MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 85


__ADS_3

Sopir itu bercerita bahwa pada saat memperkenalkan diri pada semua karyawan pabrik dengan nama 'Miss Lovely', Lovely menekankan kalau seluruh karyawan harus tunduk dan patuh padanya karena dia calon istri Arka. Sebentar lagi aku dan Arka akan bercerai karena pernikahan ini hanya sebuah perjodohan dan yang lebih parah karena aku berkhianat dan selingkuh dengan salah satu rekan bisnis Arka. Lovely juga menyebarkan video dari CCTV saat Awan memelukku untuk memperkuat argumennya. Hot news pagi ini adalah, semua tahu kalau aku ternyata Awan adalah mantanku. Pantes saja tadi semua menatapku aneh. Lovely memang kurang ajar, bisa-bisanya dia menggunakan cara kotor seperti itu.


"Bahkan Miss Lovely nggak segan-segan buat nyium Pak Arka di depan umum saat meeting," kata sopir itu setengah berbisik.


"Saya sudah tau itu, Pak Arka yang cerita," kataku apa adanya.


"Lho ibu tau?" tanya sopir kaget.


"Lipstiknya nempel," jawabku santai


"Tapi Bu, Pak Arka kelihatan nggak suka, pas tadi ambil mobil di saya, wajahnya kelihatan kesal Bu. Tapi, mohon maaf bu, apa benar yang dikatakan Miss Lovely itu?" tanya sopir sedikit ragu


"Ya, kamu lihat aja gimana nantinya. Saya malas klarifikasi, toh benar salah pasti terbukti," kataku sambil tersenyum.


"Ah, paling juga seperti yang lalu-lalu Bu, semua hanya ngaku-ngaku tapi tiba-tiba aja beritanya menguap," kata sopir itu


Ponselku berbunyi dan itu panggilan dari Arka. Aku mengatakan kepadanya kalau aku bosan di lobi dan memintanya menyusulku ke cafe di seberang jalan. Sopir tampak tidak nyaman karena dia takut terjadi pertengkaran antara aku dan Arka namun aku berusaha menenangkannya sampai saat Arka datang dengan senyumnya dan tanpa ragu mencium dahiku. Pak Sopir buru-buru pamit namun Arka menahannya. Lama Arka terdiam dan termenung.


"Yank, kamu ada rencana pergi dari sini nggak? Lovely itu sudah keterlaluan," kata Arka dengan tatapan menerawang.


"Kenapa?" tanyaku lembut berusaha menenangkan hatinya.

__ADS_1


"Dia itu udah gila, bikin cerita nggak jelas begitu," kata Arka penuh emosi.


"Maaf Pak, saya sudah cerita semua ke ibu," kata sopir sambil tertunduk was-was.


"Kok kamu bisa sesantai ini?" tanya Arka sambil menatapku heran.


"Kita nggak perlu pergi mas, capek lari-larian terus sama Lovely. Kita hadapi aja," kataku menyemangatinya.


Mungkin ini yang terbaik, harus main halus untuk membantah semua omongan Lovely. Biar dia rasakan bagaimana rasanya senjata makan tuan. Aku bertekad kalau aku pasti bisa membuat dia mengakui semua kebohongannya. Walaupun saat ini belum terpikirkan bagaimana caranya. Biar saja semua berjalan apa adanya. Mungkin saat ini dia sedang gembar-gembor di kantor membuat kebohongan baru. Biar saja seluruh kantor terlena dengan dongengnya karena aku yakin Arka tidak akan pernah jatuh ke pelukannya. Tapi aku harus mendamaikan Arka dengan Pak Surya terlebih dahulu.


...****************...


Ruang kantor Pak Surya memang lebih luas dibandingkan ruang kantor Arka. Ini pertama kalinya aku masuk ke ruangan ini. Tanpa sepengetahuan Arka, aku menemui Pak Surya untuk mendamaikan keadaan.


"Mama juga bilang gitu ke papa dan sudah papa lakukan," kata Pak Surya sambil memperbaiki letak kacamatanya. "Papa minta maaf Kas, sudah berprasangka buruk padamu," lanjut Pak Surya lagi.


Sangat mencengangkan saat mendengar cerita Pak Surya. Ternyata orang yang memberitahukan kepada Pak Surya mengenai rekaman CCTV itu adalah lovely. Jadi, pada hari pertama Lovely datang ke kantor, dia meminta rekaman CCTV khusus di ruangan Arka entah dengan tujuan apa. Karena menganggap bahwa Lovely orang terdekat Pak Surya, karyawan bagian IT menuruti kemauannya. Hari berikutnya, Lovely menyebarkan fitnah di seluruh kantor namun sepertinya Pak Surya belum tahu mengenai hal ini. Aku dan Arka sibuk menghindari Lovely tapi malah memberi celah baginya untuk menyebar berita bohong dan membuat semua orang percaya padanya.


"Tapi kenapa Mas Arka masih diemin papa?" tanyaku pelan.


"Arka memang begitu, kalau dia merasa tidak bersalah. Sudahlah, kalau Arka sudah nggak emosi pasti baik lagi. Papa juga udah minta maaf sama dia," kata Pak Surya.

__ADS_1


"Kok jadi papa yang minta maaf?" tanyaku heran


"Ya, kan papa yang salah," jawab papa santai sambil tersenyum.


Aku sedikit tertawa. Ternyata sifat santai Arka menurun dari Pak Surya. Berbicara dengan Pak Surya rasanya seperti berhadapan dengan Arka versi lain. Pak Surya lalu menanyakan mengenai rencanaku membuka butik dan aku hanya tersenyum karena aku belum memulai sama sekali. Ternyata Arka sudah menceritakan semua pada Pak Surya dan menurut Pak Surya itu adalah ide yang luar biasa. Pak Surya malah menyarankan untuk bekerjasama dengan pengrajin batik tulis, selain untuk melestarikan budaya bangsa, ketrampilan itu juga bisa dijadikan aset pariwisata. Bahkan Pak Surya bersedia menanamkan modal untuk membuka lembaga pelatihan ketrampilan batik tulis tersebut. Aku jadi teringat untuk mengirimkan beberapa desain baju ke Keysha dan aku harus pulang karena ada kursus yang harus aku ikuti. Sebenarnya sudah tidak penting lagi untuk kursus tapi kalau dipikir-pikir sayang dana yang sudah dikeluarkan untuk ruang jahit dan biaya kursus. Tapi sebenarnya aku juga mulai bosan karena tidak banyak yang bisa aku lakukan di sini.


"Besok saya mau pulang pa, bosen di sini. Lagipula udah kangen ini sama Mbok Welas" kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tapi Arka masih di sini kan?" tiba-tiba suara Lovely muncul dari depan pintu bersamaan dengan masuknya dia ke dalam ruangan.


Benar-benar tidak punya sopan santun. Apa dia tidak tahu adab mengetuk pintu sebelum masuk ke suatu ruangan dan tidak menyela pembicaraan orang begitu saja? Kalau tidak menjaga perasaan Pak Surya, sudah ku labrak juga dia.


"Itu terserah Arka," kata Pak Surya kalem


"Gimana sih om? Om nggak bisa nahan Arka di sini? Arka itu anak Om lho, harusnya nurut sama om," kata Lovely merengek manja.


"Mas Arka sudah dewasa, dia sekarang kepala rumah tangga. Papa hanya boleh menasehatinya tapi nggak boleh ngatur hidupnya," akhirnya sudah tidak bisa ku tahan lagi untuk mengeluarkan unek-unek.


"Hello?! I don't talk to you," kata Lovely sedikit meninggi.


"Dari tadi juga saya ngobrol sama papa nggak ngajak kamu," seperti mendapat senjata untuk menyerangnya ternyata cukup membuat Lovely bungkam.

__ADS_1


Pintu terbuka lagi dan Arka masuk dengan wajah heran melihat aku ada di ruangan ini. Aduh, padahal aku tadi sudah berusaha diam-diam menemui Pak Surya.


__ADS_2