
“Aku hanya ingin menjagamu dan memastikan kamu bahagia, yank.” Kata-kata itu keluar dari mulut Arka saat kami hanya berdua usai check up dan aku meminta penjelasan kenapa dia menyembunyikan semua dariku.
“Aku juga ingin melakukan hal yang sama mas,” jawabku sambil menatap ke dalam matanya dan menggenggam tangannya.
“Tapi aku hanya tidak ingin membuatmu repot yank,” tolak Arka lembut
“Nggak ada yang repot mas, aku seneng kalau bisa berbakti sama suami yang aku cintai,” kata-kata itu meluncur tulus dari hatiku.
Arka menatapku dengan mata berbinar seolah tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja aku lontarkan. Matanya terus menatapku seolah memintaku mengulang kata-kata tadi. Aku hanya mampu tersenyum tersipu. Rasanya seperti baru pertama kali jatuh cinta. Aku tidak tahu pasti kapan rasa ini tumbuh tapi rasanya lebih bahagia dan nyaman berada di samping orang yang kita cintai dalam keadaan apapun. Tidak ada kata yang mampu mengungkapkan setiap detail perasaanku. Tanpa banyak kata, aku menyandarkan kepalaku di dada Arka dan menikmati kecupan di puncak kepalaku.
Kami akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah saja karena aku juga merasa sedikit lelah dan aku juga harus lebih berhati-hati karena kandunganku kadang-kadang masih mengeluarkan flek bahkan darah segar kalau aku terlalu banyak bergerak dan kecapekan. Pasti Aahva juga akan sangat senang karena ditemani oleh kedua orangtuanya walau hanya bermain di rumah. Rasanya hari ini sangat membahagiakan karena merasa keluargaku utuh. Dan tiba-tiba aku memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Untuk urusan butik dan usaha konveksi aku percayakan saja pada Rayi karena sudah sejak dulu memang begitu. Mungkin Ella akan aku angkat menjadi pegawai tetap dan aku serahkan urusan desain padanya. Aku sudah cocok dengan cara kerja Ella yang antusias dan semangat dan memiliki segudang ide brilian yang tentu saja sangat membantu dalam memajukan perusahaan ku. Mungkin ini waktunya untuk aku fokus pada rumah tanggaku. Aku lalu mengutarakan keinginanku pada Arka. Walaupun awalnya Arka keberatan tapi akhirnya dia setuju juga dengan keinginanku. Selain untuk menjaga kehamilanku yang memang sangat berisiko, Arka juga akan sangat senang kalau aku selalu di bawah pengawasan Mbok Welas yang secara tidak langsung jadwal makan dan istirahatku akan terjaga dengan baik. Sebenarnya aku bisa saja mengerjakan semua dari rumah seperti yang selama ini aku lakukan dan hanya sesekali berkunjung ke butik. Iya aku masih membiarkan kantor dan butik berada di satu gedung walaupun sebenarnya butikku perlu tempat yang lebih luas lagi. Aku juga sudah sebuah ruko untuk aku jadikan gudang walau nyatanya itu juga masih kurang. Bisa dikatakan bahwa saat itu usahaku sedang berada di puncak kejayaan dengan omset yang bisa dikatakan fantastis. Apalagi pasarku sudah masuk untuk usia remaja dan sebenarnya aku ada rencana untuk masuk ke fashion anak-anak bahkan berniat untuk membuat seragam untuk sekeluarga.
__ADS_1
...****************...
“Kowe wis yakin?” tanya Rayi saat aku mengutarakan keinginanku
“Yakin dong Ra,” jawabku mantap
“Bukan karena terbawa emosi semata?” lanjut Rayi seolah meragukan.
“Semua sudah aku pikirkan,” kataku mempertegas
"Ayolah, Ra. Aku cuma perlu dukunganmu," aku berusaha menghindari perdebatan dengannya.
__ADS_1
“Ya paling tidak kamu masih harus kerja sebulan dua bulan lagi untuk hand over,” jelas Rayi
Aku akhirnya akur dengan permintaan Rayi. Memang aku tidak bisa langsung lepas tangan begitu saja tapi aku juga harus memantau sampai semua benar-benar bisa berjalan diluar kendaliku. Aku juga harus menyesuaikan diri dengan keadaan dan ada beberapa tender proyek yang memang harus aku tuntaskan sendiri dan aku berencana memulai saat ini juga dan sebisa mungkin segera aku selesaikan dari rumah dan mulai membuat janji untuk bertemu besok dengan buyer yang menurutku memiliki prospek yang bagus. Dan ku awali dengan file pertama dan lumayan mengagetkanku.
"ini perusahaan keluarganya Awan ya, Ra?" tanyaku pada Rayi yang sibuk memilih file yang akan dilaporkan padaku.
"Mosok?' tanya Rayi dengan nada tidak yakin.
'Sepertinya iya," kataku sambil berusaha fokus pada kontrak penjualan
"Tapi kemarin aku ketemuannya sama Bu Niken, Kas," kata Rayi masih berusaha menyangkal
__ADS_1
"Ya pasti karyawannya dong Ra, masak hal sepele kayak gini harus Awa yang turun tangan," akhirya meninggi juga nada bicaraku yang kami akhiri dengan tawa.
Aku kemudian meminta Rayi untuk menghubungi seseorang yang tadi disebutnya bernama Bu Niken untuk bisa bertemu besok dan menandatangani kontrak penjualan ini. Tidak perlu menunda-nunda semakin cepat aku selesaikan semuanya rasanya akan semakin baik. Aku sudah tidak sabar untuk berbakti pada suami dan anak-anakku.