
"Kok kamu kasih ke dia?" kata Lovely pada Arka dengan nada merajuk manja dan terdengar menjijikan di telingaku.
"Ladies first," kata Arka yang dibalas Lovely dengan menghentakkan kaki sambil melipat tangan di depan dada.
"Cause I'm your lady, and you are my man," nyanyi ku sambil mencolek dagu Arka.
"Yank, please deh," kata Arka sambil tertawa dan menutup kuping.
"Nggak penting suaranya mas, yang penting nyanyinya pakai hati," kataku membela diri.
__ADS_1
"Ya udah nyanyi dalam hati aja," kata Arka sambil mencolek hidungku.
"Nanti kamu nggak dengar. Ini makan aku suapin," kataku sambil menyodorkan sendok pada Arka.
"Iya, kayaknya nasinya kebanyakan, cukup untuk sepiring berdua," kata Arka sambil membuka mulutnya.
Mbok Welas masuk ke ruang makan dengan wajah heran sambil menatap Lovely heran.
"Kok, Lopi nggak makan? Nggak doyan masakan saya?" tanya Mbok Welas padaku.
"Biar ambil sendiri, kita aja diambilin dia," jawabku
"Tumben dia baik, tapi kok banyak banget ngambilnya" kata Mbok Welas dengan wajah heran.
"Kan buat sepiring berdua," jawab Arka sambil balas menyuapiku.
Mbok Welas tertawa sambil terus menerus meledek Lovely. Akhirnya Lovely ikut sarapan bersama kami tanpa berbicara satu apapun. Sepertinya dia ngambek tapi kasihan, sepertinya tidak ada yang mempedulikannya. Saat semua selesai makan, Mbok Welas berbaik hati untuk menuangkan minuman untuknya namun dia menepis gelas itu sampai tumpah. Terlihat wajah tidak senang Arka. Mbok Welas bergegas hendak membereskannya.
"Nggak usah Mbok, biar Lovely sendiri yang membereskannya," kata Arka sangat tegas.
"Tapi ini kan memang tugasnya Mbok Welas," kata Lovely merengek manja
"Kamu lupa pembicaraan kita semalam?" pertanyaan Arka membuat Lovely tertunduk walau aku tahu dia sedang menggerutu.
Dengan ditemani Mbok Welas, Lovely lalu mengambil kain lap dan membersihkan meja. Arka juga memberikan kamar yang paling sederhana untuk Lovely dan menyuruhnya untuk membereskannya sendiri. Mulai dari memasang sprei dan sarung bantal, menyapu, mengepel dan menata isi kopernya sendiri.
__ADS_1
Kesepakatan apa yang sebenarnya sudah dibuat oleh Arka dan Lovely?