MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 113


__ADS_3

Sudah sebulan sejak kejadian itu, aku hanya murung seolah menjadi musuh keluarga. Beberapa minggu yang lalu aku selesai melaksanakan transfer embrio dalam program bayi tabung. Besok Arka sudah mengajakku kembali ke villa untuk mempersiapkan soft opening area wisata dan resort yang sudah selesai pembangunannya. Mumpung ini hari terakhir, aku ingin menghabiskan waktu dengan Rayi dan mengurangi stress akibat kasus Aditya ini. Namun saat ku telepon, Rayi mengatakan kalau dia tidak ke butik hari ini karena dia harus cek kehamilan. Masak iya, hanya cek kehamilan perlu waktu seharian? Pasti alasannya Rayi saja karena dia ingin heeling dengan Rinto yang akhir-akhir ini super sibuk. Dengan berjalan tanpa semangat menuju ke butik dan disambut oleh Erna yang mengatakan kalau ada tamu yang menungguku. Biasanya semua urusan tamu dan lain-lain diatur oleh Rayi, lalu kenapa harus aku yang menemuinya? Aku membuka pintu dan menemukan Tandri duduk tertunduk di sofa. Mau apa lagi dia? Sebenarnya aku malas untuk berbicara dengannya tapi karena tidak enak dengan semua yang ada di butik. Aku mempersilahkannya untuk masuk ke ruang kerja. Dan menatapnya kesal, entah dia dan Pak Irawan berbohong pada siapa, padaku kah atau pada keluarga Pak Surya.


"Saya mau minta maaf Bu atas kejadian kemarin," kata Tandri terbata-bata.


"Untuk apa kamu minta maaf? Nggak ada gunanya," kataku menolak dengan tegas karena sudah terlanjur tidak bisa mempercayainya.


Dia lalu berusaha meyakinkan aku kali ini untuk mendukungnya. Tidak lama kemudian, pintu ruang kerjaku diketuk dan Anggi nongol di depan pintu dan dibelakangnya diikuti oleh Fiona. Aku melonjak kegirangan dan memeluk Fiona. Sedikit mengabaikan Tandri, aku menyambut Fiona dengan perasaan senang dan menanyakan kabar Edna dan Eurika. Ternyata Fiona datang ke sini untuk mengurus aset yang selama ini dibaliknama oleh Aditya tanpa sepengetahuan Fiona. Fiona kemudian duduk disamping Tandri dan menepuk lembut pundaknya. Fiona meminta Tandri untuk berbicara jujur tentang apa yang terjadi dan meyakinkan pada Tandri kalau dia dan Pak Irawan tidak akan berakhir di penjara. Barulah terkuak kalau Pak Irawan dan Tandri diancam oleh Aditya karena mereka telah membuka rahasianya. Tandri kemudian menunjukkan chat dan rekaman telepon antara Pak Irawan dan Tandri. Sangat kasar saat Aditya mengatakan bahwa dia akan melaporkan mereka karena sudah menukar anak mereka sendiri dengan anak orang kaya yang sudah meninggal hanya supaya Pak Irawan bisa lepas dari tanggungjawabnya untuk mengasuh dan membesarkan anak kandungnya. Fiona juga membawakan hasil test DNA yang menunjukkan bahwa Aditya memang anak dari Pak Irawan dan Bu Zulaikha. Menurut Fiona pasti Aditya panik dan khawatir kalau Pak Surya tahu dia bukanlah anak kandungnya, Pak Surya akan menarik semua warisan dan fasilitas yang dimilikinya. Apalagi ada Arka yang jelas adalah anak kandung dan darah daging Pak Surya. Mendengar penuturan Fiona dan semua bukti lengkap yang sudah ada di tanganku, aku tersenyum karena amunisi perangku sudah lengkap dan aku siap tempur.


...****************...

__ADS_1


Aku berhasil mengundang semua ke penthouse Pak Surya dengan alasan untuk merayakan ulangtahun pernikahanku dengan Arka yang kebetulan bertepatan dengan hari ini. Bu Gendis masih tidak bersikap ramah padaku. Semua mata menatap heran saat aku datang bersama Fiona dan Tandri. Acara makan malam dimulai walaupun suasana terasa kaku dan tidak seperti perayaan yang seharusnya yang diisi oleh canda tawa dan kebahagiaan. Fiona kemudian mengatakan tujuannya datang untuk menyelesaikan semua urusannya dengan Aditya walaupun akhirnya memancing emosi Aditya yang malah mengatakan kalau Fiona dan keluarganya berusaha memperbudaknya selama ini. Pak Surya meminta mereka berdua untuk menyelesaikan masalah mereka kemudian karena ini merupakan acaraku dan Arka sehingga sangat tidak nyaman jika ada pertengkaran.


"Ehm, aku juga ingin memperbaiki hubunganku dengan mama dan papa dan meluruskan semua kesalahpahaman yang sudah terjadi," kataku begitu suasana mulai terkendali.


Aku kemudian memaparkan setiap bukti yang aku punya. Aditya tampak pucat dan seolah tidak bisa menghindari serangan ku kali ini. Bu Gendis terlihat sangat kaget dan menatap ke arah Aditya sambil menggelengkan kepala.


"Zulaikha tidak bersalah, naluri keibuannya menginginkan yang terbaik untuk anaknya," kata Bu Gendis.


"Tapi kenapa kamu tidak berterus-terang saat tahu tentang perkara ini? Kamu sudah dewasa kan saat tes DNA dan saat Bu Zulaikha mengatakan semua? Dan kenapa kamu berbuat seolah-olah Kasih sudah memfitnahmu?" tegas dan berwibawa kata-kata yang keluar dari mulut Pak Surya.

__ADS_1


Suasana menjadi hening, semua menunggu jawaban dari Aditya yang dari tadi berteriak histeris sambil mencaci maki. Mungkin lelah berteriak, Aditya lalu mengatakan kalau dia takut dia akan didepak dari keluarga ini dan menjalani hidup yang miskin dan susah. Padahal orang tua kandungnya menukarnya dengan tujuan agar hidupnya terjamin tanpa kekurangan suatu apapun.


"Kalau Mas Adit mau jujur, nggak ada yang akan membuang Mas Adit, apapun itu Mas Adit sudah merupakan bagian dari keluarga ini," kata Arka yang membuatku ya bisa dibilang sedikit kecewa.


Arka terlalu baik, kenapa dia tidak membiarkan saja Aditya merasakan apa yang menjadi kekhawatirannya. Bukankah selama ini Aditya juga bertindak semena-mena terhadap Arka. Aditya menangis sejadi-jadinya. Apalagi saat Fiona mengatakan keinginannya untuk pisah dan dia sanggup untuk menjadi single parent untuk Edna dan Eurika. Fiona juga sudah menata kembali perusahaan keluarganya yang sempat kacau karena ulah Aditya.


"Kamu sudah dewasa, sudah punya keluarga sendiri, nggak seharusnya kamu khawatir. Lihat saja Arka dan Kasih, mereka tetap bisa hidup dengan usaha mereka sendiri. Papa kecewa bukan karena kamu tidak mau jujur, tapi kamu mengancam keluarga Pak Irawan dan berusaha menyudutkan Kasih," sekali lagi Pak Surya mengeluarkan kata-kata yang membuatku ingin melakukan selebrasi.


Pak Surya kemudian berdiri dan berjalan menuju ke kamar dan Bu Gendis menyusulnya. Fiona mengajak Tandri untuk pulang kemudian Arka menggamit tanganku dan mengajakku kembali ke apartemen kami. Terdengar suara Aditya membanting peralatan makan sambil kembali berteriak histeris. Lega rasanya, bukan karena berhasil mempermalukan dan menjatuhkan Aditya, tapi lebih kepada karena aku bisa mengembalikan nama baikku di tengah keluarga ini. Malam ini juga Arka memintaku untuk packing karena besok pagi-pagi sekali kami akan kembali ke villa untuk menyelesaikan rencana kami yang sempat tertunda. Semoga saja kedepannya tidak ada lagi masalah-masalah yang mengganggu keluarga kecilku.

__ADS_1


__ADS_2