MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 118


__ADS_3

"Tadi pas Keysha telepon, aku dengar suara Awan," kataku terus terang pada Rayi.


"Terus?" tanya Rayi sambil merenungi wajahku.


"Kenapa sih dia nggak di luar negeri aja terus?" kataku sambil menghela napas panjang.


"Masalahnya bukan di mana Awan, tapi di mana hatimu," kata Rayi dengan nada tinggi.


"Kok jadi aku yang salah?" tanyaku mulai sewot.


"Kamu itu very sangat menyebalkan sekali. Kurang apa Arka sebagai suami? Tiap segala sesuatu berhubungan dengan Awan kamu langsung, baper, langsung galau. Ra jelas blas!" Rayi mengatakan semua dengan penuh emosi.


Menurut Rayi bukan Awan yang tidak bisa move on tapi akulah yang payah. Kalau saja aku benar-benar ikhlas merelakan Awan, Awan tidak akan pernah berharap padaku. Aku juga tidak perlu menghindari Awan karena Awan pasti akan sadar saat aku benar-benar bisa mengabaikannya. Mungkin kalau aku benar-benar bisa melepaskan Awan. Pikiranku akan sangat santai bahkan saat Awan ada di sampingku, aku akan bertindak biasa saja. Kalau aku bisa Samapi ke titik itu, barulah aku bisa mendamaikan Awan dengan Arka.


"Setidaknya kamu harus bisa berdamai dengan dirimu sendiri," kata Rayi sebelum berlalu pergi.


Aku hanya tertunduk. Tak bisa ku pungkiri hanya Rayi yang bisa melihat segala situasi yang selalu ku hadapi. Sebrengsek itu aku tidak pernah bisa melupakan cintaku pada Awan yang pada akhirnya hanya mempersulit diri sendiri. Aku tertunduk dan menangis, rasa bersalah pada Arka menyelimuti perasaanku. Bagaimana cinta yang sudah basi itu bisa membutakan mata hatiku pada ketulusan dan kebaikan Arka. Tiba-tiba terasa pelukan hangat dan wangi parfum yang selalu ku hirup mendekap tubuhku sambil membelai rambutku. Ku pererat pelukanku yang melingkar di pinggangnya. Aku bertekad untuk bisa mencintai pria ini dan akan menghargainya. Akan ku hempaskan bayangan tentang Awan dari masa depanku.

__ADS_1


"Maaf kan aku, mas" hanya kata itu yang keluar dari mulutku.


"Maaf untuk apa?" tanya Arka.


Aku hanya diam tidak menjawab, ku hapus air mataku dan ku berikan senyumku untuknya. Tatapan heran terus ditujukan padaku. Tapi aku berusaha meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Arka tidak memaksaku untuk berkata berterus terang. Aku kemudian mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan tentang Aahva yang ternyata sudah tidur dan dibawa pulang ke rumah ibu. Pasti ibu sangat senang karena kami akan lebih lama di sini sehingga ibu akan punya banyak waktu untuk bersama Aahva. Kami memutuskan untuk tidak menyusul Aahva dan kembali ke rumah untuk membahas mengenai rencana area argowisata yang ingin dibangun Arka. Tentu saja kali ini melibatkan Rinto yang lebih memahami seluk beluk desa ini. Rencana juga akan melibatkan sebagian besar penduduk desa untuk mengolah lahan menjadi area pertanian dan peternakan. Aku mulai mengantuk karena sungguh aku sama sekali tidak berminat dengan pembahasan mereka. Rayi juga sudah pulang karena harus menidurkan Ade. Apa mungkin Rayi marah padaku karena hal yang baru saja terjadi. Ah, tidak mungkin. Rayi bukan orang seperti itu.


Ponsel ku mulai berdering dan itu dari Keysha. Aku beranjak dari tempat ini dan menjauhi Rinto dan Arka. Kali ini dengan tegas aku mengatakan pada Keysha bahwa aku tidak bisa membantunya. Dan sepertinya Keysha mulai mengerti dan dia mengakui kalau semua ini permintaan dari Awan, bukan Chloe. Untung saja dari awal aku sudah menolaknya sehingga aku tidak terlibat urusan dengan Awan.


"Key, ada sesuatu yang harus dinilai dengan uang dan ada yang harus dibalas dengan kemanusiaan," tegurku.


"Iya, harusnya aku tahu itu berpotensi merusak hubunganmu dengan Arka," kata Keysha dengan nada penuh penyesalan.


Keysha meminta maaf dan berencana membatalkan permintaan Awan. Aku tidak menyarankan itu padanya tapi Keysha mengaku kalau dia juga tidak paham dengan konsep yang diinginkan Awan. Mungkin Awan tidak bersungguh-sungguh memesan desain sehingga dia sendiri tidak bisa menyampaikan secara detail apa yang diinginkan. Saat pandanganku menerawang jauh menembus langit, tangan Arka melingkar erat di pinggangku dan punggungku terasa hangat


"Mas, aku ingin jatuh cinta padamu berkali-kali, sampai nanti kita menua bersama," kataku sambil memejamkan mata.


"Aku hanya ingin menjagamu, memastikan kamu baik-baik saja dan bahagia selalu," kata Arka yang dari awal tidak pernah berubah.

__ADS_1


"Jemput Aahva yuk," ajakku.


Sesampainya di rumah ibu, ternyata Aahva tidur karena tadi belum sampai di rumah, Aahva terbangun dan kemudian bermain bersama Ade di kandang kambing dan sekalian disuapin. Mungkin karena kelelahan, setelah dibersihkan ibu dan berganti pakaian. Aahva kemudian lelap bersama Ade. Arka kemudian pamit karena ada yang harus diselesaikan bersama Rinto.Tinggalah aku dan ibu berdua bersantai di teras rumah. Setelah sekian lama, baru kali ini aku berkesempatan untuk meluangkan waktu bersama ibu. Ibu menanyakan tentang kehidupan bersama Arka dan Aahva, aku sangat antusias menceritakan semuanya. Karena tidak ada yang tidak indah dari kisah kami. Aku juga memberitahu ibu kalau Arka hanya memiliki satu ginjal dan itu sudah bawaan lahir. Tapi menurut ibu, itu tidak masalah karena nyatanya Arka baik-baik saja sampai saat ini.


"Nduk, kamu nggak pernah menyesalkan menikah dengan Arka, kan?" pertanyaan ibu yang membuat aku bingung.


"Kenapa Bu?" tanyaku penasaran.


"Karena kita nggak harus menikah dengan orang yang kita cintai," kata ibu yang membuatku semakin bingung.


"Ada apa ini Bu?" tanyaku semakin penasaran.


"Ya, memang cinta perlu dalam rumah tangga, tapi yang terbaik adalah menemukan orang yang tepat dan bisa jadi teman hidup," kata-kata ibu yang membuatku bertanya-tanya sendiri ke arah mana pembicaraan ini.


"Ini tentang apa ya Bu?" tanyaku lagi masih tidak paham dengan arah pembicaraan ibu.


"Tentang kamu dan Awan," kata ibu yang membuat aku seketika lemas.

__ADS_1


Bagaimana mungkin ibu membahas tentang Awan padahal aku sudah bertekad untuk melupakannya.


__ADS_2