
"Kamu takut ya kalau aku sedekat itu denganmu?" tanya Arka saat aku menyusulnya ke depan.
"Nggak, aku hanya, entahlah," aku kebingungan memilih kata yang tepat. Sulit sekali untuk menjelaskan apa yang terjadi padaku.
"Gimana, kamu jadi ikut aku nggak? Biarpun nggak ada kegiatan berarti tapi aku ingin seharian ini bersamamu, gladi bersih sebelum nikah" kata Arka lagi dengan senyum nakalnya.
"Mana ada gladi bersih sebelum nikah," protesku
"Ya dia-dia-diain-dian, diadain aja maksudku," kata Arka blibet banget.
Akhirnya aku putuskan untuk ikut saja. Aku sendiri bingung mau ke mana karena akhir-akhir ini Rayi sering menghilang dan pergi sendirian. Daripada aku merasa kesepian dan bingung karena tidak ada yang bisa aku lakukan.
"Kita cuci mobil dulu ya," ajak Arka.
"Boleh," kataku.
Arka lalu memacu mobilnya ke tempat cucian mobil. Saat sampai di tempat tujuan, aku melepaskan sabuk pengaman dan bersiap-siap untuk turun.
"Mau ke mana?" tanya Arka sambil melihatku.
"Keluar dong, mobilnya mau dicuci kan?" kataku polos.
"Nggak usah turun, ini tempat cuci mobil otomatis," kata Arka menahanku.
Ini pertama kalinya aku ke tempat cuci mobil otomatis. Awalnya mobil disiram dengan air untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel. Kemudian busa putih menyelimuti mobil sehingga tidak terlihat apapun di luar. Arka mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan
ccuuuppp...
Arka memberikan ciuman pertama padaku. Arka mencium bibirku dengan cepat tanpa ******* di bibir. Wajahku mendadak menjadi merah merona karena ciuman colongan itu. Tiba-tiba saja dia menciumku tanpa aba aba. Sampai aku membeku di tempat duduk. Lalu Arka kembali ke posisi duduk nya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kamu ngapain barusan?" tanyaku di saat aku sudah bisa menentukan sikap harus apa dan Arka cuma tersenyum.
Selama perjalanan, aku terus memandang ke luar jendela. Aku tidak berani untuk menatap Arka. Aku masih merasa canggung dengan apa yang dilakukan oleh Arka. Entah apa yang dipikirkannya sampai berbuat seperti itu.
"Kita sampai, ayo turun," kata Arka yang tiba-tiba sudah membukakan pintu untukku.
__ADS_1
Aku jadi ragu, tadi saja Arka berani curi-curi mencium bibirku, apa yang akan dia lakukan di rumah pasti akan lebih dari itu. Aduh, kenapa sekarang aku malah merasa tidak nyaman pada Arka. Arka menutup pintu, dan kemudian dia kembali duduk di belakang kemudi.
"Kamu marah ya?" tanya Arka.
"Nggak," jawabku singkat.
"Kaget?" tanyanya lagi namun aku hanya diam dan memalingkan wajah darinya.
"Belum siap?" lanjut Arka lagi dan aku tetap membisu.
"Maaf kalau aku lancang, kalau kamu nggak nyaman di dekatku, aku anterin kamu pulang ya," kata Arka penuh penyesalan.
Aku kemudian menolehkan padanya. Tidak ada senyum di wajahnya, hanya ada tatapan kosong yang kemudian menyalakan kembali mobilnya dan bersiap-siap keluar dari carport.
"Ka, aku nggak apa-apa. Kita turun aja," kataku sambil melepas sabuk pengaman dan bersiap-siap turun. Arka hanya mengangguk dan keluar dari mobil. Tanpa menunggu aku juga turun dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kamu istirahat saja di kamarmu, jika butuh apa-apa aku di kamarku," kata Arka.
"Ka, kita harus bicara," kataku dan itu menghentikan langkah Arka.
"Aku minta maaf ya Kas, sudah bikin kamu nggak nyaman," kata Arka sekali lagi dengan menatap ke dalam mataku.
"Iya," hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirku.
"Perlu aku akui kalau tiba-tiba saja aku menyukaimu dan menyayangimu. Harusnya aku menahan diri untuk tidak menciummu karena aku sadar aku nggak pernah di hatimu," sebuah pengakuan dari Arka yang membuat hatiku kacau.
"Kita akan menikah, aku harus bisa membuat diriku nyaman di dekatmu," kataku sambil memainkan jemariku.
"Iya, aku beruntung bisa menikah denganmu walau aku tidak bisa mendapatkan cintamu. Pernikahan yang akan ku jalani dari sebuah keterpaksaan," kata Arka yang membuat hatiku iba.
Setelah menghela nafasnya, senyum terukir lagi di bibir Arka. Ada ketulusan di wajahnya yang membawanya kembali menjadi Arka yang ceria. Dia menepuk puncak kepalaku dan berdiri membawa botol air mineral dan meninggalkan ku sendirian di meja makan.
"Dengan terbuka semua jadi lega," terdengar Arka berbicara dari kamarnya.
...****************...
__ADS_1
Aku mulai bosan hanya diam di kamar menonton TV. Sudah hampir dua jam Arka tidak juga keluar dari kamarnya. Aku juga tidak berani untuk mengetuk pintu dan memintanya untuk keluar. Aku kemudian ke dapur, membuka kulkas dan ternyata ada sayur kangkung di sana dan potongan sayap ayam. Ku bawa ke dapur dan membuka rak berisi bumbu, ada bawang merah, bawang putih, cabe rawit, ebi dan saos tiram serta bumbu yang lengkap untuk ayam goreng. Saatnya eksekusi dan mengeluarkan kepiawaianku, master of oseng kangkung.
Di mulai dengan memasak nasi untuk porsi dua orang, cuci beras, masukin ke Magicom, tinggal colok doang. Lanjut dengan memasak kangkung dan menggoreng ayam. Aku juga tidak lupa membuat sedikit sambal terasi yang akan memanaskan mulutku dengan sensasi pedasnya.
Selesai memasak, aku membereskan dapur, mencuci semua peralatan yang aku pakai untuk memasak kemudian menyajikan makanan di atas meja makan. Selesai sudah.
"Ngapain, Kas?" tanya Arka dengan muka baru bangun tidur.
"Aku selesai masak," kataku dengan bangga.
"Tadi rencana aku mau tidur sebentar, 15-30 menit, baru masak, malah kamu mendahului," kata Arka sambil.
"Aku bosan nggak ada kegiatan," kataku.
"Iya, aku ngajak kamu ke sini, malah ku tinggal tidur sampai kamu bosan," kata Arka dan hanya ku balas dengan senyum.
"Makan yuk," ajakku lalu mengambil piring.
Arka makan dengan lahap, dia bercerita kalau mamanya pernah memasakkan kangkung yang ditambahkan ebi tapi memakai kecap manis, bukan soas tiram. Sudah begitu, masih berlauk udang goreng tepung. Malamnya, Arka gatal-gatal, badannya bentol dan kemerahan. Ternyata Arka alergi jika kebanyakan udang atau seafood.
"Adik sedih dong," kataku menggodanya dan membuat Arka tertawa.
"Sumpah, aku tuh malu kalau mama manggil aku adik, anaknya udah mau nikah juga masih dipanggil adik," kata Arka sambil menjilat jari-jarinya.
"Nambah dong, daripada jilat jari kayak kucing gitu," kataku.
"Udah kenyang," katanya kemudian menuju ke wastafel untuk mencuci tangan.
Aku kemudian membereskan meja, menutup makanan yang masih dengan tudung saji cantik yang terbuat dari anyaman rotan. Kemudian ke wastafel untuk mencuci peralatan masak.
"Bener-bener istri idaman, mau dipeluk nggak?" Arka yang berdiri di sampingku mulai lagi dengan mulut usilnya.
"Orang cuci piring kok dipeluk to dik, bikin ribet aja. Dibantuin dong," terdengar suara yang sangat keibuan.
'Mama!" kata Arka girang.
__ADS_1
Astaga, ternyata Bu Gendis yang datang. Aku jadi bingung bagaimana harus bersikap.