
"Sebenarnya nggak apa-apa kamu bahas tentang Awan, tapi jadi masalah kalau kamu malah seharian menghindari aku seperti ini," kata Arka malam ini sebelum kami tidur.
Aku hanya mampu tertunduk tidak berani menatap mata Arka. Sejak Arka menegurku karena mendengar percakapanku dengan Keysha tadi aku memang merasa tidak nyaman berada di dekat Arka. Aku takut Arka cemburu dan marah padaku. Entah alasan apa yang ingin ku utarakan padanya untuk membela diri. Diam adalah jalan terbaik.
"Yank," panggil Arka lembut.
"Tadi Keysha yang mulai mas," jawabku masih dengan kepala tertunduk.
"Aku dengar semua kok, nggak perlu kamu jelasin," kata Arka sambil mengangkat daguku dan menatap ke arah mataku.
"Sampai sekarang Awan masih berharap sama kamu, kalau kamu nggak ingin balikan sama Awan, tolong hindari untuk bertemu dengannya ataupun mencari tahu atau berhenti berurusan dengan segala hal yang terkait dengan Awan," kata Arka sambil menggenggam lembut jemariku.
Apa Arka pernah bertemu dengan Awan akhir-akhir ini? Dari mana dia tahu kalau Awan masih mengharapkan ku? Pertanyaan itu hampir saja keluar dari mulutku tapi ku telan lagi. Jangan sampai Arka berpendapat kalau Aku juga ingin kembali pada Awan. Memang sulit melupakan Awan tapi, Arka sudah sangat membahagiakan hidupku dan tidak pernah membuatku bersedih dan mengeluh. Akhirnya aku menjawab dengan anggukan kepala kecil yang menandakan kalau aku akan menuruti permintaannya. Lagi pula untuk apa aku kembali pada Awan kalau hidupku dengan Arka baik-baik saja. Walaupun aku masih merasa bersalah karena sudah membuat hubungan persahabatan mereka retak.
"Sebaiknya kamu tolak saja permintaan Keysha, toh Keysha kan juga desainer, dia pasti bisalah mengerjakannya," kata Arka sekali lagi sebelum menepuk lembut ubun-ubun kepalaku dan berlalu pergi.
Aku menyusul Arka ke kamar dan dia terlihat sudah tidur. Namun posisinya memunggungi tempat tidurku. Aku menghela napas, marah kah Arka padaku? Ku rebahkan tubuhku dan memeluknya dari belakang, tanganku ku lingkarkan pada pinggangnya dan pipiku ku tempelkan pada punggungnya. Timbul penyesalan, kenapa aku tidak bersikap biasa saja terhadap Arka tadi? Apa mungkin sebenarnya Arka cemburu tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak meledakkan emosinya? Ku rapatkan tubuhku ke punggung Arka dan semakin mempererat pelukanku. Terasa tangan Arka menggenggam jemariku. Ku pejamkan mataku dan aku mulai terlelap.
...****************...
__ADS_1
"Pas ya lokasinya dipojokan sini," kata Arka sambil merentangkan tangan.
"Terus?" aku bertanya dan berpura-pura tidak tahu mengenai rencana Arka.
"Ini mau aku beli, untuk kamu sama Aahva, yank." kata Arka sumringah.
"Terus aku sama Aahva kamu suruh menuai padi milik kita?" kataku sambil menyanyikan bait lagu Ebiet G. Ade.
Arka tertawa mendengarkan pertanyaanku itu. Tawa yang selalu membuat hatiku bahagia. Ternyata Arka berencana membuka argowisata di sana. Dibuka untuk acara outbound anak-anak sekolah maupun acara kumpul keluarga yang nantinya pengunjung bisa berlatih bercocok tanam maupun memberi makan hewan ternak. Benar-benar pemikiran bisnis yang luar biasa. Tapi aku terpaku saat tiba-tiba Arka mengatakan bahwa sebenarnya ini adalah mimpinya bersama Awan untuk bisa memiliki area Argowisata di mana tempat itu juga bisa bermanfaat dan mendatangkan keuntungan bagi masyarakat sekitar. Kenapa nama Awan disebut-sebut lagi padahal kemarin Arka yang memintaku agar tidak mencari tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan Awan. Namun untung saja Rinto datang bersama Rayi dan Ade sehingga kami langsung mengganti topik pembicaraan kami. Rinto yang menggendong Ade kemudian mengajak Arka dan Aahva ke sisi lain dari area persawahan ini.
"Kok kowe nolak garapan e Keysha?" tanya Rayi saat hanya ada kami berdua.
"Aku nggak bisa ngerjain, baru nggak ada ide. Aku baru fokus sama tema ibu hamil dan menyusui," jawabku enteng sambil mencari tempat yang nyaman untuk duduk.
Apalagi saat Rayi mengatakan kalau beberapa kali Awan pernah datang ke butik untuk menanyakan kabarku. Tapi Rayi tidak pernah jujur mengenai tempat tinggalku. Rayi hanya memberikan lokasi apartemen yang memang dari dulu sudah diketahui Awan. Tapi nyatanya Awan hanya menemui Arka di sana. Mungkin saat itulah Awan mengatakan pada Arka semua isi hatinya. Ternyata selama ini Awan berada di luar negeri namun karena daddy-nya sering sakit Awan terpaksa kembali untuk mengurus perusahaan yang ada di sini dan untuk menyambut kembalinya Awan yang akan menetap di sini, Chloe ingin mengadakan semacam.pesta penyambutan. Dan menurut Rayi, sepertinya Awan tidak pernah bertunangan dengan Chloe hanya Chloe saja yang mengaku-ngaku. Sama halnya seperti dulu saat Chloe mengaku kalau dia adalah pacarnya Awan.
"Sudahlah Ra, nggak usah bahas tentang Awan," tolakku walau sebenarnya rasa penasaran masih memenuhi benakku.
"Baper ya?" ledek Rayi sambil tersenyum menggodaku.
__ADS_1
"Aku pindah dari kota supaya nggak berurusan lagi sama dia, jadi aku ya nggak mau tahu lagi tentang dia," jawabku sambil berlalu pergi dan menyusul Arka.
Ku kira hidupku sudah tenang sejak masalah terakhir dengan Aditya, tapi kenapa Awan kembali lagi dan mengusik hati dan pikiranku? Tapi aku pernah berpikir untuk memperbaiki hubungan persahabatan antara Awan dan Arka, apa ini saatnya aku merealisasikan keinginanku itu? Nyatanya kedatangan Awan masih menuntut cinta dariku. Kalau aku bertemu dengannya pasti kebenciannya pada Arka semakin memanas dan sulit untuk mendinginkan perasaannya. Ya Tuhan, saat ini aku hanya ingin hidup tenang bersama Arka dan Aahva. Arka terlalu baik untuk disakiti dan dikhianati dan aku tidak ada niat untuk melakukan itu padanya. Walau awalnya tidak aku inginkan, tapi aku ingin agar rumah tanggaku dan Arka selalu baik-baik saja. Kenapa begitu sulit bagi Awan untuk melupakanku?
"Apa Key?" jawabku saat ponselku berdering.
"Kamu beneran nggak bisa bantu Kas?" tanya Keysha setengah merengek.
"Maaf Key, aku baru fokus sama Aahva dan ada pekerjaan butik yang harus aku selesaikan. Susah ngatur waktunya," aku berusaha menolak dengan halus.
"Ya, Kasih!" keluh Keysha.
"Lagian butikmu kan untuk wedding dress, ngapain kamu ngurusin baju party? Fokus dong sist," aku berusaha beralasan.
"Cuan," jawab Keysha sambil tertawa ngakak.
Aku buru-buru mengakhiri panggilan dan mengirim chat ke Keysha dan mengatakan kalau ponselku lowbat dan kemudian aku mematikan ponselku. Apa telingaku tidak salah dengar? Aku mendengar suara Awan yang meminta pendapat pada Keysha. Mungkin ini taktik Awan supaya bisa mencari alasan untuk bertemu denganku. Ada benarnya juga kata Arka, sebaiknya aku menolak permintaan Keysha.
"Kenapa yank?" tiba-tiba suara Arka menyapaku, entah kapan dia berada di situ
__ADS_1
"Keysha," hanya itu yang keluar dari bibirku.
Aku lalu mengambil Aahva dari gendongan Awan dan mengajak pulang dengan alasan aku kecapekan. Tapi pikiranku mulai kusut sejak mendengar suara yang mirip dengan Awan.