MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 35


__ADS_3

Arka menatapku seolah meminta pendapat. Rayi melotot padaku  memberikan isyarat agar aku tidak bertindak gegabah. Ya, aku harus menunggu sampai semua mengeluarkan pendapat kemudian barulah aku bisa menarik kesimpulannya. "Mungkin terlalu cepat tapi ini keinginan bapakmu, nduk," kata Pakde Marto sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi tulisan bapak.yang katanya ditulis tiga hari sebelum bapak meninggal "Kalau itu mau bapak, aku akur saja," kataku dengan penuh keikhlasan.


"Kas, kamu yakin?" tanya Arka terlihat khawatir. "Tenang Ka, aku baik-baik dan akan bahagia," kataku berusaha meyakinkan Arka. Lalu diputuskan tiga bulan lagi aku akan menikah. Aku berusaha menerima semua dengan legowo. Rasanya lebih enteng, tidak ada rasa tertekan karena aku berharap bapak akan bahagia dengan keputusanku ini.


"Tapi, aku masih boleh kerja kan selama belum menikah?" tanyaku lebih kepada Arka.


"Ya, tentu saja boleh. Kapanpun kamu siap aku akan mengantarmu ke kota," jawab Arka.


Syukurlah ternyata lelaki pilihan bapak sangat baik dan bisa mengerti keinginanku.


...****************...


"Kas, terus Awan piye?" tanya Rayi setelah semua bubar.


"Aku sama Arka sudah bicara sama Awan," kataku


"Terus?" tanya Rayi sangat penasaran


"Ya dia marah lah, Arka dipukul sampai hidungnya berdarah," jawabku mengingat peristiwa itu


"Arka balas?" tanya Rayi lagi sangat menggebu-gebu


"Ya nggaklah," jawabku


"Ya, harusnya Arka balas biar seru," kata Rayi dengan nada kecewa


"Gila ya kamu Ra. Hei ini tuh bukan MMA," kataku sambil menjambak Rayi kesal.


Aku mencari ponselku saat Rayi sudah pergi. Ada banyak pesan dan telepon yang masuk namun aku abaikan. Segera aku menghubungi Awan, aku harus menjelaskan semua supaya dia tidak salah paham pada Arka. Sial, aku tidak bisa menghubunginya,. Apa mungkin nomorku diblokir? Aku mulai cemas, aku harus meluruskan semuanya sebelum hari pernikahanku.


"Tumben pegang HP?" tanya Rayi yang tiba-tiba sudah kembali lagi.


"Iya, banyak WA masuk," kataku sambil menunjukkan layar ponsel padanya mencoba menutupi apa yang sebenarnya aku lakukan.

__ADS_1


Dengan terpaksa aku membuka satu per satu di depan Rayi. Kebanyakan adalah ucapan belasungkawa. Awan bahkan sama sekali tidak melayangkan protes ataupun kritik dan saran. Apa yang sedang Awan lakukan saat ini? Yang jelas dia pasti membenciku.


"Kapan kamu balik ke kota?" tanya Rayi


"Mungkin lusa," jawabku sambil terus fokus ke layar ponselku.


"Kata Rinto kemarin kamu sakitnya di rumah Arka ya? Dirawat ibunya juga?" tanya Rayi sambil wajahnya di dekatkan pada wajahku


"Iya," jawabku singkat karena aku kurang tertarik dengan topik yang diangkat oleh Rayi.


"Rumahnya yang mewah itu kan?" kata Rayi bertanya lagi mengorek informasi.


"Kalau di sini memang menonjol ya, tapi rumahnya rumah joglo biasa. Bukan yang kayak rumah peninggalan Belanda gitu," kataku sambil mengingat-ingat.


"MEWAH, ME-pet sa-WAH," kata Rayi sambil tertawa.


Rayi kemudian celingukan dan bercerita padaku kalau sebelum Rayi ke sini, Awan datang ke rumahku untuk meminta penjelasan. Mukanya tampak kusut dan matanya sembab. Dia berharap agar aku berpikir lagi mengenai perjodohan ini. Agar aku membatalkannya. Rayi yang tidak tahu harus berkata apa malah memberitahu Awan kalau bapak meninggal dan meminta Awan untuk tidak berharap lagi padaku. Rasa cintaku pada Awan memanggilku, keikhlasan ku untuk menuruti permintaan bapak mulai goyah.


"Ngarit yuk," kata Arka yang tiba-tiba muncul dengan membawa sabit di tangan


"Aku ngajak Kasih, nggak ngajak kamu," kata Arka sambil tertawa.


Aku turuti saja keinginan Arka dan mengikuti ke manapun langkahnya. Benar kata Rayi, berada di antara semak dan pepohonan membuat badanku terasa gatal-gatal.


"Kamu punya kambing?" tanyaku sambil menggaruk-garuk


"Nggak," kata Arka sambil memikul daun-daun dan rumput yang berhasil dikumpulkannya.


"Sapi?" tanyaku lagi mulai merasa aneh


"Nggak juga," jawab Arka dan ini benar-benar aneh.


"Terus ini buat apa?" tanyaku.

__ADS_1


"Nanti diberikan kepada tetangga yang membutuhkan," kata Arka sambil terus berjalan.


Kami berhenti di sebuah rumah yang dindingnya masih terbuat dari anyaman bambu ada sepasang kambing di bagian samping rumahnya. Seorang kakek tua keluar dari rumah dan menyambut kedatangan Awan dan dia terlihat sangat bahagia.


"Duh, le. Kamu itu nggak usah repot sampai ngarit segala," kata kakek itu.


"Daripada nganggur, Mbah," jawab Arka sambil meletakkan pakan ternak di samping kandang


"Ini calon istrimu?" tanya kakek itu sambil tersenyum padaku.


"Ayu to, Mbah?"?" Kata Arka sambil mengangguk dan tersenyum padanya.


"Iyo, semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan. Kayak aku dengan istriku dulu," katanya dan diamini oleh Arka dan entah mengapa di dalam hati aku juga ikuti mengamininya.


Setelah basa basi dan segelas kopi. Kami pun pergi dari situ. Kakek itu bernama Mbah Min, hidupnya sebatang kara karena dia tidak punya anak dan istrinya sudah meninggal. Arka membelikan kambing untuknya supaya dia punya kegiatan dan saat membutuhkan uang, Mbah Min bisa menjual kambing itu.


"Kamu baik ya, Ka" kataku kagum padanya.


"Ya hidup nggak ada yang tahu, nggak guna numpuk harta, kalau bisa bantu orang yang sebaiknya digunakan untuk membantu orang, yang penting kita dan orang di sekitar kita bisa bahagia," kata Arka yang berjalan sangat dekat denganku.


"Kamu bahagia nggak hari ini?" tanya Arka yang membuatku sedikit bingung untuk menjawabnya. "Saat kamu hidup bersamaku dan kamu tidak bahagia, kamu bilang aja terus terang ya," lanjutnya lagi.


Aku hanya mengangguk kepala. Rasanya selama bersama Arka aku tidak pernah merasa sedih. Dia selalu berusaha mengikuti apapun kemauanku.


"Kamu, apa yang membuatmu bahagia?" tanyaku mulai penasaran.


"Kalau melihat orang lain bahagia," jawabnya sangat sederhana.


"Maksudku kamu punya keinginan atau visi misi untuk dirimu pribadi," tanyaku berusaha menjelaskan.


"Ya itu tujuanku ingin membuat semua orang bahagia," jawabnya terdengar tulus


"Mulia sekali hidupmu anak muda," kataku sambil tertawa.

__ADS_1


Aku mulai merasa tidak betah dengan gatal yang menyerang. Aku ingin segera sampai di rumah, mandi dan mengganti baju. Namun ada saja yang membuat Arka berhenti dan menunda perjalanan karena banyak yang ingin dia bangun. Bahkan, kucing yang tidak bisa turun dari atas pohon pun ditolongnya.


Sebentar lagi kami sampai di rumah. Dari kejauhan terlihat ada mobil terparkir di depan rumah dan mobil itu tidak asing bagiku. Aku berlari agar bisa segara sampai di rumah dan memastikannya dari dekat dan benar, itu mobil Awan. Tampak Awan duduk di teras ditemani Rayi. Sepertinya ada hal yang serius yang mereka bicarakan. Aku berhenti tepat di depan Awan dan Arka menyusulku. Untuk apa Awan ke sini?


__ADS_2