
Aku sampai di rumah dengan kepala terasa sangat penuh, selama ini jika orang tuaku bertanya mengenai pasangan hidup, selalu ku jawab dengan alasan karier yang harus ku kejar dan sekarang tiba-tiba ada yang datang melamar ku. Apa pendapat bapak dan ibu tentang keputusan kami yang terkesan sangat mendadak ini? Apa bapak dan ibu akan semudah itu memberi restu dan mengizinkan kami menikah? Aku sadar jalan pikir bapak yang kadang rumit dan sulit untuk diselami. Lalu aku putuskan ke rumah Rayi untuk berbagi beban di kepalaku.
"Ya, kalau kamu belum siap ditolak dengan alasan yang tepat dong," kata Rayi sambil meneguk kopi yang terlihat sangat nikmat.
"Aku mau nikah sama Awan, tapi nggak secepat ini," kataku sambil berusaha mengambil kopi dari tangan Rayi.
"Keburu disambar perempuan lain. Ingin delapan puluh persen," kata Rayi sambil merebut kembali kopinya yang tinggal satu tegukan.
Aku lalu menceritakan mengenai Chloe yang terkesan menghinaku hanya karena aku tinggal di rumah KPR, tidak punya mobil dan orang tuaku tinggal di desa. Rayi tertawa mendengarnya karena dia tahu apa yang sebenarnya ada padaku.
"Ngomong-omong, kenapa kamu nggak beli mobil?" tanya Rayi.
"Kamu bisa nyopir?" aku balik bertanya padanya.
"Oh iya, lha wong sepeda motor aja pakai sopir pribadi. Lagian kita nggak cocok pulang pergi naik mobil, nggak bisa sat set," kata Rayi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Itu dia alasannya Ra, kalau beli mobil nggak bisa nyopir buat apa?" jawabku sambil berdiri menuju ke dapur untuk menyeduh kopi instan.
Memang sepeda motor yang kami pakai itu milikku, hanya saja saat berkendara aku sering panik di jalan sehingga membahayakan diriku sendiri dan pengguna jalan lainnya. Bukannya tidak mau belajar, hanya saja semua terasa membingungkan saat berada di jalan raya yang ramai apalagi macet. Akhirnya aku sepakat untuk menggunakan sepeda motor itu berdua dengan Rayi. Namun, banyak yang salah paham dan mengganggap bahwa motor itu milik Rayi.
"Lalu orang tuanya Awan gimana?" tanya Rayi menunggu kelanjutan ceritaku.
__ADS_1
"Daddy sama mommynya sangat setuju dengan keputusan Awan dan meminta Awan untuk segera melamarku," kataku sambil berbagi kopi lagi dengan Rayi.
"Siapa? Daddy mommy?" tanya Rayi meyakinkan.
"Ya memang begitu panggilan Awan ke mereka, bapaknya itu keturunan Skotlandia," kataku pada Rayi. Aku malah harus bersusah payah menjelaskan mengenai garis keturunan Awan yang berdarah campuran Skotlandia-Jawa-Manado padanya. Rayi hanga mengangguk tanda mengerti.
Aku kemudian memberitahu Rayi mengenai rencanaku untuk ke desa dan menemui orang tuaku serta memberitahu mereka rencana lamaran ini. Namun Rayi mencegahku, karena menurutnya akan lebih baik jika aku ke sana bersama Awan supaya lebih meyakinkan.
...****************...
Dua Minggu berlalu sudah sejak acara makan malam itu. Kami tiba di desa agak siang dan rumah tampak sepi. Ibu menyambut kami dengan wajah terkejut karena kami memang datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Segera ibu meminta tolong Pakde Marto untuk memanggil bapak yang sedang berada di sawah.
Tidak lama kemudian, Bapak datang bersama Pakde Marto dan segera aku menyalami sambil mencium tangan bapak. Awan juga ikut melakukan hal yang sama. Bapak terlihat senang dengan kehadiranku, tampak kebahagiaan di wajahnya karena bisa melepas rindu denganku. Aku lalu membantu ibu menyiapkan makan siang dan ku tinggalkan Awan untuk mengobrol bersama bapak. Menu yang sangat istimewa sayur lodeh nangka, sambal terasi dan ayam kampung goreng. Kami lalu menikmati makan siang bersama. Awalnya ku kira Awan akan merasa aneh dengan hidangan desa ini, tapi ternyata dia terlihat sangat menikmatinya.
Selesai makan siang bapak, ibu, aku dan Awan berkumpul di teras. Angin sejuk membuat suasana terasa indah. Sambil melihat sekumpulan orang yang menjemur padi hasil panen dan beberapa ekor sapi melewati depan rumah dengan santainya. Sungguh sesuatu yang tidak bisa dilihat di kota.
"Kalian sudah kenal lama?" tanya bapak menyelidiki dan matanya tidak lepas menatap Awan.
"Kami dulu teman TK pak, dan ketemu lagi saat kuliah," kata Awan sambil tersenyum tapi bisa ku tebak, pasti dia grogi abis.
Bapak lalu mengangguk-angguk sambil sesekali menghisap rokoknya. Dan aku hanya diam, tidak tahu harus mulai bicara dari mana. Lebih aman menunduk ataupun mengalihkan pandangan melihat sekeliling .
__ADS_1
"Saya berniat untuk melamar Kasih, pak." Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Awan, jantungku berdetak sangat kencang aku mulai berkeringat dan sedikit panik.
"Kalian pacaran toh? Sudah berapa lama?" tanya bapak dengan intonasi yang tegas dan terkesan mengintimidasi.
"Baru saja pak, hampir dua bulan ini," kata Awan jujur dan tetap tenang.
"Kamu ndak hamil toh, nduk?" Kata-kata bapak yang membuat aku dan ibu spontan berdiri bersama.
Astaga, kenapa bapak bisa punya pemikiran serendah itu terhadap anaknya sendiri? Apa yang membuat bapak bisa menarik kesimpulan seperti itu. Dan ibu terlihat melotot ke arah bapak sambil mengelus dada mencoba menahan amarah.
"Salah?" kata ayah sambil memandangku dan ibu bergantian, "Ini terlalu mendadak nduk, kalian juga baru pacaran. Kami juga belum pernah menceritakan pada kami tentang dia," lanjut bapak sambil menarik ibu untuk duduk di sampingnya. Aku lalu ikut kembali duduk dan terus menundukkan kepala. Rasanya musyawarah ini akan berjalan alot untuk mencapai kata mufakat. Namun, demi cintaku pada Awan aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa menghadapi bapak.
"Saya dan Kasih tidak mungkin berbuat sejauh itu, pak. Walaupun kami baru pacaran, kami sudah lama saling kenal dan saya sudah lama mencintai Kasih, saya berniat untuk mengikatnya dalam sucinya ikatan pernikahan," kata Awan berusaha meyakinkan bapak dengan niat baiknya.
Bapak kembali menghisap rokoknya dan suasana kembali hening. Mungkin detak jantungku terdengar jelas di sela keheningan ini. Aku mulai tidak merasa pusing dan pikiranku sangat kacau sehingga aku lebih memilih untuk diam.
"Nikah itu ndak cukup dengan cinta. Ini mengikat dua keluarga, jadi harus tahu juga bibit bebet dan bobotnya," astaga, perkataan bapak sama persis dengan yang pernah Rayi katakan padaku. Saat itu aku malah mengabaikannya, dan malah menanggapinya dengan candaan. Hatiku semakin tidak karuan, rasanya ingin ku bawa Rayi ke sini untuk membantuku memberikan solusi.
"Jika bapak berkenan, saya bersedia mengajak keluarga saya supaya jelas semuanya dan sebagai bukti kesungguhan saya," kata Awan pantang menyerah masih berusaha meraih restu bapak.
"Ndak perlu, le. Sebelumnya bapak minta maaf karena sebenarnya kami sudah punya calon suami yang tepat untuk Kasih." Kata-kata bapak yang membuatku seperti mendengar gluduk di teriknya panas. Apa-apaan ini?
__ADS_1