MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 27


__ADS_3

Rayi memasang muka polos tanpa rasa bersalah saat aku melotot ke arahnya. Selalu saja mulutnya tanpa filter. Jika tidak termasuk dalam tindak kekerasan yang zalim, ingin ku cakar-cakar mulutnya. Semakin aku menatapnya, semakin dia bertindak seolah tidak ada yang salah dengan ucapannya.


"Kamu sendiri yang bilang lho Kas," katanya mulai membela diri dan sadar kalau ada yang salah dengan ucapannya ketika aku melotot ke arahnya.


"Kapan? Mana ada aku bilang tentang itu " kataku tidak terima namun berusaha mengingat.


"Tadi pagi, pas bangun tidur, disuruh mandi. Kamu bilang kalau udah nikah bakal lihat aslinya kamu saat bangun tidur dan belum mandi " kata Rayi sambil mulai menguyah pilus.


Ku coba mengingat-ingat dan astaga, padahal tadi pagi aku asal saja mengucapkannya. Ibarat nyawaku juga belum terkumpul penuh. Bisa-bisanya dia menyimpulkan seperti itu. Ku lempari dia dengan bantal leher yang dari tadi ku pegang.


"Jangan gitu Ra, beri waktu buat Kasih. Ini berat buat dia," kata Arka seolah mengerti apa maksudku.


"Yawis, pilih menenG timbang risiko," jawab Rayi yang aku sendiri kurang mengerti apa maksudnya.


Arka lalu memandangku dengan senyuman. Aku tidak sanggup lagi menghadapi pesona Arka. Aku hanya mengaguminya, bukan berarti aku jatuh cinta padanya. Biar aman dan tidak salah tingkah terus menerus, ku lemparkan pandanganku ke luar jendela. Memandang pepohonan yang membuat jalanan menjadi teduh. Aku pura-pura tidur saat Rayi dan Arka tertawa dan bercanda dan sepertinya sangat seru. Aku berpura-pura tidak peduli, namun tawaku ikut pecah saat mereka mambahas mengapa Rayi memanggil Arka dengan nama Arya.


Jadi ternyata saat penandatanganan kontrak kerja, tulisan Arka kurang bisa terbaca dengan baik, kurang jelas, bahasa kasarnya tulisan Arka sangat jelek seperti lukisan abstrak. Yang bisa terbaca jelas hanya tulisan 'Arya', jadilah Rayi menyimpulkan kalau namanya Arya. Si Arka juga iya-iya saja dipanggil Arya. Rayi yang unik, ternyata selama ini Rayi malu untuk menanyakan nama Arka. Dan saat memanggil Arka dengan panggilan 'Mas Arya' dia lalu mengganggap bahwa kesimpulannya sudah benar dan betul.


"Jujur ya, aku tuh naksir sama kamu," kata Rayi tanpa malu malu lagi.


"Oh ya? Kenapa baru bilang sekarang?" jawab Arka sambil tertawa, tawanya sangat renyah dan terdengar sangat sopan saat masuk di kuping.

__ADS_1


"Ya, aku sih yakin kalau jodoh nggak ke mana. Paling jauh ya ke teman sendiri," kata Rayi dengan wajah sok murung namun dia akhirnya tertawa cekikikan sampai mengeluarkan air mata.


Rayi mulai lagi menganggap kalau aku akan menikah dengan Arka. Lama-lama gemes juga dengan Rayi yang mulutnya sulit terkendali. Ya, nanti kalau sampai di rumah akan ku jelaskan sedetil mungkin mengenai status hubungan antara aku, Awan dan Arka. Lihat saja nanti, komentar apa yang akan dilontarkan oleh Rayi.


"Ra, browniesnya kemarin enak lho, tapi kejunya kurang nendang," kata Arka mencoba mengalihkan pembicaraan karena dia tahu aku tidak nyaman jika ada yang membahas mengenai perjodohan.


"Gara-gara Kasih tuh, asal-asalan ambil keju, ndak sesuai dengan petunjuk," kata Rayi menggebu-gebu menyalahkan ku.


"Lho, kok jadi aku yang salah?" aku yang kaget ketika kesalahan dilemparkan padaku mencoba membela diri.


Walaupun banyak perdebatan, namun perjalanan terasa asyik dan tanpa terasa kami sudah sampai di depan rumah. Rayi sudah heboh turun terlebih dahulu dengan alasan kangen kasur. Arka menarik tanganku dengan lembut dan berusaha menahannya saat aku ingin turun.


"Baik-baik ya Kasih, kamu harus bahagia, katanya sambil tersenyum. Ku anggukan kepalaku dan Arka melepaskan tanganku.


[Awan, aku kangen] ku kirim pesan untuknya karena aku yakin dia pasti akan membaca pesanku itu.


Kenapa Awan tiba-tiba ke Skotlandia? Bukankah untuk keluar negeri butuh persiapan yang tidak sebentar? Ku kembalikan ke diriku sendiri, aku saja tidak terbuka terhadap Awan, mengapa aku menuntun dia demikian? Jika ku ingat-ingat kembali dengan baik, saat terakhir Awan pamitan, aku lantas mendapat kabar bapak sakit, dan sejak saat itu aku terlalu sibuk mengurus bapak. Kadang dia menghubungiku tapi selalu aku membuka ponsel saat larut malam. Bahkan di hanya mengirim pesan tentang rindunya padaku, tidak ada pembahasan mengenai kepergiaannya. Memang aku juga tidak memberitahu Awan tentang apa yang terjadi pada bapak. Aku takut itu bisa membebaninya dan menggangu pekerjaannya. Aku juga tidak memberitahu Awan saat aku ke desa, apalagi memberitahunya kalau lelaki yang dijodohkan denganku itu adalah Arka, sahabatnya sendiri. Akhir-akhir ini banyak yang aku sembunyikan dari Awan dan berbuat seolah semuanya berjalan baik-baik saja.


"Kamu kelihatannya nyaman sama Arka," kata Rayi yang datang sambil membawa dua cangkir kopi.


"Aku hanya mencintai Awan," kataku sambil mengambil kopi dari tangannya.

__ADS_1


"Tapi ibumu sudah yakin kalau kalian akan menikah," kata Rayi yang membuatku menyemburkan kopiku.


"Kok bisa?" tanyaku hampir berteriak.


"Lha wong kamu semalaman sama Arka, bangun pagi langsung mesra banget boncengan sepeda udah kayak romantisme tempo dulu, terus balik sini juga bareng," kata Rayi merinci alasan.


"Heran, kok tahu kami sepedaan di sawah," tanyaku dengan dahi berkerut.


"Satu desa lho jadi mata telinga mulutnya bapak ibumu," kata Rayi 


Apa yang harus aku buat, ibu dan satu desa sudah salah paham dengan ku dan Arka. Mungkin saja ibu juga sudah memberitahu bapak sehingga tadi pagi bapak tampak bahagia. Aku semakin tidak tega menghapus senyum di wajah orang tuaku dan menambah beban pikiran bapak yang akhirnya memperparah kesehatannya.


"Aku bingung Ra harus gimana," hanya itu yang mampu ku ucapkan.


Aku ingin membahagiakan kedua orangtuaku tanpa melukai perasaan Awan. Aku merasa sangat rapuh saat ini, jika aku salah mengambil keputusan jiwaku bisa hancur berantakan. Hatiku tidak bisa tenang, bimbang antara bapak dan Awan.


"Kalau aku yawis nurut sama orangtua. Arka juga anaknya baik. Gemati sama siapa saja. Orang satu desa menyukainya bukan karena dia kaya raya, tapi karena dia baik sama siapa saja," tiba-tiba Rayi buka suara dan terlihat sangat serius.


"Kamu tahu apa Ra tentang Arka," kataku menyepelekan Rayi. Paling dia menyimpulkan sendiri.


"Rinto yang cerita Kas. Dia dekat dengan Arka. Tau gitu dulu langsung tanya ke Rinto, nggak perlu nyulik pakde Marto," kata Rayi yang sangat meyakinkan. "Kamu terlalu sibuk dengan pikiran dan perasaanmu. Jangan diteruskan, Kas. ISO gendeng," lanjut Rayi.

__ADS_1


Ponselku berdering dan itu panggilan dari Awan. Aku harus bicara apa dengannya?


__ADS_2