
"Papa mama di rumah," kata Arka saat mobil sudah masuk ke jalan raya.
"Lalu? Memangnya kenapa?" tanyaku belum mengerti maksud Arka.
'Ya, kalau mereka tahu kita tidur terpisah bisa bahaya. Apalagi sampai kamu nginep di rumahmu, nanti dikira kita bertengkar dan nggak bahagia," kata Arka menjelaskan.
Arka lalu bercerita, kalau orang tuanya memang membawa kunci rumah sehingga kapan saja bisa mampir tanpa harus menunggu dia ada di rumah atau tidak. Tadi, sebelum sampai di rumah di melihat orang tuanya baru saja akan masuk ke dalam rumah sehingga Arka memutuskan untuk putar balik dan menjemputku pulang sehingga seolah kami pergi berdua.
"Kamu nanti jangan manggil aku Arka ya," katanya membuat aku bingung.
"Terus?" tanyaku
"Ya bagaimana selayaknya istri manggil suami," kata Arka sambil berpikir keras.
"Su aja...suami, ya su?" kataku asal aja.
"Heh, kita ni orang Jawa su itu bisa salah arti jadi njing," kata Arka sambil tertawa.
"Iya deh, dik," kataku lagi.
"Kamu nih kalau abis main sama Rayi jadi nggak bener gini," kata Arka sambil menepuk lembut kepalaku.
Entah mengapa,setiap kali Arka menyentuhku, rasanya bergetar sampai ke hati. Seperti kesetrum voltase kecil gitu. Dan spontan aku pasti tersipu namun aku berusaha menutupinya. Perlahan aku mulai merasa nyaman berada di dekat Arka. Terbukti bahwa aku sudah berani memulai candaan dengannya.
Kami tiba di rumah dan disambut hangat oleh Bu Gendis, Pak Surya sedang menonton berita dan aku menyalami kedua mertuaku itu. Arka masih belum masuk juga ke dalam rumah sedang Bu Gendis seperti celingukan mencari sesuatu.
"Mas Arka masih di luar ma, nurunin barang-barang," kataku menjelaskan. Ku pilih memanggilnya mas seperti yang diajarkan oleh ibuku.
"Ya, kita tungguin Arka ya, mama papa mau bicara," kata Bu Gendis sambil mengusap pipiku.
"Kalau begitu biar saya bantuin Mas Arka dulu ya Bu, supaya cepat," kataku kemudian keluar menemui Arka yang sudah siap dengan koper dan kardus.
__ADS_1
Aku membantunya membawa barang bawaan ke dalam kamar Arka karena kamarku dipakai oleh mertuaku yang akan menginap di sini. Arka lalu mandi sebentar sementara aku hanya cukup ganti pakaian dan menemui mertuaku di ruang tamu. Kami berbincang ringan sambil menunggu Arka selesai mandi.
Entah mengapa, malam ini Arka sangat wangi tidak seperti biasanya. Biasanya tiap malam sehabis mandi, dia tidak pernah memakai parfum. Sisa air masih menetes dari ujung rambutnya dan di mataku dia terlihat sangat seksi. Kenapa mataku selalu memuja pesona Arka. Mungkin ini yang dimaksud Rayi dengan penyebab 95 persen kaum hawa di dunia ini iri padaku. Arka duduk sangat dekat denganku sampai rasanya separuh punggungku menempel di dadanya bahkan napasnya terasa di tengkukku.
"Kenapa kalian tidur terpisah?" tanya Bu Gendis dengan nada penuh tekanan.
Ternyata kekhawatiran Arka dari awal benar adanya. Aku heran bagaimana Bu Gendis bisa tahu, padahal selama ini hanya ada aku dan Arka di rumah ini. Bisa saja merek menyewa mata-mata untuk memantau dan mengawasi kegiatan kami atau mungkin ada CCTV tersembunyi di rumah ini sehingga Bu Gendis bisa tahu setiap gerak-gerik kami.
"Kalau barang Kasih di kamar Arka, kamar jadi sempit ma, Arka nggak nyaman," kata Arka dan aku paham sekarang.
Memang selama ini kami tidur terpisah sehingga semua baju, peralatan make up serta semua keperluan pribadiku tidak berada di satu kamar yang sama sehingga sangat mudah menyimpulkan kalau kami pisah kamar.
"Yakin?" tanya Bu Gendis penuh keraguan
"Ya ampun, susah kalau ngomong sama mama," kata Arka sambil tangannya memainkan ujung rambutku.
"Terus kenapa Kasih kesannya canggung gitu dekat kamu, kelihatan nggak nyaman," tanya Bu Gendis sambil menatapku tajam dan aku seperti mendapat kuis dadakan seketika gugup dan bingung.
"Karena mama di sini aja," kata Arka seolah membelaku namun melimpahkan semua kesalahan pada Bu Gendis.
"Kok jadi begitu," kata Bu Gendis tidak terima.
"Ya jelas dong ma, Kasih itu canggung sama mama, belum dekat sama mama, sungkanlah manja-manja di depan mama. Bagus dong, berarti dia punya unggah ungguh," kata Arka dengan bangga sambil dagunya ditempelkan di bahuku.
"Sudah papa bilang, kita nggak usah ke sini. Jadinya malah ganggu adik," kata papa yang sejak tadi diam.
Akhirnya Bu Gendis menyerah menyelidiki lebih lanjut walaupun dari matanya masih tersirat keraguan yang sangat besar. Pasti masih ada banyak pertanyaan yang ingin diajukan olehnya namun melihat sikap anak dan suaminya, Bu Gendis lebih memilih untuk mengalah dan tidak melanjutkan semuanya.
"Papa sudah ngantuk, ayo ma kita tidur. Sudah jangan gangguin mereka lagi," ajak Pak Surya sambil menggandeng tangan Bu Gendis kemudian masuk ke dalam kamar.
Aku dan Arka kemudian masuk ke kamar. Aku sangat mengantuk namun masih bingung harus tidur di mana. Namun, sepertinya Arka sangat bisa membaca kebingunganku.
__ADS_1
"Kamu tidur aja di kasur, kalau aku gampang," katanya sambil menguap sangat lebar tanpa ditutupi.
"Harusnya nggak masalah kalau kita berbagi kasur. Tempat tidurnya juga lumayan besar, rasanya pasti cukup untuk berdua" kataku sambil duduk di ujung kasur dan sebenarnya sudah tidak bisa menahan kantuk.
Sedikit ragu aku berbaring di kasur dan memakai selimut karena AC di kamar ini terasa dingin tapi aku tidak berani meminta untuk menaikkan suhunya. Namun lumayan juga aku bisa merasakan nikmatnya melepas lelah, perlahan ku pejamkan mata dan terasa Arka juga naik dan tidur di sisi lain. Dia meletakkan guling di antara kami sebagai pembatas supaya aku merasa aman dan aku tidur memunggunginya. Aku semakin yakin kalau Arka memang lelaki baik, padahal dia suamiku dan berhak penuh atas diriku, tapi dia bersikap seolah kami memang harus menjaga jarak demi memenuhi keinginanku.
"Mas," aku membuka mulutku dan berharap Arka belum tidur.
"Mas," kataku lagi namun hening dan tidak ada jawaban.
"Mas udah tidur ya? Ya udah, selamat tidur mas, semoga besok kita lebih baik lagi," kataku kemudian memejamkan mata.
"Kamu manggil aku mas?" tanya Arka dan membuatku mengurungkan niat untuk menutup mata.
"Iya, biar terbiasa punya panggilan yang baik dengan suami," kataku menjawab namun tidak juga membalikkan badanku.
"Baiklah cint," jawab Arka
"Kamu jangan panggil aku cint dong, kayak banci salon langganan ku sama Rayi," tolakku keberatan.
"Kalau 'seng' gimana? Kayak di tiktok itu lho," usul Arka lagi.
"Oseng-oseng?" balasku lagi sambil cekikikan.
"Ya udah panggil HEI aja, udah jangan kebanyakan protes. Harus nurut," kata Arka dengan nada ngambek yang manja.
"Ya udah, sekarang kamu maunya apa?" tanyaku sambil menahan tawa.
"Aku? Aku mau tidur sambil meluk kamu. Itupun kalau kamu izinin dan kamu harus rela dan ikhlas. Walau itu entah kapan," katanya.
Aku menahan napasku dan hanya diam membatu. Apa aku harus pura-pura tidak mendengar atau apa aku perlu berpura-pura tidur untuk menghindari keinginannya yang sebenarnya sangat mudah bagiku untuk memenuhinya. Ku eratkan selimut menutup sempurna tubuhku. Aku harus apa?
__ADS_1