
"Aku ini pasien, mana berani aneh-aneh sama perawat. Bisa-bisa aku ditelantarkan. Makin lama deh sakitnya," kata Arka sambil tertawa. Pasti dia menikmati muka panikku tadi.
"Kamu itu sakit, tapi masih saja sok-sokan nge prank," kataku mencibir.
"Lagian gitu aja kamu udah panik, apa sih yang yang ada di pikiranmu saat ini?" tanya Arka dengan nada manyun.
"Iya, maaf," kataku
Arka kemudian mengatakan kalau dia sakit karena terlalu lelah dan mengantuk. Dia mengaku kalau dia gampang sakit, sebisa mungkin dia jangan sampai kecapekan dan harus tidur teratur. Suhu badannya sudah turun setelah aku berusaha payah memaksanya makan dan minum Paracetamol. Sepertinya dia benar-benar sudah membaik.
Malam ini karena alasan kesehatan Arka, aku harus menginap di sini. Memang kamar Arka jauh lebih besar dari kamarku tapi tetap saja dia menggunakan single bed yang ukurannya sama dengan tempat tidurku di rumah. Di sini juga tidak ada kursi yang bisa aku pakai untuk tidur.
Arka seperti bisa membaca pikiranku,
dan ternyata Arka menggunakan tempat tidur sorong sehingga kami bisa tidur di kamar yang sama namun di kasur terpisah.
"Kalau kecapekan, aku tidurnya nggak bisa diam, sering jatuh, ini solusi mama supaya aku nggak jatuh di lantai," kata
"Aduh, si adik kesayangan mama," kataku mulai meledeknya lagi
"Nanti pintunya dikunci aja biar mama nggak masuk," kata Arka yang membuat otakku berhenti sejenak.
"Kenapa?" tanyaku minta penjelasan karena jujur aku berpikir pasti Arka melakukan hal-hal diluar keinginanku.
__ADS_1
"Ya nanti mama pasti protes kalau tau kita tidurnya misah," kata Arka dan itu sangat masuk akal.
Aku menyiapkan tempat tidurku sendiri. Ku tarik kasur dari kolong tempat tidur, ku bersihkan dan ku pasangi sprei. Setelah semua rapi, Arka malah tidur di kasur bawah.
"Kok kamu malah tidur di bawah?" tanyaku keheranan.
"Kamu aja yang di atas," kata Arka sambil memejamkan mata dan berselimut.
"Kan kamu sakit, kasian kamu dong," kataku menolaknya dan itu jujur dari dalam hati.
"Sudah aku bilang, aku tidurnya nggak bisa diam, nanti aku jatuh malah nimpa kamu, mau? Kalau aku sih seneng-senang aja" kata Arka sambil menguap sangat lebar.
Aku lalu diam tidak menjawab, dalam hati aku meminta maaf, karena berprasangka buruk padanya. Harusnya aku tau, sedari awal Arka selalu sangat baik padaku, dia selalu berusaha menjagaku dan membuatku nyaman. Kalaupun dia mendekatiku dan seolah ingin bertindak aneh itu hanya karena dia suka menggodaku dan menikmati kepanikanku. Entahlah dia selalu menikmati wajahku yang ketakutan dan panik.
Aku merebahkan tubuhku yang lelah di atas tempat tidur dan memandang wajah Arka yang sedikit pucat karena sakit. Walaupun begitu, dia terlihat sangat tampan. Pantas saja banyak perempuan yang jatuh hati padanya. Tubuhnya juga sangat proposional, sepertinya di sanalah tempat pelukan ternyaman berada. Seperti sadar, aku memejamkan mata sangat rapat, apa sih yang ada di kepalaku? Kenapa pikiranku bisa sejauh itu.
Segera ku turuti permintaan Arka kemudian menyelimuti tubuhku dan melayani mata yang sudah sangat mengantuk. Karena merasa aman dan nyaman dengan keberadaan Arka, aku tidur dengan sangat cepat, semua lelah melebur jadi mimpi. Semoga besok semua kan indah, semoga aku bisa menjalani rumah tanggaku dengan baik. Arka adalah suamiku, walaupun terasa berat dan sangat aneh awalnya, aku harus berusaha menjadi istri yang baik untuknya. Aku harus menutup rapat-rapat semua tentang Awan dan mulai membuka diri untuk Arka.
...****************...
Tidurku sangat nyenyak, setelah beberapa malam mengalami insomnia yang sangat mengganggu. Kicau burung dan kokok ayam jago terdengar merdu di telingaku. Sangat nyaman bisa bangun tanpa teriakan Rayi ataupun omelan ibu. Dalam keadaan mata tertutup, aku menggeliat meregangkan tangan dan badan. Dan tanpa sadar aku terguling lalu terjatuh tepat di atas tubuh Arka dan bibirku sampai menyentuh bibirnya. Terasa Arka melingkarkan tangan di tubuhku, rasanya hangat dan nyaman mengimbangi sejuknya hawa pagi ini. Jantungku berdegup kencang dan segera ku jauhkan wajahku dari wajah Arka.
"Udahan morning kiss nya? " kata Arka sambil membuka mata dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Dengan cepat aku.mengambil posisi duduk. Kenapa aku ceroboh begini, Arka memilih tidur di bawah supaya tidak jatuh menimpaku tapi yang terjadi malah sebaliknya.
"Maaf Ka, aku nggak sengaja, aku tadi terjatuh," kataku dan Arka malah duduk sehingga membuat kami berdesakkan.
"Adik, kamu jatuh dari tempat tidur?" terdengar suara Bu Gendis lembut setengah berbisik di balik pintu .
"Nggak apa-apa ma, mama jangan ganggu pengantin baru dong!" kata Arka tanpa berpaling dan terus menatapku dengan senyum yang jujur menurutku sangat manis.
Terdengar suara langkah kaki Bu Gendis melangkah menjauhi pintu. Jujur hal itu membuatku malu setengah mati kalau saja Bu Gendis tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku sendiri heran kenapa aku bisa terjatuh.
"Kas, ku kira aku hanya akan menjadi sahabatmu dalam pernikahan ini, tapi nyatanya kamu terlalu mudah untuk dicintai. Aku nggak masalah kamu nggak membalas cintaku, tapi aku akan selalu menjagamu," kata Arka dengan tatapan mata yang sangat dalam dan sangat menyentuh hatiku.
"Boleh aku cium keningmu seperti kemarin?" lanjut Arka lagi.
Entah terhipnotis oleh kata-kata Arka atau tersihir oleh senyum manisnya, spontan aku menganggukkan kepala. Arka kemudian menempelkan bibirnya di keningku. Lama, sangat lama. Ku memejamkan mata dan tidak munafik, aku menikmati kecupan lembut dari Arka. Apa mungkin aku juga sudah jatuh hati pada Arka? Ataukah hatiku terbelah untuk dua cinta? Atau aku perempuan brengsek yang serakah, tidak ingin melepas cinta lama namun tidak menolak hadirnya cinta yang baru? Ku buka mataku dan melihat air mata di pipi Arka.
"Ada apa, Ka? Kenapa kamu nangis?" tanyaku heran sambil mengusap air matanya dengan ujung jariku.
"Aku hanya takut tidak bisa membahagiakanmu," kata Arka yang lagi-lagi membuat aku tersentuh.
"Ka, aku baik-baik saja," kataku meyakinkannya.
Ponsel Arka berdering, sungguh aneh siapa yang sepagi ini sudah menelepon? Arka lalu bangun dan mengambil ponselnya yang diletakkan di atas nakas.
__ADS_1
"Ada apa, ndan?" kata Arka ketika menjawab panggilan itu.
Ndan? Siapa lagi yang disebut 'ndan' oleh Arka selain Awan? Kalau itu memang Awan, untuk apa dia menelepon? Apa selama ini Arka masih berhubungan dengan Awan? Bukankan kami berencana untuk tinggal di suatu tempat yang jauh dari Awan? Apa yang mereka sembunyikan dariku?