
"Kenapa mereka ada di sini?" suara yang sangat tidak asing dan sungguh menyebalkan itu tiba-tiba terdengar dari depan pintu.
"Ada kerjasama untuk pengadaan seragam, Bu Chloe," jawab Niken sambil tertunduk namun wajahnya menunjukkan rasa tidak nyaman.
"Ada masalah?" tanyaku mengangkat kepala dan menatap tajam seolah menantangnya.
"Kenapa harus dengan mereka? Kayak nggak ada yang lain aja,, cancel sekarang juga dan cari yang lain" kata Chloe kepada Niken dan mengabaikan ku.
“Tapi ini... ... ...," kata-kata Niken terpotong oleh teriakan Chloe.
"Kamu mau dipecat?" bentak Chloe yang sukses mengagetkan seantero jagat.
"Ada masalah apa? Apa hakmu memecat karyawan seenaknya seperti itu? Mommy yang suruh Niken untuk menghubungi mereka karena mommy suka dengan karya mereka" tiba-tiba ibu Awan muncul di samping Chloe.
Hal ini sukses membuat Chloe mati gaya. Dengan mulut yang sedikit ternganga dan tampang seolah tak percaya dengan kehadiran ibu Awan yang kemudian masuk dan bergabung dengan kami dan tentu saja dengan senyumnya yang ramah penuh kelembutan. Kami melanjutkan meeting kami yang terkesan serius tapi sebenarnya sangat santai. Banyak candaan dan tawa di sela-sela perbincangan kami. Seperti terpaksa, Chloe akhirnya ikut duduk bersama kami sampai kami selesai membuat kesepakatan dan menandatangani kontrak penjualan yang sudah aku siapkan. Dan semua pekerjaan akan dimulai besok dengan deadline satu bulan. Aku dan Rayi tersenyum puas karena ini termasuk tender besar.
__ADS_1
“Arka sehat Kas?” tanya ibu Awan setelah semua selesai
“Sehat, Bu,” jawabku sambil tersenyum
“Panggil saya mommy aja supaya kita lebih akrab. Oh ya, mommy pulang dulu ya. Mau gantian mengurus rumah,” katanya lalu berdiri dan cipika cipiki denganku dan Rayi.
Chloe kemudian berdiri dan mengikuti langkah ibunya Awan dan sempat melirikku dengan tatapan sinis. Ku biarkan saja dan aku membuka kembali kontrak penjualan yang sudah kami sepakati dan dari situ aku tau kalau ibunya Awan bernama Imelda. Sebelum pulang kami sempat mengobrol dengan Niken. Ternyata selama ini Chloe telah merawat ayah Awan yang sering anfal dan entah bagaimana caranya membuat Chloe seolah berkuasa di perusahaan ini. Chloe juga mengaku kalau dia adalah tunangan Awan dan dia sering bertindak semena-mena bahkan memecat beberapa karyawan. Awalnya semua mengira bahwa dia mendapat mandat dari ayah Awan tapi karena merasa diperlakukan tidak adil, dewan direksi sepakat melaporkannya pada Bu Imelda. Ibu Imelda sangat kaget namun tidak memberitahukan semua kepada suaminya. Menurut Bu Imelda, tindakan Chloe sangat berpotensi merugikan perusahaan dan akhirnya beliau terpaksa turun tangan untuk membenahi semuanya. Dan Awan yang akhir-akhir ini sibuk di luar negeri sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya. Hanya sesekali dia pulang untuk melihat keadaan dan kesehatan ayah dan ibunya. Menurut Niken, Chloe hanya memanfaatkan kondisi kesehatan ayah Awan supaya bisa menjadi menantu di keluarga itu. Chloe tidak setulus hati mencintai Awan. Dia hanya berusaha menaikkan gengsinya dengan menjadi istri dari seorang pria yang tampan dan kaya raya. Semua karyawan mengetahui tentang hal itu dan sepertinya ada seseorang yang menyampaikan pada ibu Awan dan membuat beliau bertindak. Sebentar lagi Bu Imelda akan mengadakan audit keuangan besar-besaran. Tapi menurutku Chloe pasti tidak tahu kalau dirinya sedang diinspeksi karena memang pengetahuan Chloe tentang dunia bisnis itu nol besar. Terlihat dari tindakannya tadi saat disela oleh Bu Imelda
...****************...
“Apanya?” tanyaku sambil menyuapkan setup makaroni ke dalam mulutku
“Ya, tentang Chloe dan keluarganya Awan,” lanjut Rayi bersemangat
“Bukan urusanku,” jawabku acuh tak acuh.
__ADS_1
“Ini tuh hot topik, sayang kalau nggak digoreng,” Rayi mencoba menghasut ku
“Minyak goreng baru mahal, jadi nggak goreng-goreng dulu. Ini aku mau fokus menyelesaikan semua biar aku bisa cepat juga fokus sama keluargaku,” jawabku sambil terus mengunyah.
Rayi akhirnya menyerah dan kami segera menyelesaikan makan karena aku sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah. Tapi saat aku tiba di rumah ternyata Arka pergi sudah sejak tadi. Aku berniat untuk menyusulnya namun Mbok Welas mencegahku dengan alasan aku harus istirahat karena aku sudah sibuk seharian. Aku menuruti saran Mbok Welas karena benar saja saat aku ke kamar kecil, bukan lagi flek atau darah segar yang aku dapatkan tapi berupa gumpalan. Aku merasa lemas seketika dan hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja. Aku bergegas menghubungi Rayi dan memintanya membawaku ke rumah sakit.
Aku harus bedrest total, benar-benar tidak diperbolehkan banyak bergerak. Infus menempel di tanganku dan air mata terus mengalir membasahi pipiku. Bayi dalam kandunganku baik-baik saja dan jika dianggap sudah cukup bulan serta beratnya mencapai 2,5 kg aku harus menjalani operasi caesar demi keselamatan ibu dan bayi. Arka datang dengan wajah pucat dan panik. Karena Arka sudah datang, Rayi kemudian pamit pulang karena Ade mulai rewel. Arka hanya diam duduk di sampingku sambil membelai rambutku dan menatapku dengan pandangan yang tidak bisa ku artikan. Seolah dia mengalami kesedihan yang sangat mendalam.
“Yank,” panggil Arka dengan suara bergetar
“Iya” jawabku dengan nada sedikit heran
“Kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri dan anak-anak kita, aku nggak bisa selalu ada untuk kalian,” katanya dengan berlinangan air mata.
Hatiku bergetar, kenapa Arka malah bicara seperti itu, bukannya menyemangati ku untuk cepat sembuh, dia malah seperti menjatuhkan beban berat di pundakku. Kalau bukan dia, siapa yang akan bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya?
__ADS_1