
Air mataku rasanya enggan mengalir, tatapan mata kosong dan pikiran yang juga ikut kosong. Sedih dan marah bercampur aduk menjadi satu tapi entah pada siapa semua emosi ini. Rasanya baru saja aku ingin mengabdikan seluruh hidupku untuk keluarga kecilku sehingga aku memutuskan untuk meninggalkan semua terutama karierku yang sedang berada di puncak. Lalu saat ini untuk siapa semua ini kalau akhirnya Arka tidak lagi menemaniku membangun rumah tangga kami ini? Walaupun kami sudah sekian lama bersama tapi rasanya baru kemarin aku jatuh cinta padanya dan merasa memilikinya seutuhnya tapi apa memang aku ditakdirkan memang untuk tidak hidup bersama orang yang aku cintai? Saat aku menggebu-gebu mencintai Awan, perjodohan ku dengan Arka memaksa kami untuk berpisah namun saat cintaku mulai mekar dan bersemi untuk Arka, maut memisahkan kami.
Semalam dia terlihat baik-baik saja tapi saat pagi aku bangun dalam pelukannya, tubuhnya terasa dingin, tidak ada lagi detak jantung yang biasanya manjadi irama favoritku, tidak lagi Arka menjawab saat aku berulangkali bahkan memanggilnya dengan seluruh tenaga. Dia tidak bergerak, tidak juga terasa hembusan napas di hidungnya. Teriakkan histerisku membuat Mbok Welas panik dan meminta tolong ke Rayi. Rinto bergegas membawa Arka ke rumah sakit untuk memastikan semuanya namun tidak sampai satu jam datang kabar yang serasa melemahkan seluruh sistem sarafku. Ku tumpahkan semua air mata dan rasa kehilangan di pangkuan Rayi yang berusaha menenangkan aku. Tangisku bukan karena tidak ikhlas dan tidak rela kehilangan Arka tapi bagaimana dengan Aahva dan Bening? Mereka tidak akan punya kenangan indah bersama ayah mereka seperti yang aku miliki. Siapa yang akan menemani Aahva bermain di saat sore seperti biasanya, siapa akan bersenandung untuk meninabobokan Bening? Betapa tegarnya aku berdiri sampai saat ini karena sosok bapak yang selalu mendukungku, lalu siapa yang akan mendukung Aahva dan Bening?
Perlu aku ikhlaskan dan menganggap memang ini yang terbaik, Arka sudah tidak merasakan sakit lagi. Semua deritanya sudah berakhir. Arka juga tidak perlu terus menerus merasa bersalah karena gagal memenuhi janjinya untuk menjagaku. Dia merasa gagal menjadi suami dan ayah hebat seperti yang diimpikannya selama ini. Aku tidak selayaknya terpuruk karena selama ini Arka hanya ingin aku hidup dalam keadaan bahagia dan selalu baik-baik saja. Di pemakaman ini tenang sudah Arka. Bening yang ada di gendonganku terlelap dan Aahva yang aku gandeng terlihat bermain dengan bunga sekar yang menebar aroma khas di atas gundukan tanah yang diatasnya terpacak batu nisan dan terukir nama Arka Aryasetya. Kedua kalinya aku terdiam dan enggan beranjak dari tanah pemakaman. Pertama di pemakaman ayahku, dan kali ini di pemakaman suamiku. Dua pria hebat yang mengisi hidupku. Aku pasti akan berusaha baik-baik saja dan berusaha selalu bahagia demi bapak dan Arka.
...****************...
Sudah hampir tiga bulan lebih sejak kepergian Arka dan aku merasa sudah bisa menata hati dan pikiran serta siap menghadapi hari-hari tanpanya. Banyak urusan yang harus aku tangani dan untuk itu aku harus berdiri tegak. Teringat pesan ibu, yang pergi biarlah pergi, kita yang masih tinggal masih harus berjuang supaya tidak menyusahkan diri sendiri dan orang lain. Iya, aku ingin seperti ibu yang tetap bisa berjalan walaupun berstatus janda.
"Nangiso Kas, jangan disimpan," kata Rayi saat kami berdua duduk di cafe tempat pertama aku bertemu Arka.
"Aku nggak secengeng itu Ra," tolakku sambil mengaduk-aduk kopi di depanku.
__ADS_1
"Bukan masalah cengeng, takutnya kamu terlalu banyak memendam bisa jadi depresi," kata Rayi lagi memberi alasan.
"Aman kok, Ra." kataku berusaha menghapus kekhawatiran Rayi.
"Yo wis. Jadi kini di sini untuk mengurus hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain," kata Rayi setelah yakin dengan keadaanku.
"Kok malah proklamasi Ra?" tanyaku sambil menahan tawa.
Ternyata usaha Arka yang bergerak di bidang kuliner dan wahana pariwisata tidak sedikit dan Rinto mengeluh agak kewalahan jika harus menangani semuanya. Aku hanya mampu menghela napas panjang, padahal semalam Pak Surya juga mengeluh karena perusahaan keluarga yang tidak mampu dia tangani, belum lagi untuk usaha butik dan konveksiku yang juga sudah memiliki beberapa cabang di berbagai kota besar. Apa aku harus memulai lagi semua di dunia bisnis? Aku sangat nyaman menyandang predikat ibu rumah tangga dan rasanya sangat berat untuk meninggalkan Aahva dan Bening yang selama ini sudah terbiasa dengan keberadaanku. Apalagi aku juga tidak terlalu menguasai dunia bisnis kuliner dan pariwisata ini. Aku harus belajar lagi dan ini membuat kepalaku rasanya sangat penuh. Dan aku haru mengepalai semuanya. Baru membayangkan saja otakku rasanya sudah mau meledak.
"Nggak dilepas begitu aja Kas, tetap aku dampingi juga," kata Rinto berusaha meyakinkanku.
"Iya, kenapa nggak kamu aja yang mengurus semua?" tanyaku setengah putus asa.
__ADS_1
"Aku kan cuma karyawan Kas, sekarang kamu yang jadi owner-nya." jawab Rinto mempertegas
"Ya bantulah aku kayak Rayi mengelola butik sama konveksiku," kataku memelas
"Isone iso, tapi yang perusahaan Pak Surya gimana? Aku nggak tau sama sekali lho," kata Rinto juga menyerah
"Ya, itu nanti aku bicarakan sama beliau," jawabku lagi.
Rasanya ingin terus menerus menarik dan menghembuskan napas panjang lalu mengacak-acak rambutku. Kenapa belum melangkah saja aku sudah merasa kelelahan, belum lagi urusan rumah, usahaku sendiri, usaha Arka ditambah lagi usaha keluarga Arka. Seenak itu mulut masyarakat mengatakan kalau hidupku sangat mudah, janda yang ditinggalkan dengan harta melimpah. Mereka tidak tahu betapa rumitnya semua ini, kalau aku tidak pintar mengelola, bisa saja semua harta itu habis sia-sia.
Ponselku berdering dan itu panggilan dari Pak Surya. Pasti beliau ingin membahas mengenai kerjasama yang sempat disinggung kemarin saat makan malam. Tapi demi Aahva dan Bening, aku harus bisa melangkah dan menjalankan ini semua.
"Nduk, besok pagi jam sepuluh kamu ke kantor papa ya, biar kamu bisa mulai belajar," hanya kata itu dan dengan cepat aku mengiyakannya.
__ADS_1