
"kamu yang kuat ya, Kas." kata Arka seolah berat untuk mengatakannya padaku.
"Ada apa?" hatiku rasanya tidak karuan.
"Bapakmu udah nggak ada," kata Arka terbata-bata.
"Ya jelas dong, Ka," desakku semakin menjadi.
"Bapakmu meninggal, aku akan mengantamu pulang" kata Arka.
Kabar yang membuat langit serasa runtuh dan bumi bergetar hebat. Aku dan Arka detik itu juga langsung bergegas ke desa. Ku tandai hari ini sebagai hari terkelam dalam hidupku, hari dimana aku putus dengan Awan dan hari aku kehilangan bapak untuk selamanya.
Setelah menempuh perjalanan yang terasa sangat lama dan terasa sangat menyiksa, kami tiba di desa. Para pelayat sudah memenuhi pelataran rumah, ibu terlihat tegar di samping jenasah bapak dan ditemani oleh Bude Rini. Pak Surya dan Bu Gendis juga ada di sana melantunkan doa untuk bapak. Beberapa jam setelah kedatanganku, upacara pemakaman segera dilaksanakan. Tidak ada yang ku bawa selain doa untuk bapak.
Aku termenung menatap gundukan tanah yang sekarang menjadi tempat bersemayam bapak. Terasa seseorang merangkul aku dari belakang dan membisikkan, "Bapakmu sudah tenang, kamu harus kuat dan ikhlas,"
"Nggih, Bu Gendis," jawabku sambil mengusap air mata yang perlahan gugur.
"Dik, kamu temani Kasih, jangan sampai dia sendiri," kata Bu Gendis kepada Arka.
"Baik nyonya," kata Arka sambil membungkuk
"Adik, ini bukan waktunya untuk bercanda ya," kata Bu Gendis sambil mencubit pinggang Arka.
Arka meringis kesakitan dan tetap berdiri di sampingku tanpa kata. Lama aku di sini sampai semua pelayat pergi dan hujan gerimis mulai membasahi bumi.
"Hujan rintik-rintik, Kas," kata Arka yang hening sekian lama.
"Kalau kamu mau pulang tinggalin aja aku sendiri di sini," kataku tanpa menoleh
__ADS_1
"Iya," jawab Arka dan suasana kembali hening.
Gerimis perlahan menjadi deras. Aku basah kuyup tapi entah kenapa aku enggan beranjak dari sini. Seluruh kesalahan ku limpahkan atas egoku sehingga semua ini terjadi. Aku tak kuat berdiri dan duduk bersimpuh di samping makam bapak.
"Kamu capek, Kas?" suara seorang lelaki dari belakang yang mengagetkanku.
Nalarku kembali, ini hujan deras di tengah kuburan, suasana mendung mungkin hari sudah menjelang senja. Perasaan takut menyelimutiku dan aku tidak berani menoleh. Ku pejamkan mataku dan tertunduk, terasa tangan dingin menyentuh pundakku. Aku bergetar ketakutan semakin menjalar. Aduh, kenapa jadi uji nyali seperti ini?
"Kas, Kasih," suara berat itu memanggilku lagi.
"Aduh hantu, jangan ganggu aku, aku nggak ada niat ganggu," ku ucapkan kata-kata itu dengan berteriak sekuat tenaga.
"Hantu? Ini aku Arka!" kata suara itu dan aku berani membalikkan badan dan disambut oleh semburan bersin dari Arka.
"Bukannya kamu sudah pulang?" tanyaku sambil menghembuskan nafas lega.
"Aku nggak takut, cuma kaget aja," aku beralasan untuk menutupi keparnoanku.
Arka terus menertawakan ku sepanjang jalan di bawah guyuran hujan yang semakin deras dan mulai berkabut. Namun aku merasa kasihan pada Arka, dia bersin terus disepanjang jalan. Dia kelihatan menggigil mungkin karena kedinginan.
...****************...
Rinto memberitahuku kalau Arka flu dan demam tinggi karena kehujanan kemarin. Dengan ditemani Rinto aku memberanikan diri untuk menjenguk Arka di rumahnya. Rumah yang berkonsep joglo modern dengan pendopo yang luas dan dikelilingi sawah. Bu Gendis menyambut kedatanganku dan mengantarku ke kamar Arka.
"Dik, ini ada Kasih sama Rinto," kata Bu Gendis lalu meninggalkan kami bertiga.
"Adik atit ya?" kata Rinto menggodanya.
"Si mama juga masih aja manggil aku adik," kata Arka protes dan berusaha duduk.
__ADS_1
"Ya kan kamu anak bungsu, jarakmu sama kakakmu aja hampir 12 tahun," kata Rinto yang malah berbaring di tempat tidur Arka.
Mataku berkeliling melihat seluruh ruangan. Kamarnya termasuk rapi untuk standar kamar lelaki. Banyak sketsa wajah tertempel di sana di setiap pojok kanan bawah tertulis nama Arka yang menunjukkan kalau itu hasil karyanya.
Aku tersenyum, ada banyak wajah yang ku kenal di situ. Ada wajahku, wajah Rinto, wajah Rayi, dan Awan. Ku pandang lekat pada lukisan wajah Awan yang tersenyum. Ku bisikkan maaf dalam hati untuknya. Karena aku, persahabatan mereka sirna seketika.
"Aku kenal Awan dengan baik, suatu saat entah kapan, dia pasti mengerti," kata Arka yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingku.
"Kok kamu bangun? Matamu masih berair dan badanmu masih sangat panas," kataku sambil menyentuh dahinya.
"Kok kamu ke sini? Bapakmu baru meninggal kemarin, kamu nggak nemenin ibumu?" tanya Arka.
"Biar bisa move on," jawabku berusaha santai.
Kalau mau jujur, aku tidak tahan berada di rumah itu, ada banyak kenangan bersama ayah yang seolah berebutan masuk ke otakku akhirnya tumpah menjadi air mata. Apalagi di ruang tamu tempat kami bertengkar karena aku mempertahankan egoku. Menurutku di sanalah awal penyebab kepergiaan bapak. Bapak sakit karena aku membangkang, bapak sakit karena aku tidak menurut dan ngotot dengan pilihanku sendiri. Semua karena salahku. Bapak semoga aku bisa menebusnya
Aku beredar ke pinggir tempat tidur dan menuju ke jendela yang terbuka lebar. Ku lihat ke luar jendela, sawah yang masih hijau terhampar luas. Kadang ada burung nakal yang mampir mungkin untuk mengambil sebutir beras.
"Di sini pemandangannya bagus dan sangat tenang," kata lebih bergumam pada diriku sendiri.
"Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di sini," kata Arka yang ternyata berada di belakangku dan mendengarkanku.
"Nikah dulu, baru Kasih dibawa ke sini," ucap Rinto disambut tawa oleh Arka.
"Kalau Kasih mau, apapun kan kuberi." kata Arka sambil meninju pundak Rinto.
"Gombalmu Kiyo Ka,.Arka," balas Rinto sambil tertawa.
Lama aku berdiri di jendela ini, entah apa yang dibicarakan oleh Rinto dan Arka, aku sudah tidak peduli. Pikiranku membayangkan, apa yang akan aku lakukan saat sudah resmi menjadi istri Arka? Apakah aku akan tinggal di rumah ini dan setiap hari memandang sawah itu? Ataukan aku akan kembali ke kota, tinggal di rumah yang masih harus ku cicil dan menjadi wanita karier? Bapak, kenapa bapak tidak mau menunggu sampai saat itu tiba? Mengapa bapak tidak mengantarku ke pelaminan untuk diserahkan kepada lelaki pilihan bapak? Mengapa nantinya hanya ada aku dan ibu di foto pernikahan ku? Air mata kembali mengalir, dan basah. Dadaku rasanya sesak, pandangan berkunang-kunang, duniaku tiba-tiba gelap, dan terasa tangan yang panas menahan tubuhku, membopongku dan meletakkanku di kasur yang empuk. Inikah yang namanya pingsan? Aku sudah tidak kuat lagi
__ADS_1