MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 105


__ADS_3

Rasanya mataku sangat lengket dan susah ku buka padahal aku sudah tidak bisa menahan untuk buang air kecil. Dengan menyeret kaki dan mata setengah terpejam ku paksakan melangkah ke kamar mandi. Lega rasanya bisa menuntaskan apa yang tertahan. Saat kembali ke kamar, mataku tidak bisa menemukan Arka di tempat tidur dan ini sudah hampir jam sebelas malam. Tidak biasanya Arka seperti ini. Aku lalu teringat kalau selama ini Arka punya kebiasaan menyelinap untuk menyelesaikan masalah saat aku tidur. Pasti dia sedang berurusan dengan Aditya karena peristiwa siang ini. Aku bergegas ke rumah induk namun di sana terlihat sepi. Aku menahan nafas mengendap-endap seperti Catwoman namun tidak ada tanda-tanda kehadiran Arka di sana. Dan aku merasa seseorang mendekapku sangat erat dan sukses membuat seluruh bulu kudukku merinding. Terasa bibirnya menjelajahi leherku, aku berusaha memberontak dan menjerit namun tangannya menbekap mulutku sehingga suaraku tidak bisa keluar. Sementara tangan yang satunya masuk ke dalam bajuku dan menggerayangi setiap centimeter bagian tubuhku bahkan *******-***** payudaraku. Aku sadar kalau itu adalah Aditya. Aku berusaha meraih tangannya dan menggigitnya sampai tangannya terlepas dan aku berteriak meminta tolong sekeras mungkin. Arka berlari dan melayangkan tinju sampai Aditya tersungkur. Tanpa ampun, Arka terus meninju Aditya dan tidak lama kemudian Pak Surya dan Bu Gendis datang dan berusaha melerai mereka. Tampak darah mengalir deras dari hidung Aditya dan Arka berteriak memaki Aditya.


"Sakit, goblok!" teriak Aditya sambil berusaha menahan darah yang terus mengalir dari hidungnya.


"Parah kamu mas, nggak punya otak kamu mas!" kata Arka menunjuk-nunjuk ke arah Aditya.


Aku berusaha menahan Arka dengan mengajaknya pulang. Aku masih panik dan berharap perkara ini tidak menambah masalah baru. Namun Pak Surya malah meminta kami untuk masuk ke dalam rumah. Aku memohon pada Arka supaya dia menuruti kemauan Pak Surya. Lama kami terdiam sementara Bu Gendis berusaha mengobati Aditya. Aku heran dengan perangai Aditya yang sangat di luar nalar. Dia malah membentak Arka dan seolah tidak berbuat salah sama sekali. Tatapan galaknya ke Arka saat ini juga menunjukkan kalau dia itu sinting.


"Mentang-mentang aku menumpang di rumahmu, kamu seenaknya seperti itu?" tanya Aditya malah seolah menantang Arka.


"Aku punya salah apa mas sama kamu?" tanya Arka sangat kalem

__ADS_1


"Salah kamu apa? Kamu sudah mengambil semua dariku, sejak kamu lahir, aku harus berbagi denganmu, berbagi perhatian ayah, berbagi kasih sayang mama, berbagi semua harta, berbagi segalanya, kamu tahu itu? Kamu masih kurang jelas?" kata Aditya dengan emosi menggebu-gebu.


"Aku rela kehilangan semua milikku asal aku nggak kehilangan sosok kakak" kata Arka yang menimbulkan keheranan, hatinya sungguh mulia.


"Kalau begitu aku minta istrimu," kata Aditya sambil menatapku dengan tatapan liar dan mesum yang membuat aku bergidik.


"Aku bilang semua milikku, dan Kasih ini istriku, tapi bukan milikku," kata Arka dan matanya menatapku teduh.


"Dia memang istriku, tapi dia bukan milik siapa-siapa, dia ya milik dirinya sendiri. Itu terserah dia dengan siapa dia mau menjalani hidupnya," kata Arka yang kemudian berdiri dan menatapku teduh.


Seperti diaba-aba aku ikut berdiri dan mengikuti langkah Arka pulang ke paviliun. Arka kemudian menoleh padaku sebentar lalu membopongku pulang tanpa banyak bicara namun wajahnya menyiratkan kekecewaan dan kemarahan yang sangat besar. Terbukti dari diamnya dia, tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Saat Arka menurunkan aku di atas tempat tidur, dia malah menangis berlutut di depanku. Aku merasa heran dengan apa yang dilakukan Arka. Aku merasa tidak enak dan tentu saja aneh kemudian turun ke lantai dan duduk di samping Arka. Arka malah memelukku dengan erat dalam tangisnya. Dia merasa gagal menjagaku sehingga Aditya mempunyai kesempatan melakukan pelecehan terhadapku. Dia merasa martabatnya sebagai seorang suami runtuh karena peristiwa ini.

__ADS_1


"Saat aku terbangun aku, kamu nggak ada mas. Ku kira kamu ke rumah induk membuat perhitungan jadi aku berniat menyusulmu ke sana," kataku penuh rasa bersalah saat Arka mulai terlihat tenang.


"Aku di dapur yank, baru minum sambil buka medsos. Pas aku mau balik ke kamar, pintu depan terbuka dan aku mendengar jeritanmu," kata Arka.


"Maafkan aku mas, aku terlalu gegabah sampai semua ini terjadi," kataku lagi meratapi kebodohan dan kecerobohan yang sudah aku lakukan.


Betapa bodohnya aku, kenapa tadi aku tidak memeriksa seisi rumah dulu sebelum memutuskan ke rumah induk. Untung saja tadi Aditya tidak bertindak terlalu jauh. Namun hubungan Arka dan Aditya yang awalnya renggang menjadi retak dan semakin panas karena ulahku ini.


"Harusnya aku tidak menikahimu sehingga Mas Adit tidak terus mengincarmu seperti ini. Aku juga tidak mengerti apa yang ada di dalam kepala Mas Adit. Dia terlalu merendahkanku yank," kata Arka masih dalam tangisnya.


"Jika bersamamu aku sudah bahagia, kenapa harus cari orang lain terima kasih untuk sabarmu selalu jadi tempat ternyaman untukku," kataku sambil mempererat pelukanku.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar pintu digedor sangat keras disusul suara Bu Gendis dengan nada sangat panik diikuti langkah MboK Welas yang membukakan pintu dan juga ikutan panik. Ada apa lagi ini?


__ADS_2