
Hampir tiga bulan kami wira-wiri ke dokter Erlina,S.POG untuk mengurus program kehamilan kami. Dokter Erlina sangat baik dan telaten melayani kami. Dari mengajariku menghitung masa subur, mengatur pola makan, kapan waktu yang tepat untuk berhubungan dan memberi beberapa vitamin serta menyarankan ku mengkonsumsi susu khusus untuk persiapan kehamilan. Walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak suka susu, namun aku tetap memaksakan diri demi menjadi seorang ibu.
"Ada kenalanku sudah hampir sepuluh tahun menikah belum punya anak. Mereka ikut program bayi tabung dan sekarang istrinya hamil sudah enam bulan lho yank," kata Arka saat kami pulang dari klinik dokter Erlina.
"Terus?" tanyaku sambil bersandar di bahu Arka
"Kita ikutan program bayi tabung aja," usul Arka.
"Mas hasil lab menunjukkan kalau kita nggak ada masalah, sama-sama sehat dan subur. Nggak usah buru-buru pakai bayi tabung, kita alami dulu aja," kataku saat Arka mengutarakan pendapatnya.
"Ih, yank, kamu pingin gituan terus ya? Nagih ya?" Arka malah menggodaku dan membuatku sedikit kesal.
"Mas, serius dong, kita ini baru bahas masa depan, dan ini penting, jangan dibercandain gini" aku mulai protes pada Arka.
"Ya udah gini aja, kita bahas lagi setelah pulang dari desa ya. Sana buatin baju kondangan terbaik, jangan sampai aku kalah ganteng sama si Rinto," jawaban Arka yang menggantungkan keputusan membuatku ingin mencakar-cakar tanah.
"Rinto kan pengantinnya, mas jangan sampai nyaingin dia dong," protesku keras.
Minggu depan Rayi akan menikah. Tapi aku ikut rombongan pengantin pria karena Rinto itu sepupuku. Aku juga disibukkan oleh seragam untuk keluarga dan itu sepuluh pasang. Untuk saja usahaku sudah jalan sehingga tidak menjadi masalah bagiku. Semua sudah selesai tinggal angkut aja tapi malah pakaian untukku dan Arka belum tersentuh sama sekali. Aku lalu menuju ke ruang jahit dan mulai mengeksekusi baju untuk kamu berdua. Rasanya ini PR berat saat harus membuat baju untuk diri sendiri, mau bikin model terbaik tapi takut terlihat lebih mentereng dari Rayi, bisa-bisa aku dilempari sandal selop sama dia. Mau bikin yang biasa saja tapi ini kan saatnya menunjukkan bakatku ke semua orang. Aku mulai menggaruk-garuk kepala dan mengacak-acak poniku. Aku putuskan untuk membuat kemeja untuk Arka terlebih dahulu. Memang kalau lelaki modelnya ya itu-itu aja, tidak seribet dan serempong kaum hawa.
"Kak Kasih!!" nyaring suara Lovely yang tiba-tiba datang berkunjung setelah beberapa purnama berkeliling pamer kemampuan akting.
__ADS_1
"Iih, si putri tidur datang," sambutku dengan hati yang gembira.
"Kok putri tidur sih kak?" kata Lovely dan mulai duduk di sampingku.
"Dari semua Disney's princesses. Aku paling ingin jadi putri tidur," kataku.
"Kok bisa? Karena menurut kakak dia paling cantik?" tanya Lovely dengan muka penasaran.
"Paling enak hidupnya, cuma tertusuk jarum, terus tidur, terus dicium pangeran, and they live happily ever after. Nggak harus disiksa emak tiri, nggak harus dibuang ke hutan terus di racun, nggak harus dikurung, nggak harus perang, ya nggak terlalu menderita," jawabku yang mengundang tawa Lovely.
Aku dan Lovely memang menjadi akrab apalagi aku sama-sama menyukai dunia fashion. Aku juga sudah beberapa kali membantu Lovely membuatkan baju untuk pementasannya. Namun, kemungkinan bulan depan Lovely akan kembali ke luar negeri, ya walau bagaimanapun di sanalah rumahnya. Lovely juga menunjukkan padaku hadiah dari penggemarnya, sketsa wajahnya yang digambar langsung saat dia pentas. Lovely terlihat sangat senang dengan lukisan itu.
"Mas Arka juga melukis wajahmu, ada di kamarnya di rumah desa," kataku sambil melihat lukisan yang sudah dibingkai itu.
"Wajahmu masih imut banget, mungkin usiamu sekitar sebelas atau dua belas tahunan gitu," jawabku.
Aku lalu teringat tulisan di belakang lukisan itu sambil mendengarkan cerita Lovely. Ternyata mereka bertemu saat Lovely berusia sepuluh tahun, masih anak-anak tapi kenapa dalam kurun waktu itu Arka sudah merasakan rasa sayang yang besar untuk Lovely? Saat itu Arka sudah berusia tujuh belas tahun, apa mungkin Lovely adalah cinta pertama Arka? Ah, kenapa aku meribetkan diri dengan hal yang pasti seperti ini sedangkan Lovely begitu baik dan terlihat respect padaku.
"Kamu pernah jatuh cinta nggak Love?" tanyaku tiba-tiba.
"Sama siapa kak?" tanya Lovely sambil tertawa renyah.
__ADS_1
"Ya sama siapa gitu," aku mulai memancing pembicaraan.
"Cowok di luar keluarga yang dekat sama aku itu cuma Kak Adit sama Kak Arka," jawab Lovely sambil tersenyum.
"Salah satu dari mereka berarti," rasa penasaran mulai membakar ku.
"Kalau kak Adit umurnya terlalu jauh, dan aku nggak berani mencintai kak Arka, takut ngecewain diri sendiri. Pertama respect, tapi gini kak yang musti kakak tau, aku takut kalo misalkan aku pacaran kemudian putus sehingga persahabatan jadi renggang. Mungkin ini, aku baru terbuka hari ini," tukas Lovely.
Aku terdiam, ternyata anak seumuran Lovely bisa menahan perasaannya sendiri hanya supaya bisa menjaga hubungan baik dengan Arka. Andai dulu aku tidak jadian sama Awan mungkin hubungan kami baik-baik saja. Apalagi yang aku nikahi ini adalah sahabatnya sendiri pasti dia juga akan ikut senang dan tidak larut dalam kesedihan. Aku pasti bisa menyarankan pada Awan untuk tidak menikahi Chloe namun sama Sophie saja. Tapi semua ini sudah terjadi. Aku menarik napas panjang dan perlahan menghembuskanya.
"Tapi kamu tahu kalau Mas Arka sangat menyayangimu?" tanyaku lagi.
"Di hidup Kak Arka itu hanya ada tiga wanita, Ibunya, Mbok Welas dan sekarang Kak Kasih," jawab Lovely sangat santai.
Menurut Lovely Arka hanya jatuh cinta padaku, mungkin Arka menyayanginya tapi tidak ada cinta setulus cinta Arka untukku. Lovely juga mengakui kalau sebenarnya ada cinta untuk Arka di hatinya namun dia tidak ingin merusak kebahagiaan Arka dengan memaksakan keinginannya. Masih bisa akrab dan dekat dengan Arka saja sudah cukup baginya. Air bening itu menetes dari sudut mata Lovely dengan senyum yang menunjukkan keikhlasan.
"Jangan pernah sakiti Kak Arka ya kak, aku tahu mungkin Kak Awan lebih dulu memiliki kakak, tapi pastikan kalau Kak Kasih adalah yang pertama dan terakhir untuk Kak Arka," pinta Lovely sambil memelukku.
"Kamu kenal Awan?" tanyaku heran
"Iya, Kak Arka pasti ngenalin aku ke orang-orang yang dekat dengannya. Kak Awan orangnya seru, walau terlihat kaku tapi tetap suka bercanda," kata Lovely sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
Berapa lama Lovely mengenal Awan? kenapa dia tahu persis sifat Awan? Aku makin penasaran dengan keberadaan Lovely di sisi Arka.