
Arka terlalu asyik dengan Pakde Marto dan traktornya dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Iseng ku buka ponselnya dan memfoto kegiatan Arka yang sok-sokan memperbaiki traktor padahal membuka baut saja dia tidak bisa. Aku juga berkeliling dan mendekati kandang kambing yang berada tidak jauh. Ada sekitar dua puluh ekor kambing etawa yang memiliki telinga yang panjang dan tubuh yang besar tinggi. Sesekali aku memberi makan kambing tersebut. Aku berniat memfoto kambing itu namun tiba-tiba ada panggilan dari Lovely. Susah ternyata punya suami yang gantengnya semena-mena dan pesonanya ke mana-mana. Hatiku terkuras oleh kecurigaan yang tidak jelas dan memaksaku menjadi detektif dadakan. Kemudian rasa penasaran menuntun ku untuk membuka riwayat panggilan di ponsel Arka dan sekali lagi aku menemukan hal yang membuat hatiku tidak karuan. Semalam Arka menelepon Lovely dengan durasi satu jam lebih di saat Arka tidak di rumah. Aku bergegas membuka chat tapi tidak ada chat antara Arka dengan Lovely. Seketika aku lemas. Awalnya niat ke sini untuk healing dan sejenak tidak bersinggungan dengan Lovely tapi nyatanya dari semalam kepalaku berisi tentang dia. Arka tampak mendekatiku dan aku cepat-cepat menutup fitur chat dan membuka kamera untuk melanjutkan memfoto kambing yang sedang ku beri makan. Saat Arka sudah berada tempat di sampingku dan merangkulku, ku beritahu dia kalau Lovely menelepon.
"Ckk..biarin aja," kata Arka sambil mengambil ponselnya dari tanganku dan mengantonginya.
Sandiwara apa yang sedang dimainkan Arka? berpura-pura tidak peduli dengan panggilan dari Lovely, dia pikir aku tidak tahu apa yang dia perbuat semalam. Bukannya semalam itu dia yang menelepon terlebih dahulu. Aku hanya perlu mencari tahu apa yang mereka bicarakan semalam.
"Telepon balik aja siapa tahu ada yang penting," kataku dengan nada yang ketus.
"Kok nada bicaramu seperti itu yank?" tanya Arka sambil mencolek daguku.
"Seperti itu gimana?" tanyaku bertambah ketus.
"Ada yang ngambek, berarti nggak mau digandeng," jawaban Arka yang seolah meledekku.
Arka kemudian berlalu sambil tertawa dan meninggalkanku diantara para kambing yang berteriak meminta makan.
...****************...
"Ke sini kangen ibu, masak iya nggak boleh nginep di rumah?" aku merengek saat ibu menyuruhku pulang.
"Nduk, kamu itu sekarang istri, utamakan suamimu," jawaban ibu yang lagi-lagi berisi penolakan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa bu, malam ini aja biar Kasih menginap di sini, Arka di rumah sendiri nggak masalah. Nggak tiap hari juga kan, Bu?" Arka mencoba membantuku dan senyum tersungging di bibirku.
Ibu hanya diam sambil mengangguk pelan. Oh, maksudnya aku tidur sekamar dengan ibu dan Arka pulang sendirian? Mendadak ku batalkan niatku untuk menginap di rumah ibu. Bahaya kalau Arka ku biarkan sendirian, bisa-bisa dia menelepon Lovely sepanjang malam. Sepertinya Arka ini pintar bersandiwara. Di depanku berpura-pura tidak peduli padahal di belakangku dia bertindak sesuatu yang memaksaku menjadi detektif dadakan. Selama ini juga seperti itu. Arka selalu pintar menyimpan rahasia. Bagaimanapun aku harus terus menempel sama Arka biar aku tahu apa sebenarnya yang dia sembunyikan dariku.
"Kenapa nggak jadi menginap di rumah ibu?" tanya Arka saat kami berdua sudah di rumah
"Karena mas nggak ikut," jawabku polos.
"Kan kamar di sana terbatas yank, masak iya aku tidur sama Lisna?" jawaban Arka yang mampu membuatku menghela napas panjang.
"Ya Lisna yang tidur sama ibu, aku sama kamu tidur di kamarku," aku mencoba menjelaskan maksud hatiku.
Sudahlah, terserah Arka mau menjawab apa, yang jelas aku tidak meninggalkannya sedetikpun. Dan semalaman ini tidak ada kegiatan Arka yang mencurigakan, kami hanya mengobrol ringan sambil bermain gitar di teras rumah dan menikmati dinginnya hawa pegunungan. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering dan itu dari Lovely. Lagi-lagi Arka berdiri dan menjauhiku untuk menjawab telepon. Ternyata walau aku ada di dekatnya, Arka masih tetap berhubungan dengan Lovely apalagi. Ku seret kakiku melangkah masuk ke kamar dan memaksakan diri untuk tidur. Biar saja Arka di luar sendirian.
Besoknya aku mulai murung seharian, nggak mau makan, nggak mau bangun, dan mulai cuek sama Arka. Namun Arka bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dia sangat antusias berjalan-jalan keliling desa dan pulang dengan keadaan kotor dan senyum ceria. Apa dia tidak tahu kalau perasaanku campur aduk begini. Dia bahkan tidak memelukku sama sekali. Saat malam tiba aku tidur memunggunginya, entah mengapa rasanya seharian ini dia sangat menyebalkan dan tambah menyebalkan saat dia menarik kasur sorong dan tidur di bawah. Rasanya ingin aku berteriak karena perbuatannya. Perlahan aku berbalik dan memantau Arka yang terlihat sudah tidur namun tidak terdengar dengkuran halusnya.
"WAAAAAAA," Arka tiba-tiba berteriak.
"IBUUUUUUU," aku ikut berteriak karena kaget.
Arka lalu duduk sambil tertawa sangat keras bahkan sampai mengeluarkan air mata dan memegang perutnya. Tentu saja aku cemberut sampai menangis. Bukan karena kesal dengan keusilan Arka tapi lebih karena tumpahnya kekesalan yang seharian menumpuk di benakku. Arka kemudian duduk di sampingku dan mengusap air mataku.
__ADS_1
"Bertemu denganmu adalah takdir, tapi jatuh cinta padamu itu keputusanku," kata Arka mengangkat daguku sambil tersenyum.
"Mas nggak sesayang itu sama aku," kataku lirih dan membuang muka.
"Lagian kamu dari kemarin malam sampai seharian ngambek, ku kira kamu butuh waktu untuk sendiri," kata Arka sambil menyelipkan rambutku ke belakang telinga.
Ternyata Arka peka juga dan diam-diam dia tahu kalau aku ngambek tapi tindakan yang dia ambil salah. Kenapa dia tidak merayuku supaya aku tenang.
"Baguslah kalau mas tahu," kataku sambil mencoba sedikit menjauh darinya.
"Yank, aku sama Lovely itu nggak ada apa-apa, kok kamu jadi curigaan gini?" tanya Arka kemudian meletakkan dagunya di bahuku.
"Terus kenapa telepon harus menjauh?" tanyaku sambil mendorong kepalanya pelan-pelan.
"Berarti ada yang kamu nggak perlu tahu," kata Arka malah memelukku erat.
"Kenapa gitu?" tanyaku lagi penasaran
"Ya, karena nggak perlu," jawaban Arka membuatku semakin naik darah.
Sudahlah, sebaiknya aku tidur saja daripada ngobrol berputar-putar seperti ini. Apa yang sebenarnya menurut Arka tidak perlu aku ketahui. Tentang urusan kantor kah? Atau tentang sesuatu yang kalau sampai aku tahu menambah sakit hatiku. Kalau pun aku memaksa pasti Arka tetap akan menutupinya.
__ADS_1