
Dari sore aku sport jantung terus menerus hanya karena kekhawatiran mengenai kecemburuan Awan. Ku tenangkan hatiku, Kalau mengenai Bara mungkin Awan belum mengenalnya dengan baik sehingga peluang untuk salah paham sangat besar, namun akan beda ceritanya dengan Arka yang memang sahabatnya, jadi Awan bisa menanggapi ini sebagai murni candaan semata.
"Kamu punya aura yang mempesona, then kenapa kamu nggak cari cewek yang bisa kamu ajak serius," tanya Awan yang membuatku tak mengerti ke arah mana pembicaraannya, mungkin diam dan menyimak adalah posisi paling aman bagiku saat ini
"Udah, aku serahkan saja sama orangtuaku, kasihan anak orang kalau harus melawan restu," kata Arka sambil tersenyum.
"Sesekali kita perlu serius, kapten," kata Awan sambil meninju bahu Arka.
"Ini serius, ndan" jawab Arka bersungguh-sungguh.
Dalam hati aku bertanya apa maksud perkataan Arka. Namun aku takut untuk mengutarakannya. Apa mungkin dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya? Aku banyak diam, tidak seperti awal kami bertemu, ikut bercanda bersama mereka.
"Kas, diam aja?" tanya Arka yang mungkin memperhatikanku.
"Ehm, sedikit capek aja seharian muter terus," kataku beralasan.
"Maaf ya sayang, seharian kamu nemenin aku terus sampai kecapekan gini, ya udah abis ini kita pulang ya," kata Awan sambil menggamit jemariku.
Ku anggukan kepala sambil tersenyum. Lega rasanya diajak pulang karena aku merasa serba salah sejak awal sehingga aku merasa tidak nyaman berada di situ.
...****************...
Kami sampai di depan rumah, Awan menurunkanku lalu pergi. Dengan langkah menyeret kaki, ku capai juga pintu yang sudah terbuka. Benar saja, Rayi ada di sana. Ruang tamu dan dapur tampak sangat bersih. Ku rebahkan tubuhku di atas sofa sambil menyetel televisi.
"Ra, tolong buatin mi dong, pakai telur dikasi irisan cabe tiga biji," kataku.
__ADS_1
"Bukannya tadi kamu dinner?" tanya Rayi dengan wajah skeptis.
"Setelah aku ingat-ingat aku seharian nggak makan, Ra. Tadi pagi nggak sarapan karena bangun kesiangan, siang cuma minum jus alpukat sama French fries, sore jajan cilok sama kamu," jawabku dengan nada lemas.
"Duh Gusti, kok kebangeten men Awan, ngajak anak orang nggak dikasih makan," kata Rayi sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menepuk jidatnya dan kembali ke dapur.
Sejenak ku pejamkan mata, merehatkan tubuh yang lelah seharian. Dalam hati kecilku merasa ada yang sulit aku mengerti mengenai hubunganku dengan Awan, di satu sisi aku bahagia dan merasa nyaman, di sisi lain aku tidak berani bertindak karena takut Awan kecewa ataupun cemburu. Seharian bersama Awan rasanya tidak ada waktu untuk kami berdua walau secara fisik kami bersama. Awan cenderung sibuk mengurus bisnisnya dan seolah dia mencuri waktu di sela-sela kesibukannya agar tetap bisa menemaniku.
Rayi membangunkan ku sambil menyodorkan semangkok mi instan lengkap dengan sawi, telur dan irisan cabe. Dia juga membuatkan segelas susu untukku. Aku lalu duduk dan dengan lahap ku santap semuanya sampai bersih tak tersisa. Rasanya benar-benar nikmat.
"Seharian aku cuma nemenin Awan ngurusin bisnis," kataku sambil mengelap mulutku yang belepotan dengan susu.
"Ya iyalah, harus bisa cari waktu disela-sela kesibukan. Kalau mau dolan itu pacaran ala anak SMA. Anak-anak labil nggak tahu arah," kata Rayi sambil membereskan mangkok dan gelas bekas makananku dan membawanya ke dapur untuk dicuci.
"Tapi kan ya pingin bersenang-senang juga," protesku sambil mengikuti langkah Rayi ke dapur.
Apa iya aku belum siap menikah? Aku selalu menikmati kesendirianku dan kebersamaanku dengan Rayi yang aku rasa sudah cukup mengisi hidupku dengan kebahagiaan dan penuh warna. Bukannya aku punya orientasi seksual yang menyimpang atau suka sesama jenis. Tapi aku masih ingin bersenang-senang. Ada masa-masa mudaku yang serasa hilang karena harus ku isi dengan kerja keras demi lulus kuliah dan juga memiliki rumah sendiri. Aku bersusah payah kuliah sambil bekerja karena orangtuaku sudah tidak mampu membiayai. Orang tuaku sudah terlalu berumur untuk mencukupi semua biaya yang semakin banyak seiring bertambahnya usiaku.
Aku bersikeras untuk tetap tinggal di sini daripada mengikuti kedua orang tuaku yang lebih memilih tinggal di desa. Aku nekad mengambil KPR hanya untuk menunjukkan pada kedua orang tuaku bahwa aku mampu hidup mandiri. Saat ini aku hanya ingin menikmati hidup, saat menurutku hidupku ada di puncak, punya karir bagus dan tidak banyak masalah yang aku hadapi. Kalau ditanyai mengenai target menikah, mungkin satu setengah atau dua tahun lagi barulah aku siap.
"Tapi aku mencintai Awan," kataku sambil terus membuntuti Rayi.
"Dalam rumah tangga itu nggak cukup dengan cinta aja, kalau orang Jawa bilang perlu bibit, bebet, bobot," protes Rayi sambil duduk di depan TV.
"Apa itu bibit, bebet, bobot?" tanyaku mengetes, jangan-jangan Rayi nggak paham dengan apa yang dia bicarakan.
__ADS_1
"Bibit itu garis keturunan yang baik, Bebet itu status sosial ekonomi yang baik, kalau bobot itu kepribadian dan pendidikannya baik," kata Rayi penuh semangat.
"Ah, kamu kayak pernah kawin aja," kataku mulai mengabaikan kata-kata Rayi.
"Lho nggak harus begitu, kita bisa belajar dari pengalaman orang lain,"
"Belajar dari sinetron?" serangku menolak nasih Rayi.
"Bocah gendeng," hanya itu yang terucap dari mulut Rayi sedang matanya sudah fokus menatap layar kaca menikmati snetron yang sebentar lagi memancing emosinya.
Apa aku terlalu cepat menerima Awan menjadi kekasihku? Harusnya kami menyatukan visi dan misi terlebih dahulu. Ku acak-acak rambutku berharap ada benang kusut yang ku buat bisa ku urai pelan-pelan.
"Harusnya, kalau kamu memang belum siap untuk menikah, kamu bicarakan sama Awan, dari hati ke hati, biar semua jelas, kamu nggak merasa terjebak," kata Rayi saat melihatku mengacak-acak rambutku. Dia tahu aku pasti sedang pusing dan belum mendapat solusi jika berbuat seperti ini. Aku semakin bingung, bagaimana harus membicarakannya dengan Awan sedangkan waktu untuk kami benar-benar berdua itu sulit. Awan terlalu fokus dengan bisnisnya.
Tiba-tiba Ponselku berbunyi membuyarkan lamunanku, dan itu dari nomer yang tidak aku kenal. Aku membiarkan ponselku terus berdering, mau sampai kapan dia akan menelponku? Rayi menyenggolku dan memberi isyarat dengan matanya menunjuk ke arah ponselku.
"Biarin aja, nggak kenal ini," kataku sambil mendorong ponselku menjauh.
Awalnya Rayi setuju denganku namun sepertinya dia mulai terganggu. Menurutnya suara ponsel itu mengganggu konsentrasinya menonton sinetron. Ponsel itu diam seketika, aku lalu mengganti telpon ke mode bergetar. Tapi saat ponsel itu bergetar Rayi tetap merasa terganggu.
"Halo," kata Rayi dengan ponsel diloudspeaker sehingga aku bisa ikut mendengarkannya.
"Kasih mana, kamu bukan Kasih kan?" terdengar suara pria yang penuh pesona namun sangat asing di telingaku. Aku dan Rayi saling pandang seolah tidak percaya.
"Kamu siapa?" tanya Rayi dengan nada sedikit ketus dan terkesan galak.
__ADS_1
"Aku cuma mau bicara sama Kasih, dia di situ kan?" suara pria itu yang sebenarnya sangat sedap di telinga, seperti suara penyiar radio.
Aku dan Rayi saling pandang, tidak tahu harus berbuat apa, segera ku rebut ponselku dari tangan kasih dan ku akhiri panggilan itu. Namun ponselku berdering lagi.