MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 82


__ADS_3

"Yank, hari ini kan Minggu, aku ada urusan sebentar kamu aku anterin ke tempat Rayi ya," kata Arka saat kami sarapan.


"Mas yakin nggak pingin aku temenin? Ntar nggak ada yang gandeng lho," aku mencoba menggodanya dan kudapatkan senyum manisnya.


"Sebentar aja, kalau kamu ikut nanti bosan," kata Arka lagi sambil memelukku erat.


Ku Turuti saja mau Arka, selesai sarapan aku ke rumah dan Rayi baru pulang senam bersama segerombolan ibu-ibu. Dan mereka heboh mengelilingi penjual sayur keliling. Setelah memastikan aku aman bersama Rayi, Arka pun pergi untuk urusan yang entah apa. Ku biarkan saja, tidak perlu terlalu menaruh curiga padanya. Arka berjanji hanya pergi satu sampai dua jam dan segera kembali.


"Kebetulan yang ajaib, nanti temani aku ke tempatnya Keysha ya," kata Rayi bersemangat.


"Mau fitting atau mau pesan?" tanyaku ikut bersemangat.


"Pesen sek," kata Rayi dan segera masuk ke rumah untuk mandi dan bersiap-siap.


Dengan wajah cerah ceria kami berangkat ke tempat Keysha dan tentu saja Keysha menyambut kami dengan penuh kehangatan. Rayi tentu saja memilih kebaya modern impiannya. Dengan ekor yang panjang biar sekalian menyapu dan mengepel lantai.


"Biarkan aku bahagia dengan pilihanku, tugasmu hanya menghujat," kata Rayi saat aku protes dengan pilihannya.


Keysha lalu bertanya padaku tentang kesibukanku. Aku lalu bercerita tentang kursus menjahit ku dan rencana membuka butik. Keysha malah tertawa, menurutnya untuk memiliki butik, menjahit baju sendiri bukanlah suatu keharusan. Memang akan lebih baik jika punya ketrampilan tersebut, tapi untuk jadi desainer yang penting hanyalah memiliki ide unik dan desain-desain yang banyak diminati dan yang pasti punya modal. Keysha lalu menawarkan kerjasama dalam mengelola usaha butik, tapi menurutku alangkah baiknya jika aku mendiskusikan dulu dengan Arka.


"Ngomong soal lakimu, gimana sih dia?" tanya Keysha sambil tersenyum-senyum nggak jelas.


"Dia suami yang baik, baik banget," jawabku dengan senyum bangga.


"Ihh, bukan itu, maksudku urusan ranjang. Sorry to say ya Kas, Arka itu pernah jadi fantasi liarku," kata Keysha sambil tertawa kemudian menggigit bibirnya.

__ADS_1


Aduh kenapa bahasannya jadi begini? Aku merasa tidak nyaman seolah menguliti aib sendiri. Apalagi Keysha terlihat sangat terobsesi dengan Arka. Aku malah jadi ngeri sendiri. Tiba-tiba ponselku berdering dan ternyata itu dari Arka yang sudah menungguku di rumah. Aku memberitahu posisiku dan memintanya pulang saja ke Apartemen daripada lama menunggu. Jelas saja aku menolak saat Arka ingin menyusulku ke sini, iya kali lolos dari pelukan Lovely masuk ke pelukan Keysha. Benar kata Mbok Welas, justru perempuan-perempuan penggila Arka ini yang sangat meresahkan walaupun aku tahu Arka tidak akan menanggapi mereka. Sudah mendapatkan model yang disukainya, dan sepakat dengan Keysha mengenai harganya, aku dan Rayi pamit pulang. Aku meminta Rayi untuk menunggu di parkiran karena ada sesuatu yang bersifat rahasia yang harus ku sampaikan kepada Keysha.


"Key, nanti invoice nya kirim ke aku ya, biar aku yang lunasi," kataku pada Keysha saat Rayi sudah berada di luar jangkauan.


...****************...


"Kas, aku mau nanya, boleh dijawab boleh nggak tapi nggak boleh marah," kata Rayi saat kami mampir di rumah makan Padang favorit nya.


"Hmmm...," menurutku jawaban itu sudah cukup.


"Kamu sudah ML belum sih sama Arka?" pertanyaan Rayi yang membuatku hampir menyemburkan es teh yang sudah masuk ke rongga mulutku.


"Boleh nggak kalau nanya lihat-lihat tempat?" bentakku namun dengan nada lirih dan sedikit melotot.


Rayi melirikku ketus dan melanjutkan makannya. Lagipula untuk apa dia menanyakan hal seperti itu di tempat umum seperti ini? Dia kemudian mengganti pertanyaannya mengenai perasaanku pada Arka. Untuk pertanyaan ini aku langsung menjawabnya, bagaimana saat ini hatiku mulai terbagi dan perlahan tapi pasti aku pasti bisa melepaskan Awan karena aku yakin untuk menjalani hidup berumah tangga dengan Arka. Rayi sangat senang mendengar ceritaku dan menyemangati ku yang sedang memperjuangkan rumah tanggaku.


Selesai makan, Rayi lalu mengajakku pulang untuk istirahat sebentar. Nanti kalau hari sudah menjelang sore, barulah Rayi mengantarku pulang ke apartemen dengan alasan menghindari terik matahari yang bisa membakar kulit. Ku turuti saja apa maunya Rayi, sebenarnya aku bisa saja naik ojek online tapi ya sudahlah, untuk apa buru-buru ke apartemen, aku juga masih kangen sama Rayi.


"Gimana? sama pertanyaanku tadi?" tanya Arka saat kami sudah duduk santai di depan TV.


"Apanya?" aku malah bingung dengan pembicaraan yang tanpa aba-aba siap ini.


"Kamu sudah ML belum sama Arka?" sepertinya hal ini sangat penting buat Rayi.


"Udah," jawabku sambil membolak-balik katalog yang kami bawa dari tempat Keysha.

__ADS_1


"Sering?" tanya Rayi lagi.


"Baru sekali," jawabku jujur apa adanya.


"Bocah gendeng, Mosok? lha terus kalian itu ngapain aja?" gelegar suara Rayi serasa mampu menggetarkan seluruh ruangan ini.


"Hei, itu kan urusan suami istri. Saru kalau cerita-cerita sama kamu," aku mulai risih dengan pembicaraan ini dan berusaha mengakhirinya.


"Saru apane? Kamu lho udah cerita," kata Rayi menyalahkanku.


"Lho?! Kamu lho yang mancing dari tadi," debatku tidak mau disalahkan.


Belum sempat Rayi membantah, ponselku berdering dan ternyata itu Mbok Welas yang mengabari kalau Pak Surya, Bu Gendis dan Lovely sedang dalam perjalanan ke sini karena Lovely akhirnya memutuskan magang di kantor. Segera aku menghubungi Arka untuk memberitahu kabar dari Mbok Welas. Arka memintaku menunggu di sini karena Arka akan segera menyusulku.


...****************...


"Ini aku udah bawa semua keperluan mu, kita langsung pulang atau gimana yank?" tanya Arka meminta pendapatku.


"Kita nginep di sini aja ya mas, besok pagi baru kita pulang, aku capek," jawabku.


"Ya udah, kamu ikut aku aja," kata Arka dan aku menurutinya.


Ternyata Arka mengajakku untuk menginap di salah satu hotel miliknya karena menurutnya di sini tempat yang aman dari kejaran orang tuanya. Walau bagaimanapun, Pak Surya dan Bu Gendis juga mengenal Rayi dan pasti mereka akan menelepon Rayi untuk menanyakan keberadaan kami. Demi apa coba kami seperti buronan yang harus bersembunyi hanya karena seorang Lovely?


Arka berada di kamar mandi saat ponselnya berdering dan itu dari Pak Surya. Aku berinisiatif untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Kamu ke mana lagi? Kata security apartemen kamu udah pergi?" semprot Pak Surya.


Jawaban apa yang harus aku sampaikan? Nggak mungkin juga aku memberitahu lokasi kami saat ini. Aduh, kenapa Arka belum keluar juga dan aku menjadi semakin panik.


__ADS_2