MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 48


__ADS_3

Perlahan ku buka mataku, rasanya aku terbaring di pangkuan seseorang yang membelai lembut rambutku. Rasanya sedikit pusing, suara Rayi memenuhi telingaku dan bau minyak angin tercium menyengat hidungku. Ku pejamkan lagi mataku. Mungkin ini yang dirasakan petinju yang mengalami TKO.


"Kamu nggak papa sayang?" suara Awan terdengar sangat dekat di telingaku ku buka lagi mataku.


Aku berusaha duduk dan kagetnya, ternyata aku berbaring di pangkuan Awan. Awalnya ku kira itu bisa saja Arka ataupun Rayi. Dalam keadaan kepala masih pusing, aku menggeser duduk ku dan menyandarkan kepala di pundak Rayi yang duduk tidak terlalu jauh. Arka terlihat menatapku dengan muka khawatir.


"Kan aku pernah bilang kalau ada dua lelaki ribut kamu jangan berdiri di tengah," kata Arka sambil mengulurkan air putih hangat kepadaku.


"Kok kamu malah nyalahin Kasih?" kata Awan masih dengan nada amarahnya.


"Arka nggak nyalahin aku, dia cuma ngingetin aku. Harusnya tanganmu juga jangan seenteng itu, Wan. Kamu bukan bintang MMA, nggak perlu ada kekerasan fisik," kataku mencoba menegur Awan.


Awan lalu diam, lama dia menatapku dengan wajah kasihan. Mungkin dia menyesali perbuatannya. Aku sudah tidak tahu harus apa lagi dengan Awan yang seperti preman. Memang saat ini Awan harus dihindari. Bukan hanya karena memikirkan perasaanku atau perasaannya tapi lebih kepada Arka. Aku yakin, kalau Arka mau, dia pasti bisa melawan Awan, tapi dia selalu mencoba mengalah. Sifat temperamen Awan sangat mengganggu kehidupan kami nantinya.


"Ka, bantuin aku ke kamar ya, ini udah malam. Aku capek, ngantuk, mau tidur." kataku sambil berusaha duduk dengan baik.


"Sama aku aja ya, sayang." kata Awan menawarkan diri.


"Arka," kataku menegaskan.


Arka lalu berdiri dan mendekatiku. Aku hanya berharap dia membantuku berdiri dan memapah ke kamar tapi ternyata Arka mengangkat dan membopongku. Ku lingkarkan lenganku di lehernya dan ku sandarkan kepalaku di dadanya yang bidang. Terdengar detak jantungnya teratur dan terasa tenang. Ku pejamkan mata, menikmati irama jantung dan aroma harum tubuhnya. Aku bisa merasakan tubuhku diturunkan perlahan di tempat tidurku yang nyaman. Selimut hangat menutupi tubuhku. lampu dimatikan berganti lampu tidur yang remang.


"Selamat tidur, Kasih, mimpi indah ya, kamu harus bahagia," kata Arka setengah berbisik diikuti langkah kaki yang menjauh dan terdengar suara pintu ditutup.


Air mataku mengalir, semoga Arka baik-baik saja. Dia juga harus bahagia. Aku berharap Awan tidak membuat masalah lagi, aku sudah lelah dan butuh istirahat.


...****************...


Sabtu pagi aku sudah dandan rapi dan menuju rumah Rayi. Seperti biasa Rayi sudah selesai membersihkan rumah dan dia sendiri sudah BERIMAN- bersih, indah dan nyaman.

__ADS_1


"Masih punya resep brownies waktu itu?" tanyaku sambil menghempaskan tubuhku di sofa.


"Masih dong, kan ada di YouTube, tinggal browsing aja," kata Rayi sambil memakai lotion di kaki dan tangannya.


"Bikin lagi yuk, Arka ternyata suka lho," kataku.


"Oh ya? Ah, jadi semangat nih," kata Rayi sambil tersenyum .


"Aku sudah pesan taksi online, sebentar lagi datang," kataku yang membuat Rayi kelabakan.


"Kamu ya Kas, kebangeten, aku kan belum siap-siap," kata Rayi sambil bergerak cepat untuk tampil maksimal.


Saat tiba di tempat berbelanja, Rayi terlalu memilih. Bukankah sebelumnya kami pernah melakukan hal ini, kan tinggal mengulang langkah sebelumnya, tapi kenapa selalu terjadi perdebatan.


"Kas, ambil yang di belakang, yang belum dipegang orang," kata Rayi sambil membongkar tumpukan tepung.


"Kan ini di plastik, ya tetap higienis lho Ra," kataku mulai sewot dengan kelakuan Rayi.


"Kamu masih mengharapkan Arka?" tanyaku sambil berjalan mendorong troli.


"Ya nggak papa dong, seperti fans dan idola aja. Nggak berharap memiliki tapi ingin dia senang aja. Kenapa?" kata Rayi menyerocos dengan bangganya.


"Ya nggak apa-apa," kata ku yang mulai mengantri di kasur dan antriannya sangat panjang.


"Oh, aku tahu kamu mulai suka sama Arka, mulai main cemburu-cemburuan, sudah posesif ya!!" kata Rayi berteriak dan membuat semua mata tertuju pada kami.


Spontan ku injak kaki Rayi dan melotot ke arahnya. Bukannya diam sesuai harapanku, Rayi malah memarahiku karena menyakiti kakinya. Aku hanya bisa menepuk dahiku dan sesekali mengacak-acak poniku.


"Tolong Ra, kendalikan dirimu, aku nggak kayak gitu," kataku sambil berbisik dan menaruh telunjukku di depan bibir.

__ADS_1


"Kayak ngono yo ra popo, dia kan suamimu, malah lebih bagus kan?" kata Rayi sambil menoyor kepalaku.


Setelah antrian yang panjang dan melelahkan, akhirnya selesai sudah dan saatnya pulang untuk eksekusi brownies. Saat kami tiba di rumah, ternyata Arka berada di depan rumah Bu Susi membantu Dio, anak Bu Susi yang masih TK belajar bermain sepeda.


"Arka, kok kamu sudah di sini?" tanyaku saat dia melihat kami.


"Mau ikutan bikin brownies," jawabnya sambil berjalan mendekati kami.


Aku dan Rayi saling pandang, seolah tidak yakin dengan penuturan Arka. Segera kami membawa semua bahan ke dapur dan mempersiapkan semua perangkat untuk membuat brownies. Aku dan Rayi tak mampu menahan rasa heran karena nyatanya Arka jauh lebih cekatan dari kami. Kami hanya mampu berdiri dan melihat, bahkan dia tidak perlu meniru di YouTube seperti yang selama dilakukan oleh aku dan Rayi. Ini sama saja dengan kami yang berbelanja, Arka yang membuatkan brownies untuk kami.


Saatnya mencicipi brownies, rasanya sangat enak. Aku dan Rayi sampai kalap dan hampir menghabiskan semua brownies. Arka hanya melihat kelakuan kami sambil tersenyum.


"Sudah kenyang ni, aku pulang dulu ya," kata Rayi sambil berlalu pergi


"Bisa-bisanya seperti itu, lari dari tanggungjawab," kataku menggerutu.


"Kok bisa?" tanya Arka keheranan.


"Ya iyalah, biar nggak beres-beres," kataku lagi sambil tersenyum.


Akhirnya malah Arka yang membereskan semua. Hari ini sangat aneh, niatnya menyenangkan hati Arka malah yang terjadi adalah kebalikannya.


"Aku mau pulang, kamu mau ikut nggak?" tanya Arka padaku setelah selesai membereskan semua.


"Ke mana?" tanyaku kurang jelas.


"Ya ke rumah," jawab Arka sambil berdiri mendekatiku.


Aku malah berjalan mundur sampai terdesak dan berhenti di tembok. Arka berdiri sangat dekat di depanku. Kedua tangannya kemudian tempelkan di tembok sehingga aku terjebak dan terpepet. Nafasku mulai tidak beraturan diiringi detak jantung yang berantakan. Hangat nafasnya terasa di dahiku. Aku merasa tidak bisa berkutik lagi.

__ADS_1


Terasa tangan Arka menyelipkan rambut ke belakang telingaku. Spontan aku menutup mata dan berusaha untuk mundur lagi namun tertahan tembok. Tiba-tiba Arka menjentikkan tangannya di antara alis mataku dan saat aku terkejut Arka menjauhiku sambil tertawa. Aneh sekali, apa maksud Arka berbuat seperti itu?


__ADS_2