
Rayi pamit pulang karena katanya dia tidak mau menjadi orang ketiga. Sebelum dia pulang dia memintaku untuk tidak menceritakan apapun pada Awan. Awalnya Awan mengajakku untuk pergi tapi aku sudah berniat untuk berada di rumah seharian ini. Syukurlah Awan mau memaklumi keinginanku.
"Mungkin aku akan pergi agak lama, saat ini aku pulang untuk menyiapkan dokumen dan proposal," kata Awan sambil memelukku dari belakang. Ku sandarkan diriku dalam pelukannya.
"Berapa lama?" tanyaku dengan nada yang manja.
"Paling cepat dua minggu," katanya sambil meletakkan dagunya di puncak kepalaku.
Aku hanya diam, belum ditinggal saja aku sudah merindukannya. Bagaimana nanti kalau dia pergi untuk waktu yang lama? Siapa yang akan menemaniku seperti ini?
"Andai aku bisa ikut," gumamku lebih kepada diriku sendiri.
"Suatu saat aku akan bawa kamu ke manapun aku pergi," kata Awan yang membuatku tersipu.
"Iya," kataku sambil memejamkan mata menikmati hangat pelukannya. Tercium wangi aroma parfumnya yang khas. Aku juga berharap bisa terus bersamanya dan tak akan terganti kini sampai nanti.
Awan lalu bercerita bahwa dia bertemu dengan Chloe di rapat berikutnya kemarin. Chloe mempermalukan dirinya sendiri di depan kolega bisnis keluarganya saat mempresentasikan proposal karena dia sama sekali tidak menguasai isi proposal yang dikerjakan oleh karyawannya. Tidak masalah siapapun yang mengerjakannya, tapi sebaiknya kita menguasai mengenai garis besar dan tujuan presentasi. Karena hal itu, hampir saja perusahaannya didepak dari kerjasama yang sangat menguntungkan ini. Dan parahnya lagi, Chloe tetap ikut proyek ini sampai tuntas.
"Biasanya semua itu diurus Sophie, hanya saja si Sophie mau lanjutin kuliah ke luar negeri" kata Awan sambil membelai rambutku.
"Kok jadi adiknya?" tanyaku heran.
"Dari dulu Chloe itu tidak bisa apa-apa, beruntung dia lahir dari keluarga berada, jika tidak entah apa," kata Awan.
"Mungkin orang tuanya memberi dia kesempatan untuk belajar," kataku berusaha bersifat netral.
__ADS_1
"Malah orang tuanya nitipin dia ke aku. Dikiranya aku daycare?" kata Awan dengan nada sewot
Aku malah teringat saat pertama kali aku bertemu dengan Chloe saat awal perkuliahan. Walaupun masih tergolong mahasiswa baru, sinar kebintangan Awan sudah memancar dan menjadi idola gadis-gadis kampus. Bagaimana tidak, selain didukung dengan paras yang rupawan, Awan juga bintang panggung. Lalu Chloe dan mengaku-ngaku sebagai kekasihnya sontak membuat heboh dunia para gadis yang berakhir dengan dilabraknya seorang Chloe di muka umum.
Masih terbayang wajah panik Chloe saat dilabrak Rayi kemarin dan saat akhirnya Awan menjadi pahlawan kami di siang hari. Wajah Chloe tampak merah menahan marah dan malu. Seenaknya saja merendahkan orang dari desa.
Bicara tentang desa, entah kenapa bapak belum juga memberi kabar tentang keluarga lelaki itu. Berapa lama mereka akan pergi? Aku ingin bisa segera bertemu mereka agar aku bisa secepatnya menyampaikan keberatanku dengan perjodohan ini. Sehingga restu bapak terbuka untukku dan Awan. Bukankah lelaki itu sendiri yang bilang kalau semua keputusan ada di tanganku. Suara merdu lelaki itu terngiang lembut di telingaku. Memintaku berjuang mendapatkan restu bapak dan berharap aku bahagia. Masih ada penasaran di hati mengenai lelaki itu. Mungkin aku perlu mematai-matai Pakde Marto lagi, siapa tahu dia mau menampakkan diri saat aku tidak terlihat di sana. Atau aku mengajak Awan pergi lagi ke tempat di mana aku melihat motorsport lelaki itu, siapa tahu dia memang sering nongkrong di situ. Aku akan terus terang mengatakan padanya kalau aku hanya mencintai Awan dan aku hanya menginginkan Awan. Hatiku tidak bisa begitu saja menerima laki-laki lain apalagi laki-laki yang sama sekali belum aku kenal. Hanya pelukan Awan tempat ternyaman bagiku.
Astaga, aku nyaman berada di dalam pelukan Awan namun aku malah memikirkan lelaki itu. Lelaki yang karenanya hubunganku dengan bapak menjadi renggang dan karenanya menjadi penghambat jalanku untuk bersatu dengan Awan.
"Sayang, kamu sungguhan tidak mau pergi ke mana gitu?" tanya Awan lalu aku membuka mataku.
"Ah, mungkin cucianku sudah kering, sebaiknya aku nyetrika aja," kataku sambil bangkit dari pelukannya.
Aku mengantarnya sampai ke mobil dan masih berdiri di depan rumah sampai mobilnya hilang dari pandanganku. Baru saja aku melangkah masuk ke rumah, terdengar suara Rayi memanggilku dengan suara panik.
"HP mu mana?" tanya Rayi dengan nada emosi.
"Di kamar," jawabku.
"Rinto telpon dari tadi nggak bisa. Bapakmu pingsan lagi dan kali ini opname," kata Rayi yang sangat mengejutkan.
"Aku mau ke desa sekarang, masih sempat ngejar kereta senja," kataku sambil berlari berlari ke kamar dan mengambil barang seperlunya.
"Aku ikut" kata Rayi lalu berlari pulang untuk bersiap-siap.
__ADS_1
...****************...
Aku dan Rayi duduk diam membisu. Walaupun pemandangan sawah yang terhampar luas dihiasi langit senja yang jingga tidak lantas membuat kami terhibur. Berbagai tanya tentang bapak berseliweran di kepalaku. Berita dari Rinto yang mengatakan bapak jatuh di sawah lalu terserang stroke membuat beban sendiri bagiku. Apakah kesehatan bapak semakin parah hanya karena aku bersikeras menolak perjodohan ini? Jika ku ingat kembali, bapak tidak pernah meminta apapun dariku. Semua yang aku jalani selama ini selalu sesuai dengan keinginanku. Bapak selalu setuju apapun keputusanku walau kadang bertentangan dengan hati nuraninya.
Perjanjian apa yang sudah bapak buat dengan keluarga lelaki itu sehingga bapak merasa sungkan untuk menolaknya? Mengapa mereka memintaku menjadi menantu di keluarga mereka padahal aku sama sekali belum pernah bertemu dengan mereka.
Perlahan air mataku membasahi pipi. Kubiarkan saja berharap semua yang menyesakkan dada tertumpah dan bisa sedikit melegakan. Rayi yang biasanya tidak bisa diam hanya memandangku iba sambil sesekali mengusap punggungku.
...****************...
Kami tiba di rumah dan Pakde Marto menyambut kami dengan cemas sambil berkata "Kok kalian malah ke sini? Bapak sudah dirujuk ke kota, baru berangkat kurang lebih dua jam yang lalu dengan ambulans,"
Aku dan Rayi saling pandang, seketika aku merasa lemas dan tidak berdaya. Separah apa bapak sampai harus ke rumah sakit yang lebih besar? Aku terduduk dan menangis terisak. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada bapak.
"Lalu ibu ke mana pakde?" tanyaku di sisa tangisku.
"Ikut anterin bapak naik ambulans," kata Pakde Marto
"Wis nduk, masuk rumah sek, nanti biar dicarikan tumpangan sama Rinto buat nyusul," kata Bude Rini.
Rayi membantuku berdiri dan memapahku masuk ke dalam rumah. Aku langsung rebahan di kamarku. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
"Nduk, ayo siap-siap! Rinto sudah dapat mobil buat kalian nyusul bapak. Syukurlah, ada putrane Mas Sur yang mau membantu," kata Bude Rini.
Deg, apa dia lelaki itu?
__ADS_1