
"Arka itu terlihat akrab dan dekat dengan mommy nya Awan," kataku pada Rayi saat aku sudah di butik.
"Kowe curiga Arka selingkuh sama mommy Awan?" kata Rayi yang membuat kepalaku serasa menggelegar.
"Ih, pikiranmu kelewat gila. Bukan gitu Ra, maksudnya kok bisa mereka akrab?" aku berusaha menjelaskan pada Rayi.
Akhirnya aku memilih memendam sendiri karena sepertinya Rayi juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dari awal juga mommynya Awan tidak pernah terlihat akrab dengan Arka. Apa mungkin hubungan antara Arka dan Awan sudah mulai membaik dan Arka sering mengunjungi Awan lalu akrab dengan mommy? Tapi sejak kapan? Apakah sejak kami memutuskan untuk menetap di kota ini?
"Yo apik to? Arka akrab dengan mommynya Awan, berarti Awan dan Arka sudah baikan. Kamu jangan kebanyakan baper gitu," kata Rayi seolah bisa membaca pikiranku.
"Tapi aku merasa bersalah, sebagai istri nggak tahu banyak tentang suamiku," jawabku dengan pandangan jauh menerawang.
"Sak karepmu Kas, terus ini gimana pesanan yang ini?" kata Rayi sambil menyodorkan berkas kontrak penjualan padaku. "Ya nanti tanyakan aja langsung ke Arka, opo perlu aku sing takon?" kata Rayi saat aku tidak bereaksi atas lembaran kertas yang diserahkan padaku.
"Lha nanti dikiranya aku mikir macem-macem," tolakku dengan nada malas.
"Memang iya, lagian apa masalahnya kalau mereka akrab? Ganggu rumah tanggamu?" nada Rayi mulai sedikit meninggi.
__ADS_1
Aku kemudian menarik berkas yang ada di depanku dan berpura-pura fokus pada setiap kata yang tertera. Dengan nada seperti itu, pasti akhirnya berujung ribut. Akhir-akhir ini aku agak malas berdebat dengan Rayi. Padahal dulu hampir setiap hari kami berdebat tanpa sebab. Tapi jika ku pelajari lebih dalam, ada benarnya juga kata-kata Rayi. Kalau itu tidak menganggu rumah tangga kami, untuk apa aku terlalu memikirkannya. Tiba-tiba ponselku berdering dan itu panggilan dari Arka. Dia menelepon karena hari ini akan telat pulang lagi. Aku menghela napas panjang, kenapa saat aku hamil dan rasanya ingin dimanja tapi Arka malah sering sibuk bahkan kadang tidak pulang ke rumah. Pernah suatu ketika dia tidak pulang hampir seminggu dan hanya datang dengan kata maaf, memelukku lalu tidur. Saat itu Arka terlihat sangat lelah dan sedikit pucat dan dia mengaku hanya kecapekan saja. Ada sesuatu yang disembunyikan Arka, apa aku harus menanyakan padanya atau aku menjadi detektif dadakan saja? Semua itu memenuhi otakku dan membuat aku merasa mual. Entah karena bawaan bayi atau memang karena hal sepele yang terlalu ku pikirkan ini.
...****************...
"Aahva, kenapa belum bobo? Ini Mbah Welas malas sudah nyenyak, ayah mandi dulu ya nanti bobo sama ayah," terdengar suara Arka saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
Aku berpura-pura tidur saat Arka masuk kamar. Terdengar pintu kamar mandi dibuka dan ditutup lagi lalu terdengar suara air dan senandung merdu Arka dari kamar mandi. Tidak lama kemudian Arka keluar dari kamar mandi dan keluar kamar. Terdengar suaranya bercengkerama dengan Aahva dan kemudian senandung Arka yang meninabobokan Aahva. Beberapa menit kemudian suasana hening, ngantuk mulai melanda mataku dan sepertinya aku akan benar-benar tertidur saat aku merasakan tangan Arka melingkari pinggangku dan sebuah kecupan hangat mendarat di pipiku.
"Kenapa belum tidur yank?" pertanyaan itu tentu saja mengagetkanku.
"Aku sudah tidur kok," jawaban itu terlontar begitu saja dari mulutku.
Ku anggukkan kepala sebagai jawaban. Aku sadar kalau aku tidak pernah bisa mengelabui Arka dalam hal pura-pura tidur. Arka kemudian mengatakan rencananya minggu depan untuk meninjau perkembangan pembangunan Agrowisata di desa dan menanyaiku sekali lagi kalau saja aku ingin menetap di desa supaya dekat dengan ibu, namun sekali lagi aku menolaknya. Apalagi saat ini kandunganku sedang perlu perhatian khusus dan aku harus berada dengan faskes terdekat dan dengan dokter yang sudah terbiasa menangani ku.
"OK, berarti nanti kamu aku tinggal seminggu ya?" pamit Arka.
"Aku nggak diajak mudik?" rengek ku.
__ADS_1
"Kamu harus banyak istirahat, kan baru seminggu kemarin kamu bedrest di rumah sakit," tolak Arka dengan halus.
Aku hanya terdiam tidak banyak membantah. Aku sadar tidak boleh egois demi keamanan kandunganku. Arka kemudian membuatkan segelas susu untukku dan memintaku untuk tidur sedangkan dia malah menuju ke meja kerjanya dan membuka laptop. Mataku rasanya sudah tidak bisa menahan kantuk lagi dan akupun terlelap.
Saat bangun pagi ini, Arka sudah berangkat dan sarapan sudah tersedia di meja makan. Kata Mbok Welas Arka yang menyiapkan semua untukku sebelum dia berangkat pagi-pagi sekali dengan sopir dari kantor. Aku memutuskan untuk mandi sebelum sarapan. Usai sarapan aku kemudian mengurus Aahva yang baru bangun dan mengajaknya bermain di teras rumah kemudian Rayi datang bersama Ade dengan omelan dan wajah berkerut-kerut.
"Ra!" panggilku.
"Hei.." jawabnya terdengar sangat ketus.
"Setrikamu rusak ya?" tanyaku saat dia sudah mulai mendekatiku.
"Nggak, kenapa?" tanya Rayi dengan wajah heran.
"muka kusut banget," kataku sambil tertawa.
Ade kemudian asyik bermain dengan Aahva dan Rayi menceritakan kalau Rinto berangkat ke desa untuk mengurus Agrowisata di sana yang sudah mulai jalan pembangunan. Anehnya menurut Rayi, Rinto berangkat sendiri dan ditemani orang kantor. Aku bergegas menelepon ibu di desa untuk menanyakan apa Rinto sudah tiba di desa karena mereka berangkat pagi-pagi sekali. Menurut ibu, Rinto memang sudah tiba bersama dua orang yang tidak ibu kenal. Seketika jantungku serasa copot, lalu ke mana Arka?
__ADS_1
"Mungkin Arka nyusul nanti," kata Rayi mencoba menenangkan aku.
Aku lalu mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak terhubung karena tidak aktif. Aku lanjut menelepon kantor dan sekretarisnya mengatakan kalau dia dinas ke luar kota. Aduh, di mana Arka?