
Hari ini hari pertama aku mulai kursus menjahit. Mbak Maura sangat suka dengan ruang menjahit ku. Kami memulai dengan cara menggunakan mesin jahit yang ternyata sangat gampang. Dimulai dengan cara memasang jarum pada mesin jahit dilanjutkan dengan memasang sepatu mesin jahit. Kemudian cara memasang benang pada mesin jahit yang harus melewati beberapa tahapan. Setelah itu kami belajar memasang benang pada spul dilanjutkan memasang spul pada sekoci. Mbak Maura juga mengajariku cara memasang bobin case atau sekoci. Ternyata langkahnya lumayan rumit tapi aku bisa mengikutinya dengan baik. Aku juga diajari cara menjalankan mesin jahit. Bagaimana menjalankan dengan cepat, sedang, maupun lambat. Dimulai dengan menjahit kain tanpa benang serta mengatur langkah setikan. Saat Mbak Maura sudah pulang, aku mencobanya sendiri dan dibantu Mbok Welas, aku sudah bisa menjalankan mesin jahit.
Hari berikutnya, pelajaran dimulai dengan cara mengukur badan dan aku menggunakan Arka dan Mbok Welas sebagai model. Tanpa kebanyakan teori dan dasar-dasar yang menurut Mbak Maura tidak penting, kami mulai dengan model yang ku sukai. Untuk awalan aku meminta diajari membuat daster. Lihat saja kalau Arka sampai menolak untuk memakainya. Membayangkan saja aku sudah tertawa tidak berhenti. Hari ini baru dimulai dengan membuat pola kecil di atas kertas dengan menggunakan penggaris kertas skala. Kami membuat pola kecil terlebih dahulu. Aku sering menghapus sampai banyak kertas yang sobek dan bolong karena aku terlalu bersemangat. Setelah dirasa bisa dengan pola kecil, barulah aku memulai dengan ukuran sesungguhnya di atas koran bekas.
Hari ketiga aku mulai menjiplak pola ke atas kain. Dan inilah saat terberatnya, saat harus menggabungkan semua pola dan menjahit mengikuti garis. Apalagi dengan bagian yang melengkung seperti bagian lengan. Aku hampir menyerah, tapi bayangan Mbok Welas dan acara favoritnya membuatku semangat lagi. Aku tidak mau menghabiskan seluruh hidupku di depan TV bersama Mbok Welas.
...****************...
"Gimana jahitannya? Udah bisa bikin papan ARKAS belum ni?" goda Arka saat memasuki ruang jahit.
"Ya masih belum mahir, tapi aku happy kok mas," kataku sambil mencoba memasang lengan dan sudah entah berapa kali gagal.
"Seneng kamu semangat begitu, biarpun nggak ada Mbak Maura mau mencoba sendiri," kata Arka yang sudah duduk di belakangku dan memelukku sambil dagunya ditempelkan di bahuku.
Arka kemudian pamit untuk ke kantor besok dan dia juga harus menjemput Lovely di bandara. Astaga, saking semangatnya dengan pelajaran menjahitku, aku sampai lupa dengan Lovely yang mengancam kesejahteraan dan kedamaian rumah tanggaku. Enak saja dia mau peluk cium Arka yang adalah milikku.
"Lovely biar dijemput sopir aja," saranku sambil menghentikan kegiatan menjahit ku.
"Lho kenapa?" tanya Arka heran.
__ADS_1
"Mas kan suamiku, aku nggak suka kalau mas jemput atau dekat dengan gadis lain yang belum aku kenal," ku keluarkan saja unek-unek ku.
"Sopir kan juga suami orang? Kalau istrinya sopir ngambek seperti istriku gimana?" tanya Arka laginyang memancing emosiku.
"Nggak mungkin marah, kan itu tugasnya sopir. Mas kan boss, masak iya nggak bisa mendelegasikan tugas ke sopir?" sudah cemberut wajahku mengatakan itu dan bibirku sudah mulai seperti ikan sapu-sapu yang menempel di aquarium.
Arka malah tertawa sangat keras dan membuatku semakin sewot. Aku bahkan ngotot ingin ikut Arka ke kantor dan itu membuat Arka semakin melepaskan tawanya. Arka menolak mengajakku karena aku harus menyelesaikan kursusku, masak iya baru tiga kali pertemuan aku sudah izin hanya kerana mengurus sesuatu yang tidak penting. Tidak penting kata Arka? Tapi aku harus menyelamatkan suamiku dari tangan dan bibir gadis yang sudah membuat konflik di rumah tanggaku.
Saat Arka meninggalkanku sendirian di ruang jahit, datanglah Mbok Welas yang pasti ingin mengguruiku tentang teknik jahit menjahit. Aku lalu menanyakan tentang Lovely pada Mbok Welas. Mbok Welas kemudian celingukan seperti memastikan hanya ada kami berdua di sini. Dia bahkan sampai menutup pintu seperti ada rahasia penting yang akan disampaikannya.
"Nduk, kamu tahu kan dik Arka itu impian banyak wanita?" tanya Mbok Welas yang membuatku deg-degan.
"Dik Arka sih jaminan mutu terpercaya kalau masalah kesetiaan, tapi perempuan-perempuan itu lho. Bikin panas, tensi bisa naik," kata Mbok Welas yang tidak sadar kalau ucapannya itu justru bikin panas.
"Kok bisa gitu sih mbok? Ah, Mbok Welas jangan nakut-nakutin gitu dong," kataku seolah tidak mau mendengar kelanjutannya.
"Apalagi perempuan model Lopi, nempel terus sama Dik Arka. Tingkahnya kayak uler keket. " kata Mbok Welas.
"Lopi ya mbok?" kataku mempertegas sambil menahan tawa.
__ADS_1
Pasti Mbok Welas tidak bisa menyebut nama Lovely dengan baik dan benar. Tapi iya juga sih, siapa yang tidak tertarik dengan Arka yang tampan, kaya dan romantis? Aku akan memikirkan bagaimana cara supaya Arka tidak bisa menjemput Lovely di bandara. Aku lalu bersekongkol dengan Mbok Welas dan ide terkonyol pun keluar. Kalau Arka tidak mengizinkanku pergi, Mbok Welas yang akan beraksi. Jadi rencananya, Mbok Welas yang akan ikut dengan Arka. Menurut Mbok Welas, nggak perlu ditutup-tutupi, bicara seja terus terang dengan Arka kalau aku tidak suka Arka dekat-dekat dengan perempuan lain, karena itu Mbok Welas yang akan mengawasi dan mengawal Arka. Jadi Mbok Welas tidak perlu berpura-pura ataupun memutar otak untuk mencari alasan yang tepat.
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan Arka muncul sambil tertawa sangat keras. Aku dan Mbok Welas seketika diam dan mematung. Arka masih tertawa sampai mengeluarkan air mata dan duduk di antara kami sambil menahan senyum.
"Jadi kenapa kalau aku tetap mau jemput Lovely?" tanya Arka yang membuat Mbok Welas dan aku menggerutu bersamaan.
"Dik, kamu itu harus menjaga perasaan istrimu," kata Mbok Welas galak.
"Kamu cemburu ya yank?" tanya Arka sambil mencolek daguku.
"Nggak kok," kataku dan itu sangat munafik
"Lho Mbok, Kasih nggak cemburu, jadi harusnya nggak apa-apa dong," kata Arka menggodaku lagi dan Mbok Welas menyenggol ku dengan sikunya.
"Mas harusnya peka dong kau aku nggak suka, masak semua harus dibilangin? Mau cemburu atau nggak, harusnya mas jaga perasaanku. Apalagi Lovely bilang kalau dia kangen pingin peluk cium mas," kataku tanpa ada yang ku tutupi.
Arka hanya terdiam dan gantian menyenggol Mbok Welas. Mbok Welas seperti paham isyarat dari Arka dan meninggalkan kami berdua. Air mata diantara kepanikan ku tahan supaya tidak keluar dari ujung mataku.
"Kapan Lovely bilang begitu?" tanya Arka dengan lembut.
__ADS_1
Belum sempat aku menjawab, ponsel Arka berdering dan itu panggilan dari Lovely. Pasti dia mau merayu Arka lagi. Tak dapat ku tahan, air mataku akhirnya berguguran juga.