
"Maaf ya yank, sudah bikin kamu stress tapi aku beneran senang saat tau kalau kamu merasa memilikiku," kata Arka saat aku sibuk menyempurnakan desain baju untuk Lovely.
"Nggak nyangka kalau mas itu raja tega," kataku sok sibuk tanpa menoleh ke arahnya.
"Yank, kamu suka aku karena apa?" tanya Arka yang membuatku bingung serasa tiba-tiba dapat pertanyaan sekelas olimpiade sains.
"Karena mas ganteng," jawabku sambil menimbang-nimbang.
"Apa?" tanya Arka berusaha meyakinkan diri.
"Terus mas juga baik, penyayang, pinter, pokoknya banyak deh," jawabku terkesan nyari aman.
Tapi sepertinya Arka kurang puas dengan jawabku karena suasana tiba-tiba menjadi hening dan tidak ada respon sama sekali dari Arka. Aku menoleh dan tawaku lepas melihat Arka memakai daster yang ku buatkan dengan rambut ikalnya yang dikucir dua. Belum lagi dia memakai make up yang on point membuat wajahnya terlihat sangat cantik. Astaga aku jadi minder sendiri. Rasanya tawaku tidak bisa berhenti sampai mengeluarkan air mata.
"MUA nya siapa?" tanyaku masih sambil tertawa
"Dress By Kasih, Make up by Love and hair do by Mbok Welas," jawab Arka dengan gaya centilnya.
Arka kemudian berjalan mendekatiku dengan gaya ala model di catwalk dan membuatku semakin tertawa. Saat dia sudah berada tepat di depanku, reflek aku langsung memeluknya. Arka kemudian membalas pelukanku dan berkali-kali mencium keningku. Air matanya tiba-tiba jatuh namun senyum bahagia terukir di bibirnya. Aku kemudian mengambil ponselku dan mulai mengambil foto Arka yang terlihat lucu. Tapi tentu saja untuk koleksi pribadi. Ada pesan yang masuk entah dari siapa namun aku abaikan. Saat ini aku hanya ingin menikmati waktu bersama Arka setelah beberapa waktu yang menegangkan.
...****************...
"Ayo tidur," kata Arka setelah aku selesai membersihkan make up di wajahnya.
__ADS_1
"Iya," jawabku sambil menguap.
Rasanya hari ini sangat melelahkan. Aku tidur di dada Arka dan tangannya memelukku erat. Saat terdengar dengkuran halus, aku kemudian teringat pesan yang masuk di ponselku. Aku bergegas bangun dan mencari ponselku. Ternyata itu pesan dari Pak RT yang mengabarkan kalau Rayi kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit dan belum sadarkan diri. Timbul penyesalan di benakku, kenapa tidak dari tadi aku membuka pesannya. Aku segera menghubungi Rinto untuk mendapatkan informasi lebih lanjut namun tidak tersambung. Aku mulai panik dan menangis sampai Arka terbangun.
"Ada apa yank?" tanya Arka sambil berusaha duduk dan mengucek matanya.
"Rayi kecelakaan," kataku disela isak tangisku.
Kami lalu bergegas siap-siap untuk menyusul Rayi ke rumah sakit. Setelah pamit pada Mbok Welas kami langsung meluncur. Perjalanan sangat lancar karena malam hari dan lalu lintas tidak terlalu padat.
"Mas, ini kan sudah malam banget ya, kan sudah nggak jam besuk?" sadarku saat kami hampir sampai di rumah sakit.
"Kita ke apartemen aja dulu, besok pagi kalau sudah jam besuk kita langsung ke rumah sakit," saran Arka terdengar sangat bijak.
"Bangun yank, ayo mandi terus kita jenguk Rayi," suara Arka lembut membangunkan ku yang tertidur di meja.
Aku lalu mandi bebek supaya cepat dan tanpa dandan segera berangkat, yang penting memakai minyak wangi. Sesampai di rumah sakit, hujan turun dengan deras. Kami ke bagian informasi untuk mengetahui ruang rawat Rayi dan bergegas ke sana. Dan aku bisa bernapas lega saat melihat Rinto menyuapi Rayi.
"Kata pak RT kamu nggak sadar, Ra?" tanyaku sambil melihat Rayi yang mengalami luka ringan
"Kowe buka chat setahun kemudian?" Rayi malah mengomeliku dan kujawab dengan senyum tersipu.
Rayi ternyata disenggol saat bersepeda motor dan malangnya, kepalanya membentur trotoar yang mengakibatkan Rayi pingsan lumayan lama. Saat itu pak RT hanya mempunyai kontakku sehingga berusaha mengabariku. Saat Rinto ke rumah, tetangga memberitahunya dan Rinto segera ke rumah sakit dan ponselnya yang kehabisan baterai dan Rinto tidak membawa charger sehingga tidak bisa dihubungi. Siang ini Rayi tinggal menunggu visit dokter dan kemungkinan sudah bisa pulang karena lukanya tidak terlalu parah.
__ADS_1
Aku dan Arka memutuskan untuk tinggal di sini beberapa hari lagi supaya aku bisa menemani Rayi. Arka juga ada urusan yang harus diselesaikan di kantor. Sekalian aku bisa berbincang lebih lanjut dengan Keysha mengenai kerjasama kami. Aku sudah mengirimkan beberapa desain dan menurut Keysha sudah ada yang berminat dan sedang proses jahit. Aku menyempatkan untuk menelepon Lovely dan syukurlah dia tidak bermasalah jika harus menyelesaikan bajunya dengan Mbak Maura. Untung saja aku sudah menyelesaikan desain untuk Lovely.
"Jangan terlalu repot, nanti kecapekan. Harus tetap fit biar cepat punya anak," kata Rayi saat aku menceritakan seabrek agendaku tadi padanya.
Entah mengapa, spontan aku menatap Arka dengan tatapan penuh tanya seolah meminta pertanggungjawabannya. Arka balas memandangku kemudian memalingkan muka dan terlihat salah tingkah.
...****************...
"Memangnya kamu pingin punya anak?" tanya Arka saat kami sudah bersantai di apartemen.
"Gimana mau isi, berbuat aja nggak," jawabku sambil menghela napas.
"Ya aku takut yank," kata Arka yang sudah memelukku.
"Takut kenapa? Memangnya ketemu setan? Aku kira dulu karena ada Lovely jadi kamu nggak mau sama aku," tanyaku semakin ketus karena tidak mengerti arah pembicaraan Arka.
"Nggak ada urusan sama Lovely yank. Pas itu kamu kesakitan yank, terus kayaknya kamu menghindari aku, jadi aku takut," kata Arka yang membuatku tepuk jidat.
Akhirnya aku memilih diam, seolah tidak terjadi pembicaraan apapun. Masak iya aku perempuan harus nyosor duluan? Soang kali, nyosor-nyosor tak terkendali. Tiba-tiba aku merasa hembusan napas Arka dan kecupan lembut di leherku yang membuat aku merinding. Aduh? Kenapa aku tiba-tiba panik begini? Nyatanya bukan Arka yang takut, tapi aku yang merasa sedikit ngeri saat tangan Arka perlahan menjelajahi tubuhku. Ku telan ludahku perlahan berharap aku bisa menikmati ini namun tiba-tiba Arka menghentikan aktivitasnya.
"Aku mandi dulu ya, biar wangi," kata Arka sambil melepaskanku.
Sedikit lega tapi sedikit sebel. Dalam hati berteriak, kapan mau dimulai? Aku sudah deg-degan malah ditinggal mandi. Aku memutuskan untuk rebahan dulu di kamar supaya cepat saja, tidak ada alasan lagi pindah lokasi. Tapi lelah dan ngantuk perlahan menghampiriku dan aku ketiduran saat menunggu.
__ADS_1