MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 60


__ADS_3

Di sinilah kami akan tinggal, di sebuah kota yang terbilang kecil namun semua fasilitas memadai. Setidak-tidaknya masih ada apotek dan minimarket yang buka 24 jam. Suasananya juga sangat menyenangkan, tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi.


Rumah yang kami tempati lumayan besar dengan empat kamar tidur. Ada dua kamar dengan kamar mandi dalam. Halamannya juga luas dan asri dengan berbagai tanaman hias. Di bagian belakang, ada banyak tanaman buah seperti pohon mangga, jambu air dan kelengkeng dan ada kolam ikan koi. Ini adalah kediaman Eyang Kakung dan Eyang Putri Arka, orang tua dari Bu Gendis yang sudah hampir setahun ini tidak dihuni. Memang arsitekturnya sedikit kuno, tapi rumah ini benar-benar nyaman.


"Kamu suka tempat ini?" tanya Arka sambil memelukku dari belakang sudah seperti drakor aja.


"Iya, suasananya tenang," kataku.


"Tapi ini rumah tua, kamu tahu kan maksudnya?" kata Arka setengah berbisik lalu melepaskan pelukannya dan pergi


"Ah, Arka udah dong, kamu kok mulai usil lagi sih?" kataku merengek dan mengikuti langkah Arka yang tertawa usil.


Sejak dia tahu aku penakut ketika hari pemakaman bapak, dia sering menakut-nakuti ku dengan berbagai kisah seram sebagai dongeng sebelum tidur. Aku tahu itu cara Arka supaya aku mau tidur dipeluknya sepanjang malam.


"Ya udah, malam ini aku tidur sama mbok Welas," kataku mengancam.


"Si mbok mau tidur sendiri, bebas ngorok, ngentut dan nglindur tanpa mengganggu pihak manapun," kata Mbok Welas yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Abisnya Mas Arka jahil, mbok" kataku merengek pada Mbok Welas.


"Ya, kamu tidur sendirian, kan banyak kamar. Kan gitu ya dik Arka?" kata Mbok Welas yang disambut oleh jempol Arka dan senyum semangat.


Aduh, gagal dapat dukungan. Karena aku pantang menyerah, aku berpura-pura ngambek dan masuk ke salah satu kamar dan rebahan di kasur yang sudah rapi, bersih dan wangi hasil karya Mbok Welas. Apa sih yang harus aku takutkan, selama ini kan aku juga tidur sendiri, di rumah sendiri, dan hanya kadang-kadang ditemani Rayi. Tiba-tiba rindu pada Rayi memanggil. Ku ambil ponselku dan betapa kagetnya aku karena ada pesan dari Rayi dan itu sudah sebulan lebih.


[Kas, tiba-tiba kangen kowe ] isi pesan Rayi

__ADS_1


[Iya, aku juga kangen] balasku sesuai isi hati.


[Nggak dibalas sekalian lebaran aja? Biar bisa sekalian mohon maaf lahir dan batin?] balas Rayi yang membuatku tertawa ngakak.


[Iya, maaf lama balasnya.] ketikku sambil tersenyum


[Itu lebih dari lama, Kasino!] balas Rayi dan bisa aku bayangkan muka manyun Rayi yang mengomel tanpa henti.


[Paling nggak 3-4 bulan sekali kami pulang. Nanti aku pasti mampir] ketikku dengan emoticon cium.


[OK] hanya itu balasan Rayi.


Pintu kamar terbuka saat Arka melongokkan kepalanya dan meminta izin untuk masuk. Aku yang berpura-pura ngambek hanya mendiamkannya dan berpura-pura sibuk dengan ponselku. Arka kembali mengetuk pintu dan meminta izin lagi namun tetap aku abaikan. Biar saja dia di situ selama yang dia mau.


Walau aku diam membisu, lama-kelamaan dia masuk juga dan duduk di sampingku. aku terus saja mengabaikannya dan kita lihat apa yang akan Arka lakukan selanjutnya. Perlahan ku lirik ke arahnya dan ternyata dia sudah pulas. Entah sungguhan atau berpura-pura. Kasihan juga dia terlihat lelah karena baru pindahan. Aku kemudian bangkit dari tempat tidur untuk mengambil botol minumannya yang biasa diletakkan di nakas. Ku akui Arka memang sering mengkonsumsi air mineral, sehari bisa habis dua setengah sampai tiga liter. Memang masih baru di rumah ini sehingga aku masih belum hapal setiap ruangan. Akhirnya aku bertemu dapur dan mengambilkan air minum. Apa sebaiknya aku meletakkan dispenser dan galon di kamar tidur saja supaya tidak perlu wira-wiri hanya untuk mengambil air mineral. Sebaiknya aku membicarakan itu dengan Arka.


Saat aku kembali ke kamar, Arka sudah tidak ada di sana padahal baru sebentar saja aku meninggalkannya. Aku meletakkan botol minuman di nakas dan bergegas mencari Arka. Aku membuka pintu setiap kamar dan tidak ada siapapun. Aneh, bahkan Mbok Welas juga tidak terlihat. Aku berkeliling bahkan sampai mencari di luar rumah, dan tidak ada satupun yang aku temui. Aduh, Arka benar-benar keterlaluan, begitu tega meninggalkanku sendirian di sini, mana hari sudah menjelang senja, namun entah di mana mereka berada.


"Mas, Mas Arka! Mbok..Mbok!" teriakku dalam keputusasaan.


Aku bergegas menutup semua pintu dan jendela serta menyalakan semua lampu karena hari mulai gelap. Terakhir aku kembali ke kamar tadi untuk mengambil ponselku dan mendapati Arka yang sedang tertidur. Air di botol minumnya juga sudah berkurang. Ini aneh, sungguh aneh. Aku mendekati Arka dan pelan-pelan membangunkannya.


"Mas tadi ke mana?" tanyaku saat Arka membuka matanya.


"Tidur, bangun sebentar minum, terus tidur lagi," katanya sambil duduk dan mengucek mata.

__ADS_1


"Mbok Welas juga nggak ada," kataku dengan kening berkerut.


"Mbok dari tadi di dapur. Udah mateng kalau mau makan," kata Mbok Welas di depan pintu yang memang ku biarkan terbuka.


"Nggak ada tadi itu nggak ada siapa-siapa," jawabku sambil mengacak-acak poni.


"Nah, kamu tahu kan itu artinya apa?" kata Mbok Welas setengah berbisik dan mendekati kami.


Hatiku berdetak kencang, rasanya keringat dingin mulai membasahi tubuh. Kalau itu keluar dari mulut Arka, mungkin saja dia sedang mempermainkanku, tapi ini keluar dari mulut Mbok Welas. Spontan ku pegang tangan Arka yang berada di sampingku. Setidak-tidaknya dulu Mbok Welas pernah tinggal di rumah ini, jadi wajar kalau dia tahu segala sesuatu tentang rumah ini. Mbok Welas kemudian pergi begitu saja tanpa melanjutkan kata-katanya.


"Mas, sebenarnya ada apa sih?" tanyaku berbisik pada Arka seakan takut ada yang mendengarkan pembicaraan kami.


"Kan tadi Mbok Welas yang ngomong, tanya Mbok Welas dong," jawab Arka kemudian bangun dan siap-siap pergi.


"Mas mau ke mana?" tanyaku cepat.


"Makan dong. Ayo, kamu juga harus makan," kata Mas Arka dan aku kemudian mengikuti langkah kakinya.


Masakan Mbok Welas memang tidak ada tandingannya. Sayur Nangka Muda, sambal terasi dan ayam gorengnya memang membuat kangen rumah. Ku lihat Arka makan dengan sangat lahap, aku juga sangat menikmati makan malam ini.


"Tinggalin aja nduk, kalau kamu yang beresin nanti mbok dikasih pesangon lagi sama Dik Arka," kata Mbok Welas saat aku membantunya membereskan meja makan dan ingin mencuci semua peralatan makan yang baru saja kami pakai. Arka memberi isyarat padaku untuk menuruti semua permintaan Mbok Welas.


"Kamu di rumah sama Mbok Welas ya, aku harus pergi sebentar, ada yang harus aku lakukan," kata Arka yang kemudian mencium keningku.


Mbok Welas sudah duduk di depan TV menunggu sinetron favoritnya yang masih akan tayang setengah jam lagi. Aku mendekati Mbok Welas yang rebahan di kasur rasfur dengan remote di tangannya. Aku memberanikan diri bertanya apa maksud yang perkataannya tadi. Aku sudah siap dan tidak sabar dengan kisah dari Mbok Welas. Tidak masalah kalau ceritanya sangat menakutkan karena nanti malam pasti Arka akan menemaniku.

__ADS_1


__ADS_2