
Kegelisahan melanda diriku saat Bara tiba-tiba nongol begitu saja. Belum jadi pacar saja, Awan sudah marah-marah karena tahu aku jalan sama Bara, apalagi sekarang. Aku takut Awan salah paham dan marah besar karena cemburu. Dari kacamata seorang Rayi, Bara ini menyukaiku. Demi cari aman, aku berpura-pura tidak melihatnya dan meneruskan langkah kakiku masuk ke dalam rumah namun dia malah memanggilku. Aku mencaci maki dalam hatiku dan menyesali pernah menerima ajakannya dulu walau sebenarnya itu untuk urusan pekerjaan dan Bara malah salah paham. Terpaksa ku hentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.
"Hai," kataku sambil mengangkat tangan.
"Boleh aku masuk?" katanya sambil menawarkan diri, sungguh tinggi kepercayaan dirinya.
"Sebenarnya, aku mau pergi, baru ada acara," kataku berbohong dengan harapan dia segera berpamitan
"Barusan kamu pergi sama Awan, ini baru pulang kan?" katanya mencoba mematahkan kebohonganku.
"Iya..ehm, ini mau pergi sama Rayi, kita sudah siap-siap, tuh motornya sudah parkir di situ," jawabku sedikit tergagap.
"Boleh ikut?" tanyanya lagi yang membuat kesabaranku mulai teruji, ingin rasanya ku cakar-cakar wajahku.
"Nggak dong, kan naik motor. Masa' iya bonceng tiga?" kataku beralasan dan berusaha menolaknya secara halus.
"Aku ngikutin kalian dari belakang," Bara masih ngotot ingin ikut.
"Ini acara khusus cewek, mau kamu didandani?" kataku sedikit ketus.
"Ya udah, aku tunggu sampai kalian berangkat," kata Bara pantang putus asa.
"Ngapain?" tanyaku dengan nada yang meninggi.
Aku tinggalkan dia begitu saja lalu ku tutup pintu rumahku. Kenapa dia merusak hatiku yang sudah kutata demikian indah. Andai tidak masuk kategori zalim, sudah ku cekik dia. Astaga, Bara sudah membuatku menjadi psikopat ulung.
Aku harus meminta bantuan Rayi. Segera ku ambil ponsel dari dalam tas dan ku kirim pesan lewat WA untuk Rayi. Rayi harus menyempurnakan sandiwara ku dan berpura-pura bahwa kami berdua akan pergi. Agak lama namun Rayi belum membalas pesanku. Aku mondar-mandir di kamar berharap-harap cemas sampai terdengar suara Rayi membuka pintu dan memanggilku.
__ADS_1
"Gimana?" tanyaku begitu melihat Rayi masuk ke rumah.
"Sudah pulang," jawabnya sambil melabuhkan pantatnya di sofa.
"Syukurlah," jawabku sambil menghela nafas lega.
"Aku ngantuk mau tidur," kata Rayi sambil memejamkan mata.
"Nah, ketahuankan kalian bohong," kata Bara yang tiba-tiba sudah nongol di pintu.
Astaga, anak ini benar-benar tidak punya malu. Bisa-bisanya nyelonong masuk tanpa diundang. Entah dengan cara apa lagi untuk memintanya pergi. Ku hempaskan diriku di samping Rayi dan menghembus nafas dengan kasar. Bisa ku lihat ekspresi kaget Rayi sambil melotot ke arah Bara.
"Bagian mana yang belum kamu mengerti kalau kami nggak mau kamu ada di sini?" tanyaku setelah habis kesabaranku.
"Tapi Kas, aku ingin menghabiskan malam Minggu bersamamu," katanya tanpa rasa bersalah.
"Mau bohong apa lagi?" tanya Bara sambil duduk di depanku.
"Nggak ada yang bohong, Bara" kataku berusaha meyakinkannya.
Aku dan Rayi saling pandang berusaha mencari cara untuk menghindari Bara. Akhirnya Rayi berdiri dan menarikku untuk berdiri juga. Ku ikuti langkah Rayi yang berjalan keluar rumah dan mengajakku naik sepeda motor. Ku ikuti saja langkah Rayi berharap ini adalah solusi.
"Kalau Bara ngeyel ndak mau pergi. Kita saja yang angkat kaki," kata Rayi sambil membawa motornya dengan kecepatan rendah.
"Terus kita mau ke mana?" tanyaku berharap ada jawaban yang logis dari Rayi.
"Pokok'e kita pergi sek. Muter-muter kampung sini aja. Kita kan juga ndak bawa helm," kata Rayi yang mengingatkanku.
__ADS_1
"Karena nggak bawa helm, si Bara jadi tau dong kalau kita tanpa arah dan tujuan," protesku sambil menoyor pelan kepala Rayi dari belakang.
"Harusnya dia jadi tahu kalau kita nggak mau sama dia," kata Rayi berspekulasi.
Kami berhenti dan duduk di pinggir lapangan melihat anak-anak bermain bola dan sekelompok ibu-ibu yang duduk ngerumpi sambil mengawasi balita mereka masing-masing. Kegabutan luar biasa yang kami lakukan di sini. Rayi membeli cilok dan kami memakannya sambil bercerita mengenai kegiatan kami masing-masing. Aku menceritakan mengenai pertemuanku dengan orang tua Awan dalam keadaan yang kurang baik, serta tentang Chloe yang mengalami kecelakaan. Dan Rayi bersemangat menceritakan tentang anak Pak Surya yang sampai detik ini belum diketahui namanya. Dia hanya bisa bertemu di hari Sabtu karena di hari biasa, jadwalnya sangat padat.
Tiba-tiba Bara muncul di belakang kami dan akhirnya bertiga tertawa bersama. Sudah lelah menghindari Bara, akhirnya kami menghabiskan sore di pinggir lapangan dengan sebungkus cilok. Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan Bara, hanya saja aku takut Awan salah paham.
"Kenapa sih kalian menghindari ku?" tanya Bara sambil duduk di sampingku.
"Gini ya Bar, aku baru beberapa hari yang lalu jadian sama Awan," kataku mencoba menjelaskan.
"Punya pacar kan bukan berarti kita nggak bisa berteman, Kas." kata Bara sambil tersenyum terlihat sangat tulus.
"Bukan itu masalahnya, Bar. Sebelum kami jadian kami sempat bertengkar gara-gara dia tahu aku pergi sama kamu," kataku berusaha menjelaskan lebih lanjut.
"Padahal kita kan pergi untuk urusan pekerjaan, profesional dikit dong," protes Bara menggebu-gebu sudah seperti demo di gedung DPR.
"Gara-gara Rayi ni, cerita-cerita ke Awan katanya kamu naksir aku," kataku sambil menunjuk-nunjuk Rayi.
"Lha salahku opo? Kan aku menyampaikan sesuai dengan desas desus yang beredar," Rayi berusaha membela diri, tidak kalah menggebu-gebu dibanding Bara.
"Kalau aku naksir kamu juga nggak masalah, tinggal kamu mau nggak, kalau kamu nggak mau dan akhirnya sama Awan, aku bisa apa? ya udah apes di aku, gitu aja," kata Bara dengan santai.
Aku mulai santai berada di dekat Bara. Ternyata dia pria yang hebat dan sangat berlapang dada. Dan sebenarnya dia tidak pernah naksir padaku, hanya saja dia tertarik untuk bergabung denganku dan Rayi karena menurutnya kami punya persahabatan yang unik, walau sering terlihat tidak akur, namun sejatinya kami saling peduli dan saling menyayangi.
Menjelang senja, kami bertiga pulang beriringan sampai di depan rumah, ada mobil Awan dan Awan duduk di teras rumah sambil fokus ke ponselnya. Kenapa tiba-tiba Awan ke sini lagi? Bukankah baru saja dia pergi? Bukankah acara ke rumah batal karena ayahnya masuk rumah sakit? Banyak lagi pertanyaan berlomba-lomba memenuhi otakku.
__ADS_1
Apalagi saat melihat kedatangan kami, mata Awan tidak putus menatap tajam ke arah Bara. Astaga, pasti Awan salah paham. Dia lalu berdiri mendekati kami, namun tetap matanya tertuju pada Bara. Aku harus apa ini?