MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 80


__ADS_3

Arka kemudian menjawab panggilan itu dengan mode loudspeaker sehingga aku bisa mendengarkannya. Belum juga Arka berkata aoa-apa, suara centil nan manjanya dari Lovely mulai terdengar hanya untuk memastikan kalau besok Arka bisa menjemputnya di bandara. Aku deg-degan menunggu jawaban Arka sambil mataku menatap Arka penuh harapan


"Ya," jawaban itu yang keluar dari mulut Arka.


Seketika aku merasa lemas. Kenapa Arka tidak menolaknya saja? Sepenting itukah Lovely padahal aku sudah mengatakan terus terang pada Arka kalau aku tidak ingin dia melakukan itu. Apa mungkin seseorang dari masa lalu lebih berarti daripada masa depannya? Atau ini karma buatku? Apa sebenarnya Arka tidak ingin bersama Lovely tapi Lovely yang terus menerus mengejar Arka? Ku hembuskan napas panjang dan tertunduk lesu. Arka hanya keluar dari ruang jahit tanpa bicara apapun lagi. Ku urungkan niatku untuk menyusulnya. Mengapa saat aku mulai bisa membalas tulus cintanya, hal seperti ini bisa terjadi. Aku diam, memandangi potongan pola dan beberapa hasil jahitan yang masih salah kaprah. Apa aku harus menuntaskan impianku atau aku harus jeda sejenak untuk meraih cintaku? Kenapa semua terasa sulit, ku kira saat aku bisa membuka hati untuk Arka semua akan berjalan dengan baik tapi selalu saja ada yang mengusik. Tapi aku harus tetap tenang, aku belum tahu pasti tentang perasaan Arka ke Lovely, bisa saja apa yang dikatakan Mbok Welas itu benar adanya, hanya mereka yang mengejar Arka namun akhirnya akulah yang jadi pemenang.


...****************...


"Mas nggak bangun? Kan harus ke bandara," aku membangunkan Arka yang tidak seperti biasa masih bermalas-malasan saat matahari mulai naik.


"Mau ngapain?" tanya Arka dengan nada malas dan mata masih tertutup.


"Bukannya mau jemput Lovely?" tanyaku lirih takut salah bicara.


"Nggak, nanti istriku ngambek. Kalau ngambek suka main kabur-kaburan, capek aku ngejarnya," kata Arka sambil menarikku dalam pelukannya.


Aku mulai tersenyum tersipu, lalu kenapa dia menjawab iya saat Lovely menelepon? Lalu siapa yang akhirnya menjemput Lovely? Ah, persetan dengan semua itu, yang penting Arka ada di sini.

__ADS_1


"Makasi ya, mas" kataku sambil mengacak-acak rambut Arka.


"Aku tuh kasihan sama Mbok Welas kalau harus ngikutin aku, nanti nggak bisa ngikutin acara TV favoritnya," canda Arka lagi.


Seharian ini aku sangat bahagia, aku terus menerus menemani Arka bahkan aku menemaninya saat zoom meeting. Aku berusaha semampuku untuk memasak dan menyiapkan semua keperluannya. Sampai hari menjelang sore, Mbok Welas tampak sangat repot dengan belanjaan bahan makanan yang banyak. Kata Arka, Pak Surya dan Bu Gendis mau datang dan makan malam di sini. Sebisanya aku dan Arka membantu Mbok Welas karena waktunya sangat mepet. Kami bertiga bahkan sangat menikmati acara memasak sore ini. Kami sangat kompak dan bahagia. Selesai memasak, Mbok Welas menyuruh aku dan Arka untuk bersiap-siap menyambut Pak Surya dan Bu Gendis.


Tepat saat kami sudah benar-benar siap, terdengar suara mobil berhenti dan halaman rumah. Aku bergegas menuju ke pintu untuk menyambut mertuaku dan saat bersama sesosok mahluk tak jelas dengan kecepatan tinggi berlari masuk ke rumah dan langsung menyerbu ke arah Arka secara membabi buta dan langsung memeluk Arka. Aku terpaku menatapnya, kemudian disadarkan oleh Bu Gendis dan Pak Surya yang sudah berada di dekatku. Arka yang berhasil melepaskan diri dari cengkraman perempuan itu kemudian berlari ke belakangku sama seperti yang dilakukan saat menghindari Keysha.


"Itu Lovely, lihat kan, aku nggak mau tapi dia yang nyerang duluan," bisik Arka sambil melingkarkan lengannya di pinggangku.


"Ka, kenapa kamu bohong? Katanya kamu mau jemput aku di bandara?" rengek Lovely sangat manja.


Sementara aku hanya diam dan memantau. Lovely bahkan tidak menanyai siapa aku atau hanya sekedar berbasa-basi berkenalan denganku selaku tuan rumah. Mungkin di mata Lovely aku hanya seperti boneka yang dipeluk Arka. Tapi kubiarkan saja ketidaksopanannya sambil ku lihat kalau sampai Lovely bertindak berlebihan barulah aku akan turun tangan. Semua tergantung Arka dan sampai saat dia memberi kesempatan sama perempuan genit untuk mendekatinya. Aku lalu mengajak mertuaku ke meja makan, dan tentu saja aku juga tidak sudi mengajak Lovely yang sedari tadi tidak menyapaku namun dia dengan percaya diri mengayunkan langkah kakinya ikut ke meja makan dan langsung duduk di samping Arka. Tempat di mana seharusnya aku duduk. Tapi sekali lagi Lovely harus gigit jari karena Arka justru pindah di samping Mbok Welas dan aku bergegas duduk di sebelah Arka lalu tersenyum sambil memainkan alis di depan Lovely. Dia tampak cemberut dan terlihat sangat tidak suka. Apalagi saat aku menyuapi Arka dan Arka makan dengan sangat lahap.


...****************...


"You istrinya Arka ya?" tanya Lovely saat aku membantu Mbok Welas membereskan meja makan dan hanya ada kami berdua.

__ADS_1


"Oh? Kamu nanya aku?" kataku pura-pura kaget.


"Hei, di sini hanya ada kita," kata Lovely dengan nada yang sedikit kasar.


"Ku kira kamu nggak mau bicara denganku," kataku sedikit angkuh


"Kamu itu hanya istri yang dijodohkan tapi aku pasti bisa mengambil Arka darimu," ancam Lovely.


Angkuh sekali dia, atas dasar apa dia mempunyai kepercayaan diri sebesar itu? Aku memilih untuk mengabaikannya daripada ribut, walau bagaimanapun Lovely itu tamu yang dibawa oleh kedua mertuaku Demi untuk menghargai dan menghormati mertuaku, aku harus bersikap baik dan tidak membuat keributan yang nggak penting. Untuk apa meladeni anak kecil yang tidak tahu apapun tentang cinta. Mungkin dia hanya memburu kesenangan dan kebanggaan karena bisa mendampingi seorang Arka. Lebih baik aku membantu Mbok Welas yang kewalahan dengan acara makan malam dadakan ini.


"Kok Lopi dibawa ke sini Sur? Kamu tahu anak itu maunya nempel terus sama Dik Arka, nggak mikirin perasaan Nduk Kasih kamu ya," terdengar Mbok Welas memarahi Pak Surya seperti memarahi anaknya sendiri.


"Dia tantrum di kantor karena nggak dijemput Arka, Mbok," kata Pak Surya berusaha membela diri.


"Udah perawan gede kok tantrum kamu bingung, biarin aja." Kata MboK Welas lagi.


"Ya malu mbok, dilihat karyawan," Pak Surya mencoba membela diri.

__ADS_1


"Kalau aku pilih malu daripada bawa malapetaka ke dalam rumah tangga anak. Sudah besok kalian bawa si Lopi pergi dari sini," bentak Mbok Welas.


Tapi semakin Pak Surya menjawab semakin keras Mbok Welas membantah. Sebenarnya Mbok Welas ini siapa sih? Kan Pak Surya itu majikannya, kenapa dia seberani itu memarahi Pak Surya?


__ADS_2