
Aditya mengamuk dan mengobrak-abrik rumah induk. Semua jadi berantakan dan Aditya terus berteriak membuat kegaduhan. Parahnya lagi, Aditya bahkan mengusir istri dan kedua anaknya dan mengatakan kalau dia sudah tidak membutuhkan mereka lagi. Kasihan sekali, bahkan hanya Aditya orang terdekat yang mereka miliki di sini. Dari jauh mereka datang meninggalkan keluarga dan semuanya tapi malah diperlakukan seperti ini. Arka memintaku untuk tetap di rumah bersama Mbok Welas dan kali ini aku menurut walaupun sebenarnya dalam hati aku memberontak ingin ikut untuk memuaskan rasa keingintahuanku tentang apa yang terjadi. Aku khawatir kalau aku nekad ke sana malah akan menambah masalah baru bagi Arka.
Selang berapa waktu, Bu Gendis kembali bersama Fiona, Eurika dan Edna beserta dua koper besar. Mata Fiona sembab dan wajahnya basah dengan air mata. Begitu juga tampak ketakutan di wajah anak-anaknya. Mbok Welas kemudian mengajak anak-anak masuk ke kamarnya supaya mereka bisa tidur senyaman mungkin sedangkan Fiona duduk dengan pandangan kosong dan air mata yang seolah pantang surut. Aku bergegas mengambilkan segelas air dan tisu untuknya. Suasana hening, aku dan Bu Gendis sesekali saling menatap seolah mata Bu Gendis memintaku untuk memulai pembicaraan. Aku berdeham karena tenggorokanku tiba-tiba terasa kering.
"Kak, kalau mau istirahat boleh kok di kamar," bersusah payah kata-kata itu keluar dari mulutku.
"Akak rase dah tak boleh tidur, pening kepala akak, bertekak tengah malam buta ngan abang," jawab Fiona yang membuatku bingung.
"Boleh kok kak, sudah saya izinin. Nggak ada yang melarang kalau kakak mau tidur," kataku sambil bingung sendiri.
"Ehm, nduk Kasih, maksud Fiona tak boleh itu artinya nggak bisa," Bu Gendis mencoba menjelaskan
__ADS_1
Ku tahan rasa malu atas ketidaktahuanku tentang perbedaan bahasa yang kami alami saat ini. Fiona lalu bercerita tentang apa yang terjadi sebenarnya.
...****************...
Fiona melihat perlakuan kurang ajar Aditya kepadaku dan keributan yang terjadi antara Arka dan Aditya. Saat semua sudah kembali tenang, Aditya masuk ke kamar dan mendapati Fiona yang sedang menangis terisak. Fiona kemudian meminta Aditya untuk menceritakan apa yang terjadi namun Aditya malah marah besar. Dia malah menuduh semua terjadi karena Fiona tidak bisa menjaga badan setelah mempunyai dua anak dan bahkan menuduh Fiona pembawa sial dalam hidupnya. Menurut Aditya, kalau saja dulu dia tidak menikahi Fiona, pasti saat ini dialah yang menjadi suamiku. Namun pada dasarnya semua ini disebabkan oleh perasaan iri yang dimiliki Aditya pada Raka. Sinting memang, Aditya merasa kalau semua yang membuat Arka bahagia itu sebenarnya adalah haknya. Dia tidak pernah berharap memiliki adik yang pada akhirnya membuat dia memiliki saingan.
Itulah yang membuat Aditya memboyong anak dan istrinya kembali ke sini. Karena sejak Arka mau membantu Pak Surya mengelola perusahaan, perusahaan menjadi berkembang pesat bahkan sering memenangkan beberapa tender proyek besar yang bisa mendatangkan keuntungan besar untuk perusahaan dan dia khawatir kalau semua itu akan jatuh ke tangan Arka. Nyatanya, keuangan perusahaan saat ini sedang goyang karena Aditya kurang lihai dan terlalu sering mengambil prive untuk memenuhi gaya hidupnya. Saat Fiona berusaha menasihatinya, Aditya malah memaki Fiona dan menuduh Arka sudah bertindak curang dan melakukan tindakan korupsi untuk membiayai Villa dan butik milikku. Kepalaku mendadak penuh mendengar penuturan Fiona. Kenapa di dunia ini ada orang seperti Aditya yang selalu berprasangka buruk terhadap saudaranya sendiri.
"Fiona nak balik ke tempat asal Fiona, tapi Fiona tak ada wang sesen pun. Kesian Eurika dan Edna. Diorang dah rindu ngan atuk dan nenek diorang," kata Fiona yang sulit ku mengerti.
"Nanti mama yang bayar semua," jawab Bu Gendis sambil memeluk dan menenangkan Fiona.
__ADS_1
"Terus Mas Adit gimana?" aku berusaha membuka mulutku.
"Kalau Abang masih nak beristrikan akak, mestilah dia ikut kak balik. Kalau tak, apa nak dikata, nasi dah jadi bubur," kata Fiona dengan air mata mengalir deras.
Tak terasa air mataku ikut jatuh juga menyaksikan semua ini. Terselip syukur dalam batinku karena memiliki Arka yang begitu sabar dan tidak pernah menyakitiku. Lamunanku buyar saat Arka terlihat tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah dengan wajah panik.
"Kak Fiona sama anak-anak pindah dulu untuk sementara ya, Kasih juga akan tinggal bersama kalian sampai aku dan papa menyelesaikan semua dengan Mas Adit, Kalian bersiap-siap sekarang," pinta Arka.
"Tapi Fiona ingin pulang ke negaranya," kata Bu Gendis sambil menahan tangan Arka.
"Arka janji akan mengurus kepulangan Kak Fiona, tapi saat ini yang terpenting kalian pergi dulu dari sini," kata Arka
__ADS_1
Kami bergegas bersiap-siap, Bu Gendis dan Mbok Welas akhirnya memutuskan untuk pergi juga bersama kami. Fiona menggendong Edna sedangkan Arka membopong Eurika untuk masuk ke dalam mobil. Kami semua sudah siap berangkat, dan sampai saat ini aku sendiri belum tahu ke mana Arka akan membawa kami. Situasi juga belum memungkinkan untuk aku bertanya ini dan itu pada Arka. Yang penting sekarang adalah bagaimana mengamankan Fiona dan anak-anaknya. Sampai kantuk tidak bisa ku tahan lagi dan aku terlelap dalam perjalanan.