MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 111


__ADS_3

Mataku berkeliling menyapu ruang tamu yang sedikit berantakan. Mungkin karena hanya ditempati oleh dua orang laki-laki yang masing-masing sibuk dengan dunia mereka sendiri. Di depanku duduk seorang pria paruh baya yang wajahnya lumayan mirip dengan Aditya. Rayi yang mengantarku sesekali memainkan matanya untuk memberi isyarat agar aku segera membuka pembicaraan. Tapi entah kenapa rasanya lidahku kelu sampai saat Tandri datang dan duduk di samping orang tua itu.


"Jadi kamu ini siapa, nak?" tanya bapak itu dengan nada bicara yang menyejukkan hati.


"Saya adik iparnya Aditya," jawabku masih bingung harus mulai dari mana.


"Tandri sudah bicara semalam, kalian berhak tahu yang sebenarnya. Bukan apa-apa hanya untuk menebus dosa yang sudah saya tutupi sekian tahun," kata bapak itu dan air mata mengalir di sudut matanya diiringi helaan napas yang panjang.


Bapak ini bernama Irawan, istrinya yang bernama Zulaikha adalah salah seorang karyawan Pak Surya, hanya saja mungkin Pak Surya tidak mengenalinya dengan baik karena ada begitu banyak karyawan yang bekerja padanya. Masa mudanya sangat kelam, walaupun dia sudah berumah tangga tapi kehidupannya masih seperti seorang bujangan yang setiap malam masih suka nongkrong dan mabuk serta tidak punya rasa tanggungjawab pada keluarganya. Cerita dimulai saat istrinya, Bu Zulaikha hamil tua dan mereka tidak punya biaya atau persiapan apapun untuk persalinan anak pertama mereka. Kebetulan adik Bu Zulaikha adalah seorang perawat di rumah sakit bersalin yang terkenal di kota ini yang bertugas di ruang NICU bersedia membiayai semua biaya saat persalinan sampai bayi lahir. Pada saat lahir bayi Bu Zulaikha harus dirawat di inkubator karena kesulitan bernapas. Di hari yang sama Bu Alleya juga melahirkan dan bayinya juga mengalami gangguan pernapasan juga bahkan sampai meninggal. Bu Zulaikha lalu membujuk adiknya supaya mau menukarkan bayi yang sudah meninggal itu dengan bayinya karena dia tidak yakin kalau Pak Irawan mampu merawat dan membiayai kebutuhan anaknya. Jika anaknya menjadi anak sulung dari Pak Surya, pasti masa depannya akan terjamin. Rencana kakak beradik itu berhasil dilaksanakan dengan mulus tanpa siapapun yang tahu. Saat mengetahui bahwa Bu Alleya juga meninggal setelah melahirkan, Bu Zulaikha lantas menawarkan diri untuk menjadi ibu susu bagi bayinya itu dilakukannya selama delapan bulan karena setelah itu, Pak Surya memboyong keluarganya untuk tinggal di luar negeri.


Pak Irawan yang menganggap anaknya meninggal kemudian perlahan berubah karena merasa bersalah pada Bu Zulaikha. Dia menjadi lebih bertanggungjawab pada keluarganya dan berusaha mati-matian untuk menebus kesalahannya sampai saat Tandri lahir dan dia membuktikan kalau dia bisa menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk keluarganya. Semua rahasia terbongkar saat Bu Zulaikha divonis kanker serviks dan merasa waktunya tidak akan lama lagi dan dia membuat pengakuan itu bersama adiknya. Mereka kemudian mencari info tentang keberadaan Aditya serta menjual rumah mereka untuk menyusul dan membuktikan kalau Aditya adalah mereka dan peristiwa donor darah dan tes DNA itu terjadi. Dua bulan setelah pembuktian itu, Bu Zulaikha meninggal.


"Suatu ketika saya melihat Kak Adit berada di kantornya dan secara diam-diam saya terus mengikutinya sampai saat kecelakaan itu dan saya memberanikan diri mendonorkan darah," kata Tandri sambil mengusap punggung bapaknya yang masih sesenggukan.


"Jadi mereka bayi yang tertukar? Ku kira hanya ada di sinetron," celetuk Rayi yang membuatku melotot padanya.


"Lebih tepatnya ditukar nak," ralat Pak Irawan.

__ADS_1


Pak Irawan lalu membawa kami ke makam bayi yang sebenarnya adalah anak Pak Surya dan Bu Alleya. Tertulis nama Aditya bin Surya di nissnnya dengan tanggal lahir yang sama dengan tanggal kematiannya. Dialah sebenarnya kakak Arka. Perasaanku menjadi campur aduk. Bagaimana aku harus menceritakan semua pada Arka dan keluarganya. Apa reaksi Aditya kalau aku memberitahu hal yang sebenarnya terjadi. Pasti dia marah berat karena nyatanya selama ini dia menutupi rahasia ini dari Pak Surya dan keluarganya. Aku pulang dengan perasaan lega karena terjawab sudah penasaran di hatiku dan sekaligus membawa beban karena perlu membawa berita ini pada keluarga.


...****************...


"Yank, kamu di mana? Tadi mama telepon. katanya Mas Adit sudah sadar, nanti kamu nyusul ke rumah sakit ya," suara Arka di seberang membuat jantungku berdetak kencang


"Ya mas, aku sama Rayi. Sebentar lagi aku sampai," jawabku lalu mengakhiri panggilan.


Aku meminta Rayi untuk mengantarku ke rumah sakit dan Arka sudah menungguku di dekat customer service. Aditya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap karena tinggal pemulihan. Mata Aditya terlihat sayu dan lelah. Bu Gendis yang berada di sampingnya mengelap tubuh Aditya dengan handuk basah. Tapi entah hanya perasaanku saja atau memang begitu adanya, rasanya Aditya terus memandangku. Perlahan aku menunduk dan berusaha menutupi wajahku dengan rambut yang terurai dan berlindung di balik punggung Arka.


"Sudahlah mas, kamu baru saja membaik tapi sudah mencetus pertikaian dengan adikmu," lerai Bu Gendis.


"Kenapa sih mas nggak pernah menghargai niat baikku, aku ini adikmu mas," kata Arka sangat tegas.


"Ngaipain kamu di sini? Mau merebut kembali perusahaan?" kata Aditya dengan suara yang lemah.


Aku menarik tangan Arka dan mengisyaratkan agar dia lebih baik diam dan tidak mendebat Aditya. Mungkin Aditya merahasiakan semua kebenaran dari keluarga Pak Surya hanya supaya dia bisa menguasai harta kekayaannya. Lama kelamaan bukan merasa kasihan pada Aditya tapi aku malah merasa tidak menyukainya sama sekali. Melihat tingkahnya yang serakah dalam kondisi seperti ini ingin rasanya aku buka mulut dan membeberkan semua di depan keluarga ini. Pada saat yang sama Pak Surya masuk dengan wajah tegang dan sepertinya bertumpuk masalah ada di kepalanya. Dia kemudian mendekati Aditya yang malah memalingkan wajah darinya. Imajinasi brutal mengisi benakku. Ingin rasanya ku maki-maki bahkan ku cabik-cabik manusia tidak tahu diri itu.

__ADS_1


"Sudah ketemu, dik?" tanya Pak Surya pada Arka.


"Belum, Arka tidak bisa mengingat wajahnya dengan baik." jawab Arka menggeleng pasrah.


"Sudah tanya di bagian donor darah?" tanya Pak Surya lagi memastikan.


"Oh iya, kenapa nggak kepikiran ke situ ya?" kata Arka sambil menepuk jidatnya.


"Kita harus menemukannya dan menunjukkan rasa terima kasih karena dia sudah menyelamatkan nyawa Aditya," kata Pak Surya yang membuat aku paham arah pembicaraan mereka.


"Namanya Tandri, pa. Kasih sudah bertemu dan tahu di mana dia tinggal," kata-kata itu melompat keluar begitu saja dari mulutku.


"Siapa?" tanya Aditya memastikan.


"Tandri," jawabku lantang.


Wajah Aditya menunjukkan kepanikan. Apa dia takut kalau rahasianya terbongkar?

__ADS_1


__ADS_2