MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 52


__ADS_3

Waktu berjalan membawa aku dan Arka pada acara pernikahan. Semua persiapan secara rawe-rawe rantas malang-malang putung dilakukan oleh ibu dan keluarga. Hal yang ku hadapi selama persiapan pernikahan lebih pada sisi mental. Tanpa bapak di sisiku dan itu fakta yang memberatkan hati. Apakah bisa ku hadapi dunia ini? Apakah aku akan berhasil? Sedangkan pernikahan ini adalah keinginan bapak


Besok adalah hari pernikahanku setelah dipingit kurang lebih dua minggu. Malam ini aku tidur pukul dua belas walaupun ibu sudah memintaku untuk tidur lebih awal supaya besok pagi aku bisa tampil fit dan segar. Namun, mataku belum mau terpejam. Hampir pukul dua belas malam aku, aku mulai berbaring di kamar yang telah dihiasi dan tidur ditemani ibu. Tak lama terlelap pukul satu dini hari aku terbangun kembali, Rasanya aku sudah tidur cukup lama padahal baru satu jam. Rasa gelisah menyelimuti hatiku, bukan aku tak yakin, bukan pula aku ragu, namun aku berharap kelancaran untuk esok hari. Lalu aku kembali melanjutkan tidurku hingga fajar menjelang, aku pun mandi lalu bersiap untuk dihias menjadi pengantin. Arka datang beriringan dengan rombongan keluarga besarnya lalu berjalan berbaris menuju rumahku dengan membawa seperangkat mahar dan hantaran yang sudah dihias cantik bersama kotaknya sedangkan aku masih di kamar bersama Rayi dan perias.


Pada acara pernikahan, hatiku terbelah, sungguh terbelah menjadi dua. Hati yang pertama adalah luka duka. Hati yang kedua adalah suka cita. Aku meneteskan air mata. Mungkin air mata yang memiliki rasa manis dan pahit sekaligus. Kenangan silam tentang bapak seperti slide show yang terus silih berganti. Kenangan bapak menimang ku waktu kecil, dia matikan lampu ruang tengah untuk mengusir teman laki-laki SMA yang main ke rumah, sampai kesibukannya mempersiapkan segala sesuatu ketika aku harus kuliah. Namun, dia tidak ada dalam pesta pernikahan anak perempuan satu-satunya. Sesaat muncul perasaan iri pada mereka yang bisa dihadiri oleh dua orang tua dalam pernikahan.


Aku segera memejamkan mata, menghalau semua pikiran buruk berdatangan. Ketidakhadiran bapak dalam pernikahanku karena telah wafat adalah ruang kosong yang tajam. Pernikahan ini adalah keinginan bapak, pernikahan berarti menjadi keluarga yang mandiri. Aku tahu, jika bapak masih hidup pasti akan banyak petatah dan petitih untukku. Aku tertunduk dalam keramaian pernikahanku sendiri. Aku hanya bisa berdoa untuk bapak agar mendapatkan tempat terbaik untuknya di sana.


Tiba-tiba, di antara keramaian pesta pernikahan ada bisik sangat halus mengiang di hati. “Kamu harus melangkah mantap tanpa keraguan. Kamu harus menggunakan ilmu dan jiwa yang telah bapak wariskan untuk meniti masa depan." Ah, aku merasakan kehadiran bapak di dekatku. Entahlah, aku jadi merasa bahagia, lega dan optimis. Aku mengangkat kepala, menatap para tamu yang hadir dengan senyum. Seperti cara bapakku tersenyum kepadaku.


...****************...


Malam sudah menjelang dan semua tamu sudah pulang. Hanya ada beberapa pemuda membereskan kursi dan meja dan ibu-ibu yang masih sibuk merapikan dapur. Aku sangat lelah, mataku mulai terasa ngantuk dan badanku mulai terasa gerah dan lengket. Aku memutuskan untuk mandi supaya badan terasa lebih segar.


"Kas, mau ke mana?" tanya Arka


"Mandi," jawabku singkat.


"Ya udah, aku pulang dulu ya, mau mandi juga terus tidur," kata Arka kemudian bersiap-siap untuk pergi.

__ADS_1


"Pulang piye to le ?" tanya Pakde Marto


"Ya pulang pakde, kan acara sudah selesai," jawab Arka dengan nada santai seperti biasa.


"Lha bojomu piye? " kata Pakde Marto.


"Oh iya, lupa! Aku sekarang punya istri," kata Arka sambil menggaruk-garuk kepala dan membuat semua yang ada tertawa.


"Kalau begitu, aku pulang mandi terus ganti baju," kata Arka, pasti dia berusaha kabur dari sini.


"Nggak usah, le. Kemarin pakaianmu sudah dikirim ke sini, dibawa sama Rinto. Sudah ibu taro di lemari di kamar kalian," kata ibu sambil tertawa.


Apa? Kamar kalian? Seperti disadarkan aku bahwa sekarang punya suami dan itu artinya malam ini aku harus tidur bersama Arka. Berbagi ranjang dengannya dan kami akan.. .. .. ah, membayangkannya saja aku tidak sanggup. Aku lalu bergegas mandi untuk kabur dari Arka dan candaan orang-orang yang menggoda kami. Selesai mandi, dengan berbalut handuk kimono, aku dengan santai masuk ke kamar.


"Ada apa, Kas?" tanya ibu yang berlarian ke kamarku dan spontan Arka terduduk dengan wajah panik


"Ada Arka di situ," kataku sambil menunjuk ke arah Arka.


"Ya terus mau di mana? neng kandang wedhus?" kata ibu sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ya nggak, Arka kan bukan kambing. Tapi Kasih mau ganti baju," kataku merengek seperti anak kecil.


"Ganti yo tinggal ganti. ndak usah malu. Wong nanti sebentar lagi kalian juga buka-bukaan," kata ibu yang membuat aku merasa semakin gila. "Oh iya, kamu itu sama suami harus hormat. Manggilnya Mas Arka, jangan hanya panggil nama aja." kata ibu kemudian menutup pintu lalu pergi.


Apa yang harus aku lakukan untuk mengusir Arka supaya aku bis mengganti baju dengan nyaman. Ya ampun, kenapa semua bisa sekonyol ini? Arka kemudian meletakkan ponselnya di nakas. Dia berjalan mendekatiku, begitu dekat. perlahan aku melangkah mundur, sampai aku berhenti. Kenapa selalu begini aku terjebak karena tembok di belakangku.


"Kamu takut ya?" ledek Arka sambil tertawa tertahan.


Arka lalu pergi keluar, segera ku tutup pintu dan bergegas mengganti baju. Awalnya aku memakai daster, tapi kan pikiranku yang tidak tenang akhirnya aku ganti lagi dengan piyama dengan celana dan lengan panjang. Begitu aku selesai, Arka sudah berdiri di depan pintu hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Ternyata tadi Arka mandi, seketika rasanya aku lemas tak berdaya seperti terserang anemia saat Arka menutup pintu.


Tanpa basa basi Arka begitu saja melepas handuknya dan dengan sigap aku langsung menutup kedua mataku dengan tangan. Arka malah tertawa setelah sukses mengerjai ku. Ternyata Arka masih memakai celana boxer.


"Bisa nggak sih Ka, kamu berhenti jahilin aku?" tanyaku mulai sebel dengan tingkah laku Arka.


"Ya udah, kalau begitu aku minta tolong deh," kata Arka.


"Apa?" tanyaku.


"Ambilin air putih ya, satu botol gede, satu liter ya," kata Arka.

__ADS_1


Aku lalu menuju ke dapur, menuruti permintaan Arka. Dan saat aku kembali, Arka sudah terlelap di atas tempat tidur? Lalu di mana aku harus tidur? Kasurku berukuran 120x200. Sebenarnya cukup untuk dua orang tapi harus berdesakan. Apa iya aku harus tidur berdesakan dengan Arka? Kemarin malam aku sudah sulit tidur, malam ini juga harus ku lalui dengan masalah yang sama.


Ku Letakkan air minum di atas nakas lalu aku duduk di kursi dan tidak dapat ku tahan rasa kantukku sampai aku terlelap.


__ADS_2