MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 25


__ADS_3

"Arka!" kataku sambil melotot dan ada kebahagiaan bisa bertemu dengannya di sini.


"Arka sopo? Ini tuh Mas Arya," kata Rayi menyanggah kataku.


"Mau Arka mau Arya sama saja, Arka Aryasetya." kata Arka sambil mengulurkan tangan padaku.


Ku sambut jabat tangannya dengan senyum 


"Duh Gusti, Pak Surya," kata Rayi sambil menghampiri pria bertubuh gempal itu dan menjabat tangannya.


"Kalian sudah saling kenal? Bagus lah." kata ibu dengan nada senang.


Aku dan Rayi lalu saling pandang mencoba tersadar dan kembali ke benang merah. Ku tatap Arka, sahabat Awan yang ku kenal bekerja sebagai penyanyi cafe dan punya kerja sampingan sebagai driver online itu adalah Mas Arya pujaan hati Rayi yang mempunyai perusahaan dan karyawan lebih dari lima ratus orang dan dia adalah 'lelaki itu'? Aku tidak kehabisan akal, ku ambil ponselku dari dalam tas, kemudian aku membuat panggilan nomor penelepon gelap dan ponsel di tangannya berdering. Mataku terbelalak mencoba menyangkal semua ini.


"Arka, mungkin ada kebenaran lain yang ingin kamu ceritain ke aku?" kataku dengan ponsel tetap di telingaku dan menatap Arka dengan perasaan bercampur aduk.


"Aku hanya ingin kamu hidup baik-baik dan selalu bahagia," kata Arka dengan suara merdunya yang membuai.


Tanpa banyak kata, aku melewati Arka begitu saja, kutarik Rayi masuk ke dalam rumah dan kami berakhir di kamarku. Ku tata napasku yang tidak teratur dan Rayi memberiku sebotol air mineral yang langsung ku teguk.


"Dia Mas Arya?" tanyaku sambil menunjuk ke arah luar rumah.


"Iya jelas, wong Pak Surya juga di sini." kata Rayi sangat yakin, "Astaga, Mas Sur yang dimaksud itu Pak Surya?" kata Rayi sambil menahan teriakan saat menyadari kenyataannya.


"Dia itu Arka, sahabatnya Awan yang penyanyi di cafe tempat yang sering aku kunjungi sama Awan" kataku menambahkan fakta yang aku ketahui 

__ADS_1


"Bocah gendeng, itu cafe punya Mas Arya," kata Rayi yang membuatku hanya mampu ternganga. Jadi selama ini Arka nyanyi di cafenya sendiri?


"Dan dia adalah lelaki itu, penelepon gelap itu," kataku lalu duduk di atas tempat tidur. Kakiku rasanya lemas dan tidak sanggup menopang tubuhku.


Serapi itu Arka menyembunyikan dirinya. Tentu saja, bahkan Awan yang mengaku sebagai sahabatnya saja tidak tahu sama sekali mengenai latar belakang Arka. Yang Awan tahu hanyalah Arka baik, selalu mendukungnya dan tidak pernah merugikannya. Harusnya aku menyadari kalau dia dari kalangan ekonomi atas saat awal pertama aku terpesona dengan kulitnya yang putih bersih, terlihat sangat terawat.


"Kalau menurutku, sekarang semua jadi lebih gampang karena kalian saling kenal," kata Rayi


Iya, mungkin semua akan menjadi lebih gampang, tapi bagaimana aku harus menjelaskan kepada Awan? Kalau aku tidak bisa menolak perjodohan ini, sekuat apa Awan mampu menahan sakitnya dikhianati bukan hanya oleh kekasihnya, tapi juga oleh sahabatnya. Ku acak-acak rambutku dan kuusap wajahku dengan kasar. Kisah cinta seperti apa yang sedang aku jalani jika aku harus menikahi sahabat kekasihku?


...****************...


Malam ini hanya ada aku dan Arka di duduk di teras rumah merasakan sejuknya malam diiringi suara jangkrik. Dua gelas kopi menemani kami. Aku menyusun pertanyaan yang terlalu banyak dan berebutan untuk ku utarakan namun aku sendiri tidak tahu harus ku mulai dari mana.


"Pertanyaan pertama," kata Arka memecahkan kesunyian.


"Sudah," jawabnya singkat.


"Kamu sudah tahu kalau aku yang dijodohkan dengan mu?" tanyaku lagi.


"Sudah," jawaban yang sama diberikan padaku.


Aku lalu diam, harus menenangkan diri, exhale inhale sampai tiga kali. Memang aku mengenali Arka tapi aku tidak pernah berbicara dengannya dalam waktu yang lama. Aku mulai bingung mau bertanya apa lagi.


"Orangtuaku pingin punya mantu yang asli Jawa, cerdas, mandiri dan tangguh dan menurut mereka itu ada di kamu," kata Arka saat aku terdiam lumayan lama.

__ADS_1


"Aku tidak se'jawa' itu. Maksudku yang real jawa dan terlihat jelas itu seperti Rayi," kataku memberi contoh.


"Hei den ayu, bapakku dan bapakmu itu bisa dibilang punya hubungan yang kompleks sejak dulu kala. Pasti ada alasan lain dari mereka yang aku tidak tahu pasti," kata Arka sambil tersenyum.


"Terus kamu terima begitu saja?" tanyaku meminta penjelasan darinya.


"Seandainya kamu terima karena apa?" Arka malah balik bertanya.


"Aku hanya ingin membahagiakan orangtuaku. Aku sadar usia mereka sudah tidak muda lagi. Mumpung masih ada kesempatan aku ingin jadi anak berbakti," kataku dengan mata sedikit berembun.


"Berarti kita sama, mumpung aku masih punya waktu aku akan membahagiakan orangtuaku. Kebahagiaanku tidak penting saat ini," kata Arka yang membuat aku tersentuh. "Tapi kebahagiaanmu penting bagiku. Aku tidak bermasalah kalau kamu keberatan dan berniat membatalkan semua. Semua keputusan tetap ditangan mu, Kas." lanjutnya lagi.


Aku malah merasa penasaran dan heran dengan jalan pikiran Arka. Seolah dia tidak punya tujuan yang pasti untuk hidupnya sendiri dan hidupnya didedikasikan untuk kepentingan hidup orang di sekitarnya.


"Sementara ini dulu ya, jika nanti pada akhirnya kamu memutuskan untuk menjadi masa depanku, baru aku ceritakan semuanya. Biar ada bahan pembicaraan untuk menjalani hari-hari bersama," kata Arka lagi-lagi penuh teka teki dan membuat aku harus berpikir keras tentang ke arah mana pembicaraannya.


"Kalau aku menolak perjodohan ini bagaimana?" tanyaku geregetan juga dengan banyaknya hal-hal yang tersirat dalam setiap perkataannya.


 "Ya kamu nggak perlu tahu, semua itu nggak akan penting buatmu," jawabnya.


Berarti aku harus menikah dengannya untuk bisa menjawab rasa penasaran yang menumpuk di kepalaku.


"Ya sudah, suasana semakin dingin, aku mau pulang dulu. Kamu pikir baik-baik sebelum mengambilan keputusan, masa depan itu milikmu, lakukan yang terbaik," kata Arka yang membuatku semakin penasaran dengannya.


Apa mungkin dia menjebakku sehingga jika hubungan dengan bapak menjadi buruk karena aku menolak perjodohan ini atau hubungan ku berakhir dengan Awan jika aku menerima perjodohan ini semua itu adalah salahku. Tapi jika aku gali lebih dalam, semua ini memang masalahku jadi semua tanggungjawab memang sewajarnya ada di aku. Aku yang harus memilih antara bapak dan Awan. Hanya aku yang bisa menentukan mana yang menurutku terbaik dan bisa membahagiakan aku.

__ADS_1


Arka masuk sebentar ke dalam rumah untuk pamit pada bapak dan ibu. Dia juga meminta ku untuk masuk ke dalam rumah karena sudah hampir jam sepuluh malam, saatnya tidur katanya.


Aku masuk ke kamar dan mengingat-ingat kembali pembicaraanku dengan Arka tadi. Sebelum aku tidur sebaiknya aku memeriksa ponselku. Banyak panggilan dari Awan. Tapi aku tidak tahu harus menelpon balik atau tidak.


__ADS_2