MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 115


__ADS_3

"Aahva!" kataku sambil menggelengkan kepala karena seluar ruangan rata dengan susu.


Sudah dua tahun enam bulan usia Aahva dan aku baru saja berhasil menyapihnya. Dia mulai minum susu formula dari botol tapi setiap kali diberi susu dalam botol, Aahva selalu sengaja menuangkannya ke lantai dan berlari sambil tertawa saat aku mengejarnya. Sampai di pintu, Aahva bertemu dengan ayahnya yang baru saja pulang dari kota dan membawakannya oleh-oleh mainan kereta kesukaannya. Aahva tampak senang sambil menyanyikan lagu naik kereta api walaupun cara bicaranya masih cadel.


"Aahva mau naik kereta api?" tanya Arka sembari memanggu Aahva.


"Mau!" jawab Aahva bersemangat.


"Besok kita ke rumah eyang uti ya," ajak Arka.


Kali ini aku yang melompat kegirangan. Sudah lumayan lama aku tidak pulang ke rumah ibu. Meski ibu yang lebih sering mengunjungi ku, tapi rindu suasana rumah dan malam yang dingin membuat aku selalu senang pulang. Mumpung Aahva sudah asyik bermain bersama Arka, aku bergegas packing dan mempersiapkan semua kebutuhan kami. Mbok Welas kemudian ikut membantuku sekaligus membereskan mainan Aahva dan membersihkan tumpahan susu sebelum sekoloni semut menyerang. Aku sangat antusias sampai tanpa sengaja menendang tas Arka sampai seluruh isinya berhamburan keluar.


Aku menemukan sebuah diagnosa dari rumah sakit yang menyatakan bahwa Arka mengalami Renal Agenesis dan diagnosa ini keluar saat Arka berusia 19 tahun. Lama aku merenungi lembaran ini dengan tangan bergetar, namanya saja terdengar asing, pasti ini adalah sakit yang tidak biasa. Sejenak air mataku mengalir dan aku berusaha menghapusnya saat mendengar tawa Arka dan Aahva semakin mendekatiku. Segera aku bereskan semuanya dan mengembalikan ke dalam tas Arka. Kenapa Arka tidak pernah bercerita tentang hal ini padaku? Aku ini istrinya, apa dia takut aku akan mengkhawatirkannya berlebihan?Ku hapus air mataku dan berpura-pura tidak tahu tentang itu.


"Udah selesai beres-beres?" tanya Arka.

__ADS_1


"Iya, memangnya mau berangkat sekarang?" tanyaku heran.


"Malam ini kita menginap di apartemen jadi berangkatnya lebih dekat ke stasiun. Aku sudah pesan tiket untuk besok pagi," kata Arka


Aku hanya mengangguk dan mengikuti Arka untuk membawa bawaan ke mobil. Ternyata Arka datang bersama Aryan, sopir baru Pak Surya. Mungkin agar tidak kecapekan wira-wiri kota-villa-kota jadi Arka memutuskan memakai sopir. Kami langsung berangkat dan sepanjang perjalanan Aahva menempel terus pada Arka sampai akhirnya mereka berdua ketiduran. Aku lalu mengeluarkan ponsel dan mulai Googling mengenai Renal Agenesis dan itu adalah kelainan ginjal bawaan yang sudah ada sejak lahir. Seketika aku merasa sangat susah bernapas dan memandangi wajah tenang Arka yang lelap sambil memeluk Aahva yang terlihat nyaman. Tak bisa ku bayangkan mata yang terpejam itu tidak bisa terbuka lagi selamanya. Kelainan ginjal apa yang Arka alami? Air mata mengalir dan mata Arka terbuka dan menatapku heran.


"Yank? Ada apa?" tanya Arka sambil mengusap air mataku.


"Nanti aja kita bicarakan di apartemen ya mas. Sebentar lagi kita sampai," pintaku dan dijawab oleh anggukan Arka.


"Mas yakin mas nggak apa-apa?" tanyaku penuh khawatir.


"Nggak ada masalah, nyatanya aku masih hidup sampai sekarang," kata Arka sangat santai seolah tidak terjadi hal yang mengkhawatirkan.


"Terus kenapa mas nggak pernah cerita padaku?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Ku kira ini bukan sesuatu yang akan mengganggu hubungan kita," jawab Arka lagi


"Mas yakin?" tanyaku masih was-was


"Iya, yang penting membatasi asupan garam, mengurangi makanan tinggi protein, makanya aku lebih suka masak sendiri," jawab Arka.


"Terus apa lagi?" tanyaku masih menyelidiki


"Jaga hidrasi tubuh, makanya aku sering minum air mineral. Nggak olahraga berat juga," jawab Arka sambil mengusap-usap kepalaku.


"Terus jaga pola hidup sewajarnya orang lain, makan bergizi dan cukup tidur. Jadi sekarang ayo kita tidur," lanjut Arka sambil menarikku ke kamar tidur.


"Siapa aja yang tahu tentang ini?" tanyaku lagi saat kami berdua sudah rebahan di samping Aahva.


"Awan yang nganterin aku pas diagnosa dan Mbok Welas. Makanya Mbok Welas nggak pernah mau meninggalkanku. Karena menurutnya aku perlu dipantau," jawab Arka sambil terkekeh.

__ADS_1


Saat semua terlelap aku mulai mencari informasi mengenai manusia yang hidup dengan satu ginjal dan ternyata itu benar adanya dan hal langka dan semua yang diucapkan Arka itu benar adanya. Aku bahkan berkonsultasi dengan dokter secara online dan menurutnya itu tidak masalah. Aku menarik napas lega. Pantas saja Arka selalu demam saat kelelahan dan dia selalu menolak mengkonsumsi obat-obatan secara sembarangan. Dia selalu berusaha hidup sehat, berarti Arka masih punya semangat untuk menjaga kesehatan. Awan tau Arka sampai hal rahasia seperti itu, aku semakin merasa bersalah karena menjadi penyebab keretakan persahabatan mereka. Sepertinya aku memiliki tanggungjawab besar untuk mempersatukan mereka lagi. Tapi aku harus apa dan bagaimana? Pasti Awan saat ini sangat membenci kami berdua.


__ADS_2