
"Ka, jangan sekarang ketemu Awannya," kataku mencoba menolak dan mendadak Arka menepi dan berhenti.
"Kenapa?" tanya Arka sambil memasangkan sabuk pengamanku. Dia begitu dekat sampai tercium aroma parfumnya.
"Aku belum siap," jawabku sambil menunduk namun wajah Arka masih sangat dekat dengan wajahku.
"Kamu nggak akan pernah siap, Kas selama kamu masih menyimpan rasa bersalah," kata Arka yang membuatku terpana.
Betul yang diucapkan Arka dan benar juga semua keputusan yang sudah diambil oleh Arka, bahwa sebaiknya aku menjauh dari Awan. Aku juga seharusnya memblokir nomor ponselnya dan berusaha untuk tidak berhubungan dengan Awan. Aku harus bisa menahan rindu yang menyiksa nantinya tapi itulah konsekuensi yang harus aku terima dari semua. Inilah jalan hidup yang ku pilih. Walaupun cintaku berat pada Awan, tapi aku harus menjalani hidupku bersama Arka.
"Ya udah, kita makan malam aja ya, cari tempat yang lumayan romatis. Sekali-kali biar seperti pasangan beneran," kata Arka sambil tersenyum.
Arka mengajakku ke restoran yang terkesan mewah namun menyajikan masakan Nusantara. Tempatnya terlihat sangat nyaman dengan live music. Ini tempat favorite Arka karena semua ini dibuat sesuai dengan konsep yang diinginkan Arka. Ya, tempat ini adalah milik Arka yang dia bangun dari nol dan dikembangkan dengan usahanya sendiri. Walaupun modal awalnya didapatkan dari orangtuanya, tapi menurut pengakuan Arka, modal itu bersifat hutang dan sudah dilunasi setelah menjalankan usaha ini selama kurang lebih tiga tahun. Arka juga bercerita kalau dulu dia pernah mengajak Rayi ke sini.
"Dan kamu nyanyi beautiful in white dan pada saat itu Rayi pakai baju putih," kataku sambil tertawa.
"Aku lupa apa yang aku nyanyikan saat itu," kata Arka juga ikut tertawa.
"Rayi saat itu tergila-gila sama kamu. Heran juga kok bisa cewek-cewek bisa seperti itu sama kamu," kataku mencoba menggodanya.
"Heran juga kok kamu nggak pernah tergila-gila sama aku," jawabnya yang justru malah membalikkan keadaan
"Berapa banyak cewek yang sudah kamu bawa ke sini?" tanyaku mencoba membelokkan pembicaraan.
"Hanya Rayi dan kamu," jawabnya dan aku tahu itu jujur.
Arka lalu bercerita mengenai brownies yang dibawakan Rayi pada saat itu, menurutnya itu sangat lezat. Dia berharap Rayi membuatkan lagi untuknya tapi semua belum terwujud juga. Aku lalu berjanji untuk memenuhi keinginannya di hari Sabtu ini, saat aku libur kerja dan Arka terlihat sangat senang.
Aku sangat menikmati malam ini. Makanan yang sesuai dengan seleraku, suasana yang menyenangkan, obrolan yang ringan, mendengar lagi nyanyian Arka. Sejenak aku merasa mampu melupakan semua masalah yang ada. Aku merasa malam ini Arka memperlakukanku sangat istimewa.
__ADS_1
...****************...
Saat hampir sampai di rumah, dari kejauhan terlihat mobil Awan parkir di depan rumahku. Segera aku menghubungi Rayi dan menurut Rayi Awan sudah menungguku sejak sore tadi, hanya beberapa menit setelah aku dan Arka meninggalkan rumah. Aku memandang Arka dengan tatapan cemas berharap dia bisa mencarikan jalan keluar untuk masalah ini. Arka seperti tanggap dengan situasi kemudian menepi dan berhenti agak jauh.
"Memang takdirnya kamu harus ketemu Awan hari ini. Jadi gimana? Mau kamu temuin nggak?" tanya Arka tapi matamu menatap lurus ke arah mobil Awan.
"Aku belum siap, Ka." jawabku sambil duduk sedikit merosot dengan harapan bisa bersembunyi dari pandangan Awan.
"Duduknya biasa aja, non. Kalau Awan lihat mobil ini pasti dia tahu kalau kamu di sini sama aku," kata Arka sambil terkekeh dan segera aku memperbaiki posisi dudukku.
Aku malah tidak bisa duduk dengan tenang, suasana di dalam mobil terasa gerah, namun aku malah merasa mengeluarkan keringat dingin. Seluruh tubuhku juga terasa dingin apa lagi kakiku. Melihat mantan rasanya seperti melihat hantu saja.
"Kenapa kamu belum siap?" tanya Arka.
"Aku hanya tidak mau menyakiti Awan. Dia tahu kalau kita menikah karena dijodohkan dan dia masih berharap kami bisa kembali lagi," kataku sambil tertunduk dan berusaha mengatur napas.
"Ya, nanti mobilmu parkir di depan rumah Rayi aja," kataku dan entah mengapa aku seperti mempunyai kekuatan untuk bisa berhadapan dengan Awan.
Mobil kemudian masuk ke halaman rumah Rayi. Aku berusaha mengatur napas sesaat sebelum turun dari mobil, tampak Rayi mengintip dari balik gorden jendela. Mungkin Rayi tidak ingin ikut campur sehingga dia hanya memantau dari dalam rumah.
"Kamu turunnya nunggu aku bukain pintu ya," kata Arka lalu bergegas turun setelah melepaskan sabuk pengamanku.
Pintu terbuka, dan aku pun turun. Arka kemudian menggenggam jemariku begitu aku turun dari mobil. Senyumnya yang mempesona yang diberikan padaku sedikit menenangkan.
"Tanganmu sampai sedingin ini," kata Arka sambil tertawa.
Aku ikuti langkah kaki Arka yang santai menuju rumah. Awan berdiri saat melihat kedatangan kami. Mukanya tampak tidak senang apalagi melihat Arka menggandengku. Tatapannya penuh dengan rasa cemburu, seolah dia ingin menghabisi Arka saat itu juga. Ketakutan mulai menyelimuti perasaanku,. Aku takut Awan dan Arka bertengkar sampai berantem seperti yang sudah-sudah. Herannya aku malah mempererat jemariku yang sedari tadi bertaut dengan jemari Arka. Seolah di tangan Arka semua perlindungan ku tersimpan.
Arka malah menyapa Awan dengan ramah, masih memanggil Awan dengan sebutan 'komandan' sedang Awan mengabaikannya. Terlihat jelas kalau Awan tidak rela dan tidak pernah ikhlas dengan apa yang ada di depan matanya.
__ADS_1
"Aku cuma mau bicara dengan Kasih, kamu nggak perlu ikut campur," kata Awan dengan sangat kasar sambil menunjuk wajah Arka.
"Mana kunci rumah? Kalian bicara aja dulu aku tunggu di dalam," kata Arka sambil menengadahkan tangannya ke padaku.
"Nggak ada lagi yang perlu kami bicarakan, Ka." kataku sambil berusaha supaya tangan Arka tidak melepaskanku dan aku merapatkan tubuhku ke punggung Arka.
"Atau aku pulang aja, kalian bicara berdua biar lebih leluasa," kata Arka lagi yang menurutku bukan solusi yang tepat.
"Jangan dong, Ka. Kalau kamu pulang aku ikut kamu aja," aku mulai merengek ke Arka seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan.
Awan terlihat semakin emosi dan tampak muak dengan semuanya. Tapi aku sama sekali tidak sanggup untuk menatapnya. Aku terus bersembunyi di balik punggung Arka.
"Kas, selesaikan semua sekarang, kalau seperti ini selamanya kamu nggak akan bisa tenang," kata Arka membujukku.
Lama aku terdiam, tidak ada satupun dari kami bertiga yang bersuara. Aku takut, semakin aku berbicara, semakin menyulut amarah Awan. Namun aku berusaha maklum kenapa Awan seperti itu. Sama seperti aku, cintanya masih utuh untukku.
"Aku cuma mau memastikan, apa kamu mencintai Arka?" tanya Awan memecah keheningan dan seketika merobek hati.
Ingin aku berteriak, aku masih mencintai Awan. Sampai saat ini hatiku masih miliknya, sakit rasanya saat tahu cinta ini tak mungkin lagi bersatu. Saat ini tidak ada ruang cinta untuk lelaki manapun, hatiku hanya ada Awan. Hanya air mata yang berbicara dan heningnya hati yang menjerit.
"Walau Kasih tidak mencintaiku, tapi aku peduli dan akan selalu menjaganya sampai aku mati," kata Arka.
"Aku nggak ada urusan sama kamu," kata Awan mulai mendorong bahu Arka.
"Tapi Kasih dari tadi nggak mau ngomong sama kamu," kata Arka dengan nada tegas.
Awan mengepalkan tangannya dan mengayunkan ke arah Arka. Aku langsung menarik Awan dan berdiri di depannya dan pukulan keras itu mengenai pelipis mataku
Pandanganku berkunang-kunang. Terasa Arka menahan tubuhku supaya tidak jatuh dan duniaku terasa gelap.
__ADS_1