
Rayi langsung berjalan mendekati Chloe. Dalam hatiku tertawa keras sekali membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya. Aku memilih diam, biar saja ku serahkan semua urusan kepada Rayi. Andai bisa ingin ku bawa kuaci atau popcorn sambil menggelar tikar menonton pertunjukan yang pasti akan spektakuler.
"Maaf? Anda siapa berani ikut campur tanpa memberi solusi?" Kata Rayi sambil mengarahkan telunjuknya tepat di depan hidung Chloe. Chloe mundur satu langkah. Nah, baru ditunjuk sudah mundurkan? Kita tunggu saja apa hinaan selanjutnya dari Chloe. Biar pecah peperangan dahsyat.
"Kamu yang siapa, orang desa nggak penting," jawab Chloe dan batinku tersenyum, sekarang dia malah mengatai Rayi.
"Masalah kalau aku wong ndeso. Ini yang namanya kearifan lokal, ngerti nggak?" kata Rayi sambil melotot dan melangkah mendekati Chloe lagi.
Dalam hati aku bertepuk tangan dan bersorak gembira. Gila memang kalau ada yang berani cari masalah dengan Rayi.
Chloe seperti tidak berani menjawab karena Rayi seperti preman yang terus mendesaknya. Sekali lagi Chloe berani menyinggung perasaannya, pasti Rayi akan main tangan. Ya, akan ku biarkan dulu, nanti kalau mengkhawatirkan baru aku akan turun tangan.
"Aku nggak ada urusan sama kamu, tapi sama perempuan freak itu," kata Chloe sambil menunjuk ke arahku.
"Tapi kata-katamu juga menyinggung perasaanku. Kamu mau pilih pergi atau mau ribut sekalian?" tanya Rayi sangat pro sebagai tukang labrak terpercaya.
"Memang orang freak temennya juga pasti freak," Chloe masih berani menjawab dan...plakk.. sangat keras, diiringi teriakan Chloe dan menarik perhatian semua orang yang ada di area parkir.
Tepuk tangan dulu karena pertunjukkan harus segera selesai. Dengan berat hati ku tarik Rayi supaya menjauh dari Chloe. Aku tidak ingin terjadi kerumunan massa dan semakin menarik perhatian banyak orang.
"Asal tahu ya, biar kami dianggap orang susah, tapi kami tidak pernah menyusahkan siapapun juga. Semua yang kami miliki ini hasil usaha kami sendiri, beda sama kamu," kata Rayi memulai ceramahnya.
"Bedalah, aku kan berkelas," Chloe tidak ada kapoknya mencela kami.
"Kalau orang tuamu nggak ada kelasmu di bawah kere," kata Rayi sambil berusaha maju namun aku berusaha menahannya.
__ADS_1
"Ada apa ini?" suara seorang lelaki yang sangat familiar di telingaku.
"Lihat mereka bertindak kasar padaku," Chloe mencoba mengadu.
"Kami hanya mau pulang, sayang, tapi terlalu banyak belanjaan, nggak mungkin pakai sepeda motor," kataku sambil memeluk tangan Awan, sengaja supaya hati Chloe semakin panas.
"Ya udah, kalian aku antar, sepeda motornya biar dibawa sopir aja," kata Awan mengabaikan Chloe dan mengambil kunci sepeda motor dari tangan Rayi.
Setelah menunjukkan letak sepeda motor kepada sopir yang bernama Firman dan mengirim lokasi rumah dari WA, aku dan Rayi berjalan menuju ke mobil Awan dan melewati Chloe begitu saja. Rayi masih meliriknya penuh dendam, aku yakin pasti Rayi akan mencari saat yang tepat untuk melanjutkan pertengkaran ini. Kalau hal ini terjadi lagi, aku memilih untuk menonton dan membiarkan mereka.
"Bukannya kamu ke luar kota?" tanyaku saat sudah duduk di samping Awan yang mulai fokus mengemudi.
"Udah selesai pekerjaan, ya pulanglah. Udah kangen juga," katanya sambil menepuk puncak kepalaku.
Rayi berdehem sangat keras menunjukkan eksistensinya di kursi belakang. Dia lalu menceritakan setiap hinaan yang dikatakan Chloe pada kami dan kepuasan hatinya berhasil menampar pipi Chloe yang glowing. Rayi juga tidak segan menanyakan hubungan antara Awan dengan Chloe.
Kami sudah sampai di rumah. Ternyata Firman sudah menunggu kami lumayan lama. Memang kalau naik sepeda motor bisa lebih gesit menembus macet di jam-jam sibuk begini.
Awan dan Firman lalu pergi karena ada urusan yang harus segera diselesaikan. Mood Rayi sudah hilang untuk membuat brownies. Lalu untuk apa semua bahan-bahan yang sudah kami belanjakan dengan penuh perjuangan ini?
"Jadinya kamu mau bikin roti atau bikin masalah?" tanyaku sebal sambil menata semua bahan-bahan itu di atas meja.
"Ya anggap saja istirahat dulu, nanti kurang lebih satu jam lagi kita mulai," kata Rayi sambil membantuku mengeluarkan belanjaan dari dalam plastik.
Rayi masih terus menggerutu karena peristiwa tadi. Walau hanya sebentar, namun sakit hati Rayi sepertinya akan bersarang lama. Aku mencoba mengalihkan pembicaaraan namun tetap saja kembali ke pembahasan tentang Chloe dan akhirnya aku menyerah.
__ADS_1
Aku memilih menyiapkan semua peralatan untuk membuat roti mulai dari mixer, mangkok, timbangan digital dan kebutuhan lainnya. Ku biarkan saja Rayi mengomel yang akhirnya dia diam sendiri dan ikut menyiapkan semua peralatan.
Setelah melewati bermacam perdebatan dan menjalankan setiap tahap memasak sesuai petunjuk di YouTube, Akhirnya jadi juga brownies kukus dengan berbagai bentuk yang lucu. Rasanya juga ternyata enak dan tidak mengecewakan. Rayi lalu mengambil beberapa beberapa potong yang berbentuk hati dan bunga dan menyimpannya ke dalam wadah sambil tersenyum aneh.
"Mau dibawa ke mana tuh?" tanya ku curiga, seperti ada yang tidak beres.
"Buat Mas Arya dong," katanya sambil tersenyum genit.
"Kapan mau ngasihnya?" tanyaku dengan kening berkerut.
"Nanti malam kami mau pergi, nggak bahas urusan kerjaan, anggap aja dating, dinner," katanya sambil pandangannya menerawang jauh sekali.
"Dinner kok malah bawa brownies? Ngirit amat," kataku sambil mengunyah brownies yang menurut layak dijual online.
"Aku pinginnya kayak komik Jepang, cewek-cewek buatin makanan untuk pujaan hati mereka," kata Rayi sambil menutup wadah berisi brownies dan dimasukkan ke dalam paperbag.
...****************...
Malam ini Rayi berdandan sangat cantik , tidak seperti biasa. Demi mempertahankan rambutnya supaya tetap on point dia menolak pergi dengan sepada motor. Sebuah kejutan luar biasa dia dapatkan karena Mas Arya mengirim sopirnya untuk menjemput Rayi. Senyumnya mengembang berasa princess malam ini.
"Sekali-kali kamu yang di rumah nonton sinetron aku yang menikmati berdua-duaan," katanya sombong sekali.
"Sendiko dawuh ndoro ayu," kataku berusaha meledeknya dengan bahasa Jawa sambil mengantarnya sampai di depan pintu.
"Dasar kamu orang Jawa abal-abal. Nggak ada pantes-pantesnya," kata Rayi sambil menoyor kepalaku.
__ADS_1
Aku tertawa, iya aku akui walaupun kedua orangtuaku asli Jawa, aku lahir dan dibesarkan di kota ini sehingga tidak terlalu njawani.