MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 75


__ADS_3

"Ku laporin Pakde Marto ya kalian berdua," ancam Arka sambil tertawa.


"Kayak bibirmu masih suci aja," balas Rinto sambil melemparkan bantal ke Arka namun malah mengenai mukaku.


Saat ku lirik, Rayi masih tertunduk malu. Dia langsung berdiri dan menuju ke belakang dengan alasan membuatku minum. Ku ikuti langkahnya dan dia seolah menghindari ku.


"Udah berapa lama, Ra?" tanyaku.


"Kalian kenapa nggak bilang-bilang kalau mau ke sini?" Rayi berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Udah berapa lama?" ku ulangi pertanyaanku sambil melihat Rayi yang mulai salah tingkah.


Akhirnya Rayi membuka cerita kalau dia dekat dengan Rinto sejak mengurus bapak sakit dan mereka jadian di hari pernikahan kami. Aku bertepuk tangan, pintar sekali Rayi menyimpan semuanya. Kalau aku tidak memergoki mereka tadi, pasti Rayi akan diam saja. Dan hebatnya lagi, ternyata mereka sudah bertunangan dan kalau tidak ada aral melintang, tahun depan mereka akan menikah.


"Bagus ya, aku udah nggak dianggap ni?" protesku penuh emosi


"Ora ngono, Kas. Kamu sendiri juga baru galau sama masalahmu, masak iya aku curhat yang bertentangan dengan suasana hatimu?" kata Rayi membela diri.


"Kasih galau kenapa?" tanya Arka tiba-tiba sudah muncul saja di pintu


"Dulu, Ka." kata Rayi menyelamatkan diriku.


Entah mengapa tatapan Arka seperti menyiratkan sesuatu yang tersimpan di hatinya. Dari tadi sebenarnya aku sudah curiga kalau Arka hanya berpura-pura tidak ada apa-apa. Mungkin dia memintaku ke sini bersama Rayi karena ada yang ingin diurusnya secara sembunyi-sembunyi. Kemudian Arka meminta kami berdua untuk menyiapkan makan malam dengan bahan seadanya. Lebih nikmat masakan rumahan daripada harus keluar. Lalu Arka kembali ke depan menemui Rinto dengan membawa secangkir kopi dan segelas air mineral. Nasib baik tadi siang aku belanja cukup banyak bahan masakan sehingga aku dan Rayi tidak perlu keluar lagi untuk berbelanja. Sudah lama tidak masak dalam keadaan ribut seperti orang tawuran bersama Rayi. Aku sangat menikmatinya karena sejak pindah, semua urusan rumah tangga diurus oleh Mbok Welas. Apalagi urusan masak-memasak, Mbok Welas paling tidak mau berkolaborasi.


Setelah membereskan dapur dan menyiapkan semua di meja makan, aku ke ruang tamu dan sangat kaget saat Arka tidak ada di sana.


"Tadi dia ke dapur buat pamit kan?" Rinto malah balik bertanya saat aku menanyakan keberadaan Arka.

__ADS_1


"Dia ke dapur minta dimasakin," jawabku dan pikiranku mulai kacau.


"Abis dari dapur, Arka pinjam motorku. Katanya cuma sebentar," kata Arka yang membuatku memantau keluar dan mobilnya masih terparkir di sana.


Aku mulai resah dan khawatir karena dari tadi gerak-geriknya tampak mencurigakan. Ku raih ponselku dan ku coba menghubunginya namun ponselnya sedang tidak aktif. Aku lalu menelpon ke apartemen dan bagian sekuriti mengatakan kalau Arka sempat ke sana tapi hanya sebentar dan sekarang sudah pergi lagi. Jam segini, pasti kantor juga sudah tidak ada siapa-siapa yang bisa dihubungi. aku mulai mondar-mandir seperti setrikaan, tapi pikiranmu semakin kusut.


"Kamu yakin kalau kalian baik-baik saja kan?" kata Rayi yang membuat hatiku semakin panas.


"Kita tuh nggak ada masalah," kataku hampir menangis.


Tidak lama kemudian Arka datang sambil tersenyum dan membawa dua kotak martabak telur. Tanpa rasa bersalah dan seolah tidak mempedulikan ku, dia langsung duduk, membuka martabak dan menikmatinya bersama Rinto dan Rayi. Di situlah air mataku mulai tumpah.


"Bojomu nangis, dik." kata Rinto sambil menunjukkan dengan bibirnya.


"Lho, kenapa?" tanya Arka yang kemudian berdiri mendekatiku sambil mengelap tangan di celananya.


"Mas ke mana?" tanyaku sambil terisak.


"Kenapa nggak pakai mobil? Biar nggak ketahuan kalau pergi?" tuduhku membabi buta.


"Nggak gitu, kan lebih cepat naik motor, bisa nyelip-nyelip nggak kejebak macet." kata Arka dan alasannya sangat masuk di nalar.


"Terus, kenapa lama?" tanyaku lagi terus mencari kesalahannya.


"Beli martabaknya antri," kata Arka lagi dan menarik tanganku supaya duduk bersama untuk menikmati martabak.


"Kan udah capek-capek masak. Kalau makan martabak nanti masakannya gimana?" terus saja kucecar dia dengan pertanyaan sampai dia mau mengaku salah.

__ADS_1


"Tenang, nanti aku sama Rinto yang habisan. Charger dulu hapeku," kata Arka sambil menyerahkan charger dan ponselnya.


Sepertinya aku tidak bisa melampiaskan amarahku. Ku turuti permintaannya dan kemudian kami menikmati makan malam bersama sambil bercerita tentang Rayi dan Rinto. Benar saja, dia lelaki itu dengan lahap menghabiskan semua tanpa sisa dan mereka dengan senang hati membereskan meja sekalian mencuci peralatan makan. Rinto kemudian pamit pulang sedangkan Rayi mulai asyik dengan acara televisi. Arka kemudian masuk ke kamar dan tinggallah aku dan Rayi berduaan. Sekitar sepuluh menit, aku memeriksa Arka dan memastikannya sudah tertidur nyenyak dan aku bergegas kembali ke Rayi.


"Kayaknya ada yang disembunyikan mas Arka," bisikku pada Rayi.


"Kamu tuh overthinking, sudah tidur sana. Daripada aku yang nyusulin Arka nih," kata Rayi dan membuatku semakin tidak mendapat solusi.


Mungkin benar kata Rayi, aku yang terlalu overthinking. Sejujurnya aku hanya khawatir Arka diam-diam membuat perhitungan dengan Awan. Lumayan lama juga dia pergi tadi, ada sekitar dua jam lebih, masak iya hanya mengambil charger dan mengantri martabak perlu waktu selama itu?


Aku ke dapur terlebih dahulu untuk menyiapkan air mineral untuk Arka lalu masuk ke dalam kamar. Menatap wajah Arka yang tertidur lelap dan lucu seperti bayi. Hanya saja dia tampak sedikit pucat, ku pegang dahi dan tengkuknya dan ternyata suhu tubuhnya normal. Apa mungkin dia kecapekan?


Ku letakkan kepalaku di atas dadanya, mendengar dengkurannya yang halus dan detak jantungnya yang berirama teratur.


"Ma, adik haus ma," kata-kata itu terdengar lirih keluar dari mulut Arka dengan mata yang masih terpejam.


Aku bergegas mengambil minum untuknya. Untung saja aku sudah menyiapkannya sehingga tidak butuh waktu lama. Aku lalu membantu Arka untuk minum dan Arka membuka matanya.


"Yank?" katanya kemudian berusaha duduk.


"Aku mama, dik" kataku menggodanya dan Arka tersenyum.


"Aku kecanduan meluk kamu," kata Arka sambil melingkarkan tangannya di pinggangku dan meletakkan kepalanya di bahuku.


"Iya, tapi kamu berat," protesku lalu Arka menarikku ke dalam pelukannya dan membiarkan kepalaku tepat di dadanya.


"Mumpung aku masih sempat dan punya banyak waktu bersamamu, aku mau meluk kamu terus," kata Arka sambil membelai rambutku

__ADS_1


"Ya udah, kita tidur yuk. Kurang tidur nggak baik untuk kesehatan," kataku.


Aku kemudian tidur di pelukan hangat Arka. Dia sudah mulai terlelap dan aku masih sulit memejamkan mata. Banyak hal yang terjadi hari ini. Aku dan Awan benar-benar usai tapi kenapa kata-kata Arka tadi sangat menggangguku? Perlahan ku pejamkan mata berharap lelap menghampiriku.


__ADS_2