MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 30


__ADS_3

Tidak bisa ku ikuti jalan pikiran Rayi. Ku susul langkah Rayi dan mencoba mencari arti setiap perkataannya tadi. Kalau Rayi sampai bertindak seperti itu, berarti masalah ini sangat serius. Dia paling bisa membaca situasi yang aku hadapi dan seringnya memberi solusi yang tepat.


"Ra, ini ada apa?" tanyaku begitu berada di dekat Rayi.


"Masih nanya? Kamu kebanyakan galau, jadi pikiranmu tertutup, nggak bisa realistis," katanya dengan emosi yang tinggi. Fix ini sangat serius.


"Ra, aku tuh cuma bingung harus apa," kataku dengan nada pelan supaya dia juga tidak terlalu emosi.


"Kamu bingung tapi tidak berusaha menyelesaikan masalah," kata Rayi mulai tenang. Dia lalu duduk dan menghela nafas.


"Aku masih belum bisa memilih," jawabku sambil duduk di samping Rayi.


"Orang nikah itu nggak cukup dengan cinta, Kas. Nikah itu butuh partner yang baik dalam segala situasi dan yang penting kita mau terbuka dan menjadi diri sendiri di depan pasangan kita. Hanya itu, Kas." kata Rayi lalu berdiri dan masuk ke kamarnya.


Aku merasa tertampar dengan ucapan Rayi. Ku renungkan lagi semuanya. Teringat kata-kata Awan bahwa bukan mencintai namanya kalau tidak bisa membuat bahagia. Namun, kebahagiaan siapa yang harus ku perjuangkan?


Ku coba menghubungi Awan tapi entah mengapa tidak bisa. Lalu ku kirim email supaya dia segera menghubungiku. Tidak seperti biasanya, ponsel selalu ku bawa. Hampir setiap menit aku memeriksa apakah ada kabar dari Awan. Namun hasilnya tetap nihil. Iseng aku scroll data kontak di ponselku. Aku berhenti di nama 'lelaki itu', spontan kuhubungi dia namun nomornya tidak aktif. Ku cari nama Arka dan panggilan terhubung.


"Da pa Kas?" suara Arka terdengar di kebisingan.


"Kamu di mana?" tanyaku sambil berusaha mendengar dengan baik


"Baru di karaoke sama teman-teman. Lumayan dekat dari rumahmu. Kalau mau ikut aku jemput, ajak Rayi juga kalau dia mau," kata Arka sambil berteriak.


"Nggak deh, kamu lanjut aja," kataku menolak ajakannya.


"OK. Baik-baik ya Kasih, kamu harus bahagia," kata Arka sebelum aku mengakhiri panggilan. Kata-kata yang selalu dia ucapkan padaku.


[Tadi kenapa Kas?] chat Arka


[Aku tidak bisa menghubungi Awan] balasku cepat

__ADS_1


[Ya] hanya itu balasan dari Arka dan setelah itu ponselku kembali hening.


Rayi keluar dari kamar dengan muka baru bangun tidur. Dia kaget melihatku masih di sini, terdampar di depan TV dengan muka yang kusut. Emosinya sudah mulai mereda karena ada senyum di bibirnya. Lega rasanya! Aku tahu Rayi akan selalu ada bersamaku.


Tidak lama kemudian, ponselku berdering. Itu dari Awan, segera ku angkat namun aku sedikit kecewa karena dia masih sangat sibuk dengan pekerjaannya.


"Kan beda waktu, Kas. Di sini sudah malam, sana masih siang. Wajar kalau Awan kerja," kata Rayi yang menyadarkanku.


"Oh iya ya," jawabku singkat sambil terus menatap ke layar ponselku berharap Awan telepon lagi.


"Tapi mau beda waktu atau tidak, Awan itu gila kerja. Ingat nggak dulu seharian dia ajak kamu pergi sambil urus bisnisnya terus kamu nggak makan? Sejak saat itu aku ilfil sama Awan," kata Rayi lagi seolah menegaskan kalau aku harusnya memilih Arka.


Kepalaku semakin pusing, akhirnya aku memilih pulang ke rumah. Aku butuh sendiri, untuk bertanya pada diriku apa yang aku inginkan dan apa yang terbaik bagiku.


...****************...


Sudah hampir sebulan sejak Awan pergi dan belum kembali. Sejak itu juga setiap hari Arka mengantar dan menjemput aku dan Rayi ke pabrik. Dia juga selalu menemani kami berdua untuk berbelanja aku sekedar hangout.


"Kita tetap menikah, itu selesai masalah dengan orangtua nanti kemudian kita pisah, terus kamu nikah sama Awan. Nanti aku kita jelasin ke Awan aturan mainnya, pasti dia mau," usul Arka yang membuat aku dan Rayi spontan terbatuk.


"Nggak, itu jadinya aku yang jahat, nama baikku jadi taruhan" kataku menolak.


"Kok bisa?" kata Arka sambil terus mengunyah ciloknya.


"Kayak artis aja kawin-cerai. Terus kalau ditanya kenapa pisah? Sebab istrinya kecentilan, balikan sama mantan," jawabku dengan maksud mempertahankan nama baik dan citra istri baik-baik juga.


"Lho? Memang begitu kan kenyataannya?" kata Rayi yang membuat aku semakin merasa kalau aku adalah antagonis dalam kisah ini.


"Ya betul kan Ra? Rayi sih pasti sependapat sama aku," kata Arka yang kemudian berlari ke lapangan dan tiba-tiba bergabung dengan anak-anak yang sedang bermain sepak bola.


"Bocah gendeng Mas Arya iku. Bisa-bisanya punya solusi aneh seperti itu," kata Rayi sambil tidak berhenti tertawa.

__ADS_1


"Kadang iri sama Arka, dia bisa sesantai itu." kataku sambil mataku tidak lepas memandangnya.


Ku akui memang sangat menyenangkan bersama Arka, bawaannya yang santai membuat aku juga ikut santai. Sepertinya kesibukkan ditentukan oleh keinginan dan suasana hatinya. Slogannya adalah hidup jangan dibuat susah, nikmati selagi bisa. Tidak pernah melihat dia terbebani, selalu datang dan pergi dengan senyum dan keceriaan. Kalau menurut Rayi auranya Arka itu sangat-sangat positif dan membawa pengaruh baik bagi sekelilingnya.


Ponsel Rayi berdering, ada kabar dari Rinto kalau sakit bapak semakin parah dan aku diminta segera pulang ke desa. Rayi memberi isyarat pada Arka untuk mendekati kami.


"Bapaknya Kasih sakit lagi," kata Rayi karena aku sudah panik dan rasanya sulit berbicara.


"Ya udah, aku antar kalian ke desa. Kalian pulang siap-siap dulu, aku ambil mobil ya" kata Arka sambil berlalu dengan motornya.


Rayi membantuku untuk bersiap-siap. Rayi izin untuk tidak ikut karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Namun dia berpesan agar aku selalu memegang ponsel berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu Rinto memberi kabar lebih lanjut. Lumayan lama menunggu akhirnya Arka datang juga. Dia berusaha tenang walau tampak kepanikan di wajahnya.


"Ayo kita jalan," kata Arka sambil membuka pintu depan dan belakang.


"Aku nggak ikut, kalian berdua aja ya, Jangan lupa kabarin aku kalau ada apa-apa," kata Rayi sambil menutup kembali pintu belakang.


"Berangkat dulu ya Ra," kataku sambil memeluk Rayi dan air mata membasahi pipiku.


Baru berjalan beberapa meter, ponselku bergetar dan ada pesan dari Rinto.


[Kas, kamu pulang?] tanya Rinto


[Iya, ini baru di jalan] balas ku cepat


[Kira-kira sampai sini jam berapa? Nanti aku jemput di stasiun]


[Aku dianterin Arka]


Lumayan lama aku menunggu namun tidak ada balasan dari Rinto. Perjalanan terasa sangat jauh dan lama karena karena perasaanku diliputi rasa cemas. Aku tidak bisa duduk tenang sampai saat ponselku berdering


"Kas, paklek nggak sadarkan diri. Ini dibawa ke puskemas. Nanti kamu sama Arka langsung ke puskesmas aja ya," kata Rinto dengan nada terburu-buru.

__ADS_1


Ya Tuhan, aku berharap bapak bisa bertahan. Aku berjanji dalam hatiku akan menuruti apapun keinginan bapak.


__ADS_2