MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 108


__ADS_3

"Papa dan aku, terpaksa menyerahkan Mas Adit ke polisi," kata Arka yang membuat seisi ruangan tak berkedip menatapnya.


"Kok bisa?" tanya Bu Gendis dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


"Saat ini itu satu-satunya jalan ma," kata Arka mempertegas perkataannya.


Selain untuk mengamankan aku dan Fiona dari tindakan nekad Aditya. Aditya juga harus diberi pelajaran. Ternyata Aditya tidak hanya bermasalah dengan keluarganya, tetapi dengan beberapa rekan bisnis Pak Surya dan masuk dalam kasus penipuan. Pak Surya sendiri merasa bingung dengan keserakahan Aditya. Tapi pada dasarnya, Aditya kurang memiliki kemampuan untuk mengelola perusahaan. Semua uang yang ada masuk habis digunakan untuk kepentingan pribadi yang tidak jelas juntrungannya. Dia seolah tidak pernah peduli dengan nasib perusahaan dan karyawan yang menggantungkan nasibnya di sana. Banyak kewajiban perusahaan yang tidak dibayarkan walaupun bagian keuangan sudah membuatkan daftarnya. Kalau hal ini terus berlanjut, perusahaan bisa terancam pailit bahkan bisa sampai dilikuidasi. Hal itu bahkan sudah terjadi pada salah satu perusahaan keluarga Fiona yang dipimpin oleh Aditya dan mengakibatkan mereka dimusuhi oleh hampir seluruh anggota keluarga dan memaksa Aditya kembali ke sini. Bukannya menjadikan hal itu sebagai pelajaran yang berharga, Aditya malah melakukannya lagi pada perusahaan yang dipercayakan keluarga padanya.


"Arka, you tolong kasi settle lah semua," kata Fiona berpendapat.


"Nggak bisa kak, itu sudah sepenuhnya jadi hak Mas Adit," jawab Arka dengan senyum tertahan.


"Why? " Fiona masih heran karena Arka menolak permintaannya.


"Biar papa aja yang atur kak," kata Arka.

__ADS_1


Kemudian Arka berjanji akan mengurus kepulangan Fiona kalau memang itu sudah menjadi keputusannya yang bulat. Eurika dan Edna juga harus segera masuk sekolah karena liburan sekolah mereka sudah hampir selesai. Tahun ajaran baru di sana di mulai di awal tahun, tidak seperti di sini yang dimulai pada pertengahan tahun. Tapi Arka akan mengatur semua setelah masalah Aditya di kepolisian selesai. Ini bukan hanya antara Pak Surya, Aditya dan Arka tapi juga menyangkut kepentingan banyak pihak sehingga membutuhkan waktu beberapa lama.


Hampir seminggu menjalani mediasi, akhirnya Aditya dibebaskan dengan syarat dia harus menyelesaikan semua kewajiban perusahaan yang tertunda. Pak Surya menutup semua kebobrokan keuangan dengan susah payah dan tidak membiarkan Aditya untuk memimpin perusahaan lagi. Arka juga menolak saat Pak Surya memintanya kembali bekerja di sana namun Arka menolak untuk menghindari konflik dengan Aditya dan dia mulai fokus mengembangkan resort dan Villa di pegunungan serta beberapa restoran dan bisnis yang dibangunnya sendiri.


Bukannya memperbaiki diri dan berkelakuan lebih baik. Aditya malah tidak jelas arah hidupnya. Semakin larut dalam kehidupan malam dan dunia prostitusi membuat hidup Aditya semakin tidak jelas arahnya. Bahkan Aditya benar-benar tidak mengindahkan keberadaan istri dan anak-anaknya yang memperkuat tekad Fiona untuk kembali ke keluarganya dan sesuai janjinya, Arka mengurus kepulangan Fiona dan anak-anaknya kembali ke Malaysia .


...****************...


"Terus, kita mau di Villa sampai kapan mas?" tanyaku setelah kami mengantar Fiona dan anak-anaknya ke bandara.


"Kamu nggak betah tinggal di situ?" tanya Arka.


"Kita kan tidak berburu dan meramu," kata Arka yang mengimbangi otak miringku.


"Mas belum jawab," kataku merengek manja.

__ADS_1


"OK, kita jalani prosedur bayi tabung, setelah itu kamu hamil dan melahirkan sampai kamu bosen baru kita pindah lagi," kata Arka.


Aku hanya mampu diam dan memandang Arka dengan senyum. Rayi saja sudah hamil dua bulan. Sedangkan aku program kehamilan sampai saat ini belum ada hasil. Bukannya menyalahkan keadaan, tapi pada faktanya kedatangan Aditya memang membuat program hamilku tertunda. Terakhir aku bertemu Aditya saat rapat di kantor pusat untuk membereskan semua kekacauan yang terjadi dan dia menatapku seperti harimau yang ingin menerkam mangsanya. Dan setelah itu aku tidak pernah kembali ke rumah sehingga kami tidak bertemu lagi. Menurut nyinyiran Mbok Welas, Aditya seperti itu karena penyakit keturunan karena pada awalnya Pak Surya adalah kekasih Bu Gendis, namun karena termakan fitnah dan rayuan dari Bu Alleya akhirnya Pak Surya memutuskan untuk meninggalkan Bu Gendis dan menikahi Bu Alleya. Pada saat menjelang melahirkan dan Bu Alleya merasa waktunya sudah dekat, dia menyesali perbuatan curangnya dan meminta Pak Surya menikahi Bu Gendis untuk menebus semua kesalahannya. Tapi aku tidak menanggapi berlebihan, itu masa lalu Pak Surya dan Bu Gendis.


Ponsel Arka bergetar dan membuyarkan lamunanku. Itu telepon dari Bu Gendis yang mengatakan kalau Aditya mengalami kecelakaan tunggal saat mengemudi dalam keadaan mabuk. Kami segera putar balik dan menuju ke rumah sakit yang disebutkan oleh Bu Gendis. Fiona pasti masih dalam penerbangan sehingga tidak bisa dihubungi. Kalaupun bisa dihubungi, pasti Fiona tidak akan bisa segera kembali ke sini. Aku terus berhubungan dengan Bu Gendis karena perjalanan kami untuk ke lokasi rumah sakit itu memakan waktu kurang lebih satu jam. Bu Gendis mengatakan bahwa Aditya dalam keadaan tidak sadar karena kehilangan banyak darah dan membutuhkan transfusi darah. Hanya saja Aditya bergolongan darah AB dan memang sulit untuk mencari donor darah.


"Aku O ma," jawabku saat Bu Gendis berharap kalau kami memiliki golongan darah yang sama.


"Ya sudah, Arka, papa, mama juga O. Minta tolong nduk siapa tahu ada teman atau kenalan kalian yang bisa bantu," kata Bu Gendis sebelum mengakhiri panggilan.


Aku mulai menghubungi semua orang yang ada di kontak ponselku. Ada yang punya golongan darah AB tapi dia tinggal di luar pulau. Bahkan konyolnya ada beberapa yang tidak tahu golongan darahnya. Aku juga mencoba menghubungi dari semua kontak yang ada di ponsel Arka namun hasilnya juga masih nihil padahal kami sudah masuk ke parkiran rumah sakit. Ternyata dari PMI hanya ada satu kantong darah dan kemungkinan Aditya membutuhkan lebih dari satu kantong sedangkan proses transfusi membutuhkan waktu kurang lebih empat jam.


"Mungkin Edna atau Eurika punya golongan darah yang sama," kataku di tengah keputusasaan.


"Mungkin golongan darah Mas Aditya sama dengan mama Alleya," bisik Arka padaku.

__ADS_1


"Alleya golongan darahnya juga O. Saat hamil HB nya sangat rendah sehingga dia butuh transfusi darah dan papa yang menjadi pendonornya," jawab Bu Gendis.


Aku dan Arka saling pandang mata kami seolah menanyakan hal yang sama. Aditya dapat golongan darah AB dari mana sedangkan mama dan papanya bergolongan darah O? Tiba-tiba Bu Gendis seperti tersentak dan memandang kami. Mungkin dia baru sadar akan hal itu dan timbul tanya yang sama dengan yang ada di benakku.


__ADS_2