MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 31


__ADS_3

Kami sampai di puskesmas dan syukurlah bapak sudah ditangani. Setelah diinfus dan mendapatkan perawatan, akhirnya bapak sadar juga. Bergegas ku dekati bapak yang tampak menangis didampingi ibu.


"Kamu sama siapa nduk?" tanya ibu sambil mengusap wajah bapak dengan handuk kecil.


"Sama Arka," kataku dan Arka muncul kemudian mencium tangan ibu.


"Ojo njangkar, manggilnya Mas Arka," kata ibu mengingatkanku.


Aku hanya mampu menghela napas. Aku lalu duduk di dekat bapak dan menatap wajahnya yang tampak sangat lelah, ku pegang tangan bapak. Ada kerja keras di situ untuk membahagiakan aku. Bapak lalu sakit keras seperti ini juga karena aku.


"Pak, kalau keluarga Arka melamar, aku Kasih Dinanti akan menerima dengan ikhlas," kataku dengan mata yang mulai berembun.


"Nduk," hanya kata itu yang keluar dari mulut bapak, dengan susah payah.


"Bapak harus semangat dan sehat terus," kataku.


Setelah keadaan terlihat tenang, Arka meminta izin orangtuaku untuk mengajakku keluar dengan alasan ingin istirahat sebentar. Dia mengantarku pulang ke rumah dan dia pun kembali ke rumahnya. Ku letakkan tasku ke dalam lemari kemudian aku mandi. Segar rasanya! Baru saja merebahkan badan di tempat tidur, Bude Rini mengetuk pintu kamarku.


"Kas, ada tamu," katanya Bude Rini


"Siapa, de?" tanyaku sambil membukakan pintu


"Mas Arka," jawabnya dan berlalu pergi.


Ku langkahkan kaki ke ruang tamu tapi aku tidak menemuinya di sana. Aku lanjut ke teras, dia ada di sana dan menyambutku dengan senyumnya.


"Kamu mau balik puskesmas?" tanya Arka sambil menggeser duduknya memberi ruang untukku.


"Kata ibu gantiannya besok pagi aja," jawabku lalu duduk. Badannya wangi, belum pernah aku duduk sedekat ini dengan Arka, sampai bahu kami menempel.


"Kamu nyaman duduk sedekat ini sama aku?" tanya Arka yang membuatku menatapnya heran.


"Kenapa?" aku bertanya dengan dahi berkerut.

__ADS_1


"Keputusanmu mengenai perjodohan kita sudah final? Kamu nggak mengambil keputusan hanya karena emosi kan? Kamu benar-benar yakin?" tanya Arka lagi dengan raut wajah yang sangat serius.


"Sudah aku pikirkan, inilah jalan terbaik untuk semua," jawabku sambil menunduk


"Kasih, apapun keputusanmu aku mau kamu jalani semua dengan kebahagiaan," kata Arka sambil menatapku sangat dalam


"Aku bahagia jika tidak melihat bapak menderita seperti ini," jawabku dan bayangan bapak muncul di pelupuk mataku.


"Kamu akan menjadi istriku meski mungkin aku tidak akan jatuh cinta padamu," lanjutnya lagi.


"ya" hanya itu bisa kukatakan padanya.


"Ya udah kamu masuk, tidur yang nyenyak," kata Arka lalu berdiri.


"Baik-baik ya Kasih, aku mau kamu bahagia," kataku mendahuluinya. Seperti template kata-kata yang sering diucapkan Arka saat berpisah denganku.


Arka tertawa merasa kecolongan. Dia lalu berjalan memunggungi ku dan melambaikan tangan. Arka yang unik, kini menjadi misteri, kenapa dia semudah itu menerima perjodohan ini. Akan ku selesaikan satu per satu, yang penting aku jadi anak berbakti dulu, urusan Awan akan aku atasi setelah dia kembali. Saat ini fokusku hanya pada kesehatan bapak.


...****************...


"Mungkin aku nggak bisa menjadi suami yang baik, tapi aku janji aku akan jadi teman terbaik dihidupmu," kata Arka setengah berbisik saat kami melangsungkan acara tukar cincin pertunangan.


"Makasi Arka, Aku pasti akan baik-baik saja dan aku akan berusaha untuk bahagia," kataku sambil menelan ludah menahan tangis.


Ku lihat bapak yang tampak bahagia berusaha tersenyum, perlahan aku sadari kebahagiaanku ada pada kebahagiaan bapak. Ibu juga mengeluarkan tangis air mata bahagia. Aku hanya bisa berharap aku benar-benar bisa menjalani semua ini dengan baik. Rayi juga datang memelukku dengan mata berkaca-kaca.


"Yakinlah Kas, kalau ini adalah keputusan yang terbaik," katanya sambil menepuk pipiku.


...****************...


Aku duduk berdua dengan Arka di cafe menunggu kedatangan Awan yang masih mengurus bisnisnya. Hatiku berdebar kencang rasanya tidak karuan. Arka terus meyakinkanku untuk tetap tenang, dia mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Awan datang dengan senyum yang membuat semakin resah.


"Thank you, kapten. Sudah jagain Kasih," kata Awan sambil menjabat tangan Arka dan Arka menyambutnya dengan santai seolah tidak terjadi sesuatu.

__ADS_1


Awan lalu duduk di depanku dan sempat mencium keningku. Ku paksakan senyumku untuknya rasanya keluar keringat dingin, dan perutku terasa mulas. Efek kalau aku grogi. Kami memesan minuman dan beberapa kudapan. Awan yang tampak bahagia membuatku semakin tenggelam dalam rasa bersalah.


"Eh, ndan. kamu kan sudah mempercayakan Kasih padaku selama beberapa bulan, aku punya rencana buat jagain Kasih sepanjang hidupku," kata Arka dengan nada serius saat mulai masuk ke dalam inti masalah.


"Maksudnya apa?" tanya Awan kurang mengerti dengan arah pembicaraan Arka.


"Kamu ikhlas ya kalau aku menikahi Kasih," memang gila Arka, bisa langsung berbicara seperti itu.


"Bercandanya jangan begitu, itu nggak lucu sama sekali, kapt" kata Awan sambil tersenyum.


"Aku serius, ndan. Saat kamu bilang kalau Kasih dijodohin sama bapaknya, kamu harus tahu sekarang kalau calon yang dimaksud itu aku," kata Arka dengan mantap.


"Saat aku cerita kamu sudah tahu kalau kamu dijodohin sama Kasih?" tanya Awan dengan tatapan penuh emosi.


"Aku sudah tahu sebelum kamu mengenalkan Kasih padaku," jawaban Arka yang juga mengejutkanku.


"Kenapa kamu nggak pernah cerita?" tanya Awan dengan nada meninggi.


'Itu hakku untuk menceritakan atau tidak?" jawab Arka dan


Bukkkk..


Awan melayangkan tinjunya ke Arka sampai Arka terjatuh dari kursinya. Aku yang awalnya diam mulai panik dan membantu Arka untuk berdiri. Darah keluar dari hidung Arka namun Arka membiarkannya.


"Bangsat!" kata Awan dan mencoba maju untuk memukuli Arka lagi. Aku berdiri di depan Awan dan merentangkan tangan untung menghalanginya.


"Kamu nggak perlu menyalahkan Arka. Semua ini keputusanku, aku yang menyetujui permintaan bapak untuk menikahinya," kataku dengan berlinangan air mata.


Awan berhenti, sambil mengatur nafas. Arka mencoba berdiri sambil mengusap darah di hidung dengan lengannya. Dia menatap sahabatnya, dan tersenyum. Namun senyumnya malah membuat Awan semakin panas. Awan kemudian menendang kursi di depannya dan berlalu pergi.


"Aku tahu ini akan terjadi, tapi nggak nyangka pukulan Awan sekeras ini. Mungkin aku sudah pesek sekarang," kata Arka sambil memegang hidungnya dan aku masih menatap kepergian Awan yang membawa amarah bersamanya.


"Awan pasti tidak akan memaafkan aku," kataku tak bisa menghentikan tangis.

__ADS_1


"Suatu saat dia pasti mengerti, percaya padaku," kata Arka lalu mengajakku pergi namun sebelumnya dia masih sempat menahan kursi dan meja yang berantakan.


Aku baru sadar kalau kami menjadi pusat perhatian, semua mata tertuju pada kami. Tapi aku sudah peduli, yang aku peduli hanya pada perkataan Arka kalau dia sudah mengenaliku jauh sebelum kami berkenalan. Aku harus menanyakan hal.ini padanya.


__ADS_2